EtIndonesia.com Pada Kamis, 8 Oktober, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan penghargaan kepada enam tokoh terkemuka di industri kecerdasan buatan (AI), termasuk Elon Musk dan Jensen Huang. Ia juga mengumumkan rencana pengembangan teknologi senilai US$6 miliar.
Selain itu, Departemen Kehakiman AS juga menambahkan dakwaan baru terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, yakni bersekongkol melakukan penyiksaan. Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance dan Departemen Tenaga Kerja mengumumkan langkah besar untuk menindak penyalahgunaan visa kerja H-1B dan J-1. Mereka juga mengumumkan pencabutan kelayakan perusahaan teknologi informasi (TI) besar, seperti Microsoft, untuk mengajukan visa kerja dan kartu hijau (green card).
Berikut laporan dari wartawan Gedung Putih NTD, Tao Ming dan Li Jiayin.
Pasangan Maduro Diduga Terlibat Kejahatan Penyiksaan dan Penganiayaan, Departemen Kehakiman AS Tambahkan Dakwaan Baru
Wartawan NTD, Tao Ming, melaporkan: “Hari ini, Departemen Kehakiman AS menambahkan dakwaan pidana baru terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, yaitu bersekongkol melakukan penyiksaan terhadap lawan politik dan warga negara Amerika Serikat. Selain itu, hakim menolak permohonan pembebasan praperadilan yang diajukan istri Maduro.”
Jaksa menyatakan bahwa pada 2013, Maduro pernah menyetrum dan menggantung seorang perwira militer Venezuela yang dicurigainya merencanakan kudeta.
Pada 2022, seorang warga negara AS ditahan ketika memasuki Venezuela dan dituduh bersekongkol untuk membunuh Maduro. Ia tidak hanya dipukuli, tetapi juga disetrum pada lengan, kaki, dan alat kelaminnya.
Pengacara Maduro belum memberikan tanggapan atas dakwaan baru tersebut. Jika terbukti bersalah, pasangan Maduro menghadapi hukuman penjara wajib sekurang-kurangnya 50 tahun.
Sementara itu, pengacara istri Maduro mengajukan permohonan pembebasan dengan alasan bahwa kliennya perlu menjalani operasi jantung. Hakim menolak permohonan itu pada hari ini dan menyatakan bahwa kondisi perempuan tersebut tampak jauh lebih baik dibandingkan saat sidang perdana sebelumnya.
Trump Beri Penghargaan kepada Tokoh AI, Umumkan Investasi US$6 Miliar di Bidang Teknologi
Pada 8 Oktober, Presiden Trump menghadiri KTT “Era Keemasan Baru” (New Golden Age Summit).
Ia menganugerahkan Medali Sains Nasional AS kepada CEO SpaceX Elon Musk, salah satu pendiri Google Sergey Brin, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO Advanced Micro Devices (AMD) Lisa Su.
Sementara itu, CEO Dell Technologies Michael Dell dan CEO Microsoft Satya Nadella menerima Medali Nasional Teknologi dan Inovasi AS.
Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Kita hidup di era yang dipenuhi keajaiban Amerika dan keajaiban teknologi. Dengan bantuan tokoh-tokoh luar biasa yang hadir di sini hari ini, kita akan terus menjadi yang terdepan.”
Pada hari yang sama, Trump juga meluncurkan program investasi sains senilai lebih dari US$6 miliar. Program ini bertujuan membekali para ilmuwan Amerika dengan kecerdasan super, menemukan talenta terbaik dan paling cerdas, serta menghidupkan kembali misi penelitian berskala nasional.
AS Perketat Penindakan Penipuan Visa Kerja, Microsoft Kehilangan Kelayakan Mengajukan Visa H-1B dan Green Card
Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan langkah-langkah untuk menangani penipuan dan penyalahgunaan visa kerja kategori H-1B dan J-1.
Ia mengkritik sejumlah perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing dengan upah murah sekaligus memecat pekerja Amerika. Menurutnya, praktik tersebut bertentangan dengan tujuan awal visa H-1B, yaitu mempertahankan tenaga kerja asing berketerampilan tinggi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan: “Tahun lalu, Microsoft memberhentikan 6.000 karyawan Amerika. Namun, pada saat yang sama, perusahaan itu memperoleh 6.300 visa H-1B dan hampir 3.000 kartu hijau. Dengan kata lain, jika dihitung, setiap kali Microsoft memberhentikan seorang karyawan, perusahaan itu menggantikannya dengan satu setengah pekerja asing.”
Untuk menindak penyalahgunaan dan penipuan visa H-1B, Vance mengumumkan penangguhan kelayakan Microsoft, Adobe, dan sejumlah perusahaan TI besar lainnya untuk mengajukan visa H-1B dan kartu hijau.
Vance mengatakan: “Kami berharap kalian terus berkembang dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Namun, yang lebih kami harapkan adalah kalian mempekerjakan pekerja Amerika.”
Pada saat yang sama, pemerintah federal juga sedang menyelidiki dan menindak perusahaan-perusahaan alih daya yang menggunakan visa H-1B. Pemerintah juga menangguhkan kelayakan sertifikasi tenaga kerja permanen bagi sejumlah perusahaan alih daya TI terbesar di dunia.
AS Selidiki Dugaan Penipuan Visa J-1 di Harvard dan Universitas Lain, Soroti Intervensi PKT
Departemen Tenaga Kerja AS juga mengumumkan penyelidikan terhadap dugaan penipuan visa J-1 di sembilan universitas terkemuka di Amerika, termasuk Harvard dan Yale.
Inspektur Jenderal Departemen Tenaga Kerja AS, DeSposito, mengatakan bahwa surat panggilan resmi telah dikirimkan kepada kesembilan universitas tersebut dan penyelidikan sedang berlangsung.
Ia juga menegaskan bahwa penyelidikan akan secara khusus menyoroti kemungkinan campur tangan jahat Partai Komunis Tiongkok (PKT).
DeSposito mengatakan: “PKT adalah lawan yang sangat canggih dan secara aktif mengincar teknologi, kekayaan intelektual, serta kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat. Kami akan menyelidiki apakah campur tangan pihak asing, hubungan keuangan yang tidak semestinya, atau penyalahgunaan visa telah merugikan penelitian yang didanai pemerintah federal.”
Tao Ming menambahkan: “Selain itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang sedang melakukan kunjungan ke tiga negara Eropa, hari ini mendesak Portugal dan negara-negara Eropa lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada PKT dalam hal ‘bahan-bahan penting’ dan sektor lainnya. Amerika Serikat juga sedang berupaya melawan infiltrasi PKT.”
Laporan dari Gedung Putih, Amerika Serikat, oleh Tao Ming dan Li Jiayin, NTD.


