Menjelang perundingan perdagangan antara pejabat PKT dan Eropa di Beijing untuk mencegah pecahnya perang dagang, pada 7 Oktober Parlemen Eropa meloloskan sebuah “Rekomendasi Kebijakan terhadap Tiongkok” dengan suara mayoritas mutlak. Rekomendasi tersebut menyerukan kebijakan yang lebih tegas dalam bidang ekonomi dan perdagangan, geopolitik, serta batas-batas keamanan, demi melindungi kepentingan Eropa.
EtIndonesia.com Pada Rabu (7/10/2026), Parlemen Eropa meloloskan Recommendation on EU-China Political Relations (Rekomendasi Hubungan Politik Uni Eropa–Tiongkok) dengan hasil pemungutan suara 454 suara mendukung, 86 menolak, dan 110 abstain.
Dokumen tersebut menyatakan bahwa hubungan bilateral Eropa–Tiongkok telah mencapai titik kritis akibat praktik perdagangan tidak adil Partai Komunis Tiongkok (PKT) serta sikapnya terhadap perang Rusia–Ukraina. Karena itu, Uni Eropa perlu merumuskan kebijakan terhadap PKT yang lebih tegas dan berprinsip untuk melindungi kepentingan Eropa.
Di bidang ekonomi dan perdagangan, rekomendasi tersebut secara langsung menyoroti kelebihan kapasitas produksi Tiongkok, subsidi pemerintah, serta pembatasan akses pasar yang dinilai sebagai “ancaman eksistensial” bagi perekonomian Uni Eropa. Industri kendaraan listrik Tiongkok juga secara khusus disebutkan.
Para anggota parlemen menuntut terciptanya lingkungan perdagangan dan investasi antara Eropa dan Tiongkok yang berlandaskan prinsip timbal balik serta persaingan yang adil. Mereka juga mendesak agar tindakan segera diambil untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada Tiongkok dalam sektor-sektor strategis, termasuk bahan baku penting, obat-obatan, baterai, kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi komunikasi.
Untuk mencegah pecahnya perang dagang, Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maroš Šefčovič, mulai 8 Oktober mengadakan konsultasi dan perundingan dengan pejabat PKT di Beijing. Rekomendasi tersebut disahkan sehari sebelum perundingan dimulai.
Su Tzu-yun, Direktur Divisi Strategi dan Sumber Daya di Institut Penelitian Keamanan Pertahanan Nasional Taiwan, menilai bahwa langkah ini merupakan cara Uni Eropa menunjukkan sikapnya.
“Komisaris Uni Eropa mewakili badan eksekutif, sedangkan Parlemen Eropa mewakili lembaga legislatif dan suara rakyat. Karena itu, keputusan ini memberikan dukungan kuat bagi komisaris Uni Eropa. Bagi Beijing, keputusan tersebut juga memperlihatkan pandangan masyarakat Eropa secara keseluruhan,” ujarnya.
“Beijing harus memahami bahwa meskipun badan eksekutif Uni Eropa memiliki wewenang untuk menandatangani perjanjian terkait atau menangani berbagai urusan, mereka sama sekali tidak akan mengabaikan opini publik. Oleh sebab itu, posisi komisaris Uni Eropa dalam berunding dengan Beijing akan menjadi lebih teguh,” katanya.
Di bidang geopolitik, rekomendasi tersebut menyebut PKT sebagai “faktor penentu yang memungkinkan perang Rusia–Ukraina terus berlangsung” serta pemasok terbesar Rusia untuk barang-barang yang dapat digunakan bagi keperluan militer maupun sipil.
Para anggota parlemen menyatakan keprihatinan mendalam terhadap laporan bahwa militer PKT melatih pasukan Rusia untuk ikut bertempur. Mereka mendesak Uni Eropa bekerja sama dengan negara-negara G7 dan Amerika Serikat untuk menekan Tiongkok agar memberikan tekanan kepada Rusia demi mengakhiri perang Rusia–Ukraina.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Eropa–Tiongkok di masa mendatang mungkin akan semakin erat terkait dengan perkembangan perang Rusia–Ukraina.
“Saat ini, negara-negara Eropa secara keseluruhan mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok. Situasi ini bahkan secara tidak langsung turut memicu kerusuhan di dalam negeri Prancis,” kata Su Tzu-yun.
“Dalam kondisi seperti ini, jika Eropa merasakan bahwa ancaman dari Rusia semakin besar, bahkan sampai mempertimbangkan untuk kembali menambah pasukan dan meningkatkan anggaran pertahanan, maka Beijing harus memahami konsekuensinya,” ujarnya.
“Jika Beijing terus membiarkan, bahkan mendukung, tindakan ekspansionis Rusia, Eropa mungkin akan mengambil langkah-langkah balasan,” katanya.
Selain itu, rekomendasi tersebut secara tegas menentang segala tindakan yang menggunakan ancaman kekuatan untuk mengubah status quo di Selat Taiwan secara sepihak. Dokumen itu juga mendesak Uni Eropa dan mitra-mitra demokrasinya untuk memperkuat koordinasi, termasuk mempertahankan kehadiran angkatan laut di Selat Taiwan dan mengadakan latihan militer bersama.
Ini merupakan pertama kalinya Parlemen Eropa mengusulkan secara begitu jelas kehadiran militer di Selat Taiwan dalam dokumen resminya.
“Ini merupakan kecenderungan yang tidak dapat dihindari. Opini publik di Eropa pada dasarnya menentang upaya PKT memperluas kekuasaannya serta menekan Taiwan,” ujar Su Tzu-yun.
“Meskipun badan eksekutif Eropa belum secara resmi mengambil tindakan dalam sikap diplomatiknya, Parlemen Eropa—yang mewakili opini publik Eropa—telah mendukung resolusi ini dengan mayoritas suara yang sangat besar. Beijing harus secara rasional mempertimbangkan dampak lanjutan yang akan ditimbulkan oleh keputusan ini,” katanya.
Rekomendasi tersebut juga menyerukan penguatan pertahanan terhadap serangan siber, campur tangan asing, kegiatan spionase, dan ancaman hibrida. Selain itu, Uni Eropa diminta untuk terus menekan PKT terkait persoalan hak asasi manusia.
Lan Shu, komentator urusan terkini yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan: “Kesepakatan kebijakan terhadap Tiongkok yang dicapai negara-negara Eropa kali ini, khususnya dalam persoalan ekonomi, perdagangan, dan keamanan, dapat dikatakan sebagai sebuah langkah maju yang besar.
“Kami berharap negara-negara Eropa dapat segera dan secara menyeluruh menyadari ancaman serius yang ditimbulkan PKT terhadap seluruh dunia bebas. Mereka perlu menyelesaikan transformasi kebijakan terhadap PKT sesegera mungkin.”
Meskipun rekomendasi tersebut tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, dokumen itu akan diserahkan kepada berbagai lembaga Uni Eropa. Dalam sistem perumusan kebijakan Uni Eropa, rekomendasi tersebut diperkirakan akan memainkan peran penting sebagai “penunjuk arah strategis” dan panduan bagi pembentukan undang-undang.
Shang Yan/Chang Chun/Shao Yang


