Misteri Dugaan Wabah Pes di Rusia! Ibu Korban yang Anaknya Tewas Bongkar Kejanggalan, Tabung Reaksi Tak Mungkin Pecah Saat Terjatuh

Misteri dugaan wabah pes paru-paru di Rusia terus berkembang. Pada Kamis (8/10/2026), New York Post menerbitkan laporan eksklusif yang mengutip pernyataan ibu dari Shipilova, seorang perempuan yang meninggal dunia. Sang ibu secara terbuka membantah bahwa putrinya terinfeksi akibat memecahkan tabung reaksi. Ia menduga ada penyebab lain di balik kematian putrinya.

Selain itu, beredar kabar bahwa masyarakat di Mongolia, yang berbatasan dengan Rusia, serta wilayah timur laut Tiongkok dilanda kepanikan. Warga disebut mulai memborong dan menimbun makanan, obat-obatan, serta perlengkapan pencegahan penyakit dalam jumlah besar.

EtIndonesia.com Menurut keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Jumat pekan lalu, 2 Oktober, seorang pekerja laboratorium di sebuah lembaga penelitian dan pengendalian pes di Irkutsk, Rusia, diduga terinfeksi pes paru-paru dan kemudian meninggal dunia. Laporan media pada awalnya menyebutkan bahwa ia mungkin tertular setelah secara tidak sengaja terpapar patogen di laboratorium.

Setelah insiden tersebut, otoritas Rusia dengan cepat mengisolasi sekitar 200 orang yang pernah melakukan kontak dengan korban. Selanjutnya, sejumlah media Barat mengutip laporan media Rusia yang menyebutkan kemungkinan adanya kasus kematian kedua di wilayah tersebut. Kabar ini pun menarik perhatian besar masyarakat internasional.

“WHO telah meminta Rusia untuk memberikan informasi tambahan, termasuk pemeriksaan laboratorium apa saja yang dilakukan terhadap korban dan orang-orang yang pernah melakukan kontak dengannya, alasan otoritas mengambil langkah-langkah kesehatan masyarakat terkait, serta kondisi kesehatan terkini para kontak tersebut,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. 

“Kami juga meminta Rusia memverifikasi laporan media untuk memastikan apakah ada pekerja kedua yang menderita pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui,” jelasnyua. 

Pada 8 Oktober, otoritas Rusia kembali membantah adanya kasus kedua. Mereka menyatakan bahwa hampir 5.000 sampel telah diperiksa dan tidak ditemukan patogen berbahaya.

Pihak Rusia juga mengklaim bahwa korban telah menerima vaksin sebelum meninggal dunia. Hasil penyelidikan, menurut mereka, juga tidak menemukan adanya insiden keselamatan di laboratorium.

Namun, hingga kini, pihak Rusia belum menjelaskan patogen apa yang sebenarnya merenggut nyawa perempuan muda tersebut. Hal ini membuat masyarakat internasional terus mempertanyakan kebenaran keterangan resmi dan transparansi informasi dari pemerintah Rusia.

Yang lebih menarik perhatian adalah laporan eksklusif New York Post mengenai ibu korban, Daria Shipilova, yang bernama Svetlana dan juga berprofesi di bidang medis. Ia dengan tegas membantah bahwa putrinya terinfeksi akibat tidak sengaja memecahkan tabung reaksi yang berisi patogen mematikan.

Ia menegaskan bahwa wadah di laboratorium dilindungi dengan sangat ketat dan tabung reaksi yang berisi patogen dibuat dari bahan yang sangat kuat sehingga tidak mungkin mudah pecah.

Dengan penuh kesedihan, ia menuduh: “Mereka membiarkan putri saya meninggal begitu saja.”

Pada saat yang sama, sejumlah pakar mempertanyakan apakah, jika korban memang terinfeksi pes, strain bakteri penyebabnya mungkin telah dimodifikasi oleh manusia, atau bahkan berkaitan dengan penelitian senjata biologis.

Mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, menyatakan bahwa jika terjadi kebocoran patogen di laboratorium, prosedur normal mengharuskan pemberian antibiotik segera.

Ia menduga bahwa apabila bakteri tersebut telah dimodifikasi sehingga memiliki resistansi terhadap antibiotik, hal itu mungkin dapat menjelaskan mengapa pengobatan tidak berhasil.

Menanggapi berbagai pertanyaan dari masyarakat internasional, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia berencana berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menanyakan situasi tersebut.

Trump juga menyatakan bahwa Rusia sejauh ini hanya memberikan sedikit informasi. Meskipun pihak Rusia mengklaim situasi telah sepenuhnya terkendali, Amerika Serikat tetap ingin memperoleh lebih banyak data.

Sementara itu, Mongolia, negara yang berbatasan langsung dengan Rusia, telah memperketat pemantauan kesehatan di wilayah perbatasannya. Di internet juga beredar kabar bahwa sejumlah warga setempat mulai berbondong-bondong membeli obat-obatan untuk mencegah pes.

Kepanikan serupa juga muncul di wilayah timur laut Tiongkok. Di media sosial, sejumlah warganet Tiongkok menyerukan agar penduduk di Heilongjiang, Jilin, dan Liaoning segera menimbun masker, perlengkapan pelindung, obat penurun demam, serta antibiotik.

Bahkan, beredar rumor bahwa pemerintah setempat mungkin akan memberlakukan karantina wilayah atau lockdown.

Laporan gabungan Liu Jiajia, NTD.

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh.Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi.Walker LarsonSaya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine