Selama libur panjang Hari Nasional Tiongkok pada 1 Oktober, wabah penyakit dilaporkan menyebar dengan cepat. Di berbagai tempat wisata, muncul kejadian pengunjung yang tiba-tiba tumbang di tempat. Pelaku usaha pemakaman mengungkapkan bahwa belakangan ini jumlah kasus kematian mendadak tanpa gejala sebelumnya di kalangan generasi kelahiran 1980-an dan 1990-an meningkat.
Seorang ahli virologi juga mengingatkan bahwa semakin sering seseorang terinfeksi, semakin besar risiko kematiannya. Karena itu, masyarakat perlu menghindari kelelahan dan olahraga berlebihan.
EtIndonesia.com Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa selama libur panjang Hari Nasional Tiongkok, sejumlah tempat wisata di berbagai daerah mengalami kejadian pengunjung tiba-tiba tumbang.
Wang, seorang warga Provinsi Hebei, mengatakan bahwa ketika ia mengikuti sebuah rombongan wisata, pemandu wisata langsung mengingatkan para peserta agar memperhatikan waktu istirahat. Pasalnya, kasus orang yang tiba-tiba jatuh dan meninggal mendadak semakin sering terjadi.
“Selama libur Hari Nasional, di banyak tempat wisata, orang-orang sedang berjalan, lalu tiba-tiba ada anak muda yang jatuh begitu saja. Setelah kita terinfeksi, kondisi fisik banyak orang sudah tidak lagi seperti sebelumnya. Bahkan berjalan-jalan di tempat wisata pun bisa melampaui batas kemampuan tubuh mereka. Pemandu wisata mengingatkan kami agar segera beristirahat ketika merasa lelah dan jangan melakukan olahraga secara berlebihan,” katanya.
Mu, seorang pekerja di bidang pemakaman di Provinsi Liaoning, mengatakan bahwa belakangan ini sebagian besar orang yang ia tangani berusia 30-an hingga 40-an tahun. Mereka sebelumnya tidak memiliki masalah kesehatan, tetapi meninggal mendadak tanpa tanda-tanda peringatan.
“Belakangan ini, termasuk sejak paruh kedua tahun lalu hingga tahun ini, banyak sekali anak muda kelahiran 1980-an dan 1990-an yang meninggal mendadak. Mereka bisa meninggal begitu saja. Belum lama ini, kami baru saja menangani seorang pria berusia 38 tahun. Ia mengalami infark miokard atau serangan jantung tanpa tanda-tanda sebelumnya. Keluarganya menangis sejadi-jadinya di rumah duka,” ujarnya.
Ahli Virologi: Risiko Kematian Meningkat Seiring Infeksi Berulang
Seorang ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang mengungkapkan bahwa menurut laporan penelitian, sejak awal tahun ini semakin banyak orang di Tiongkok yang telah terinfeksi virus COVID-19 lebih dari tiga kali. Ia memperkirakan jumlahnya mendekati separuh populasi.
Menurut Zhang, semakin sering seseorang terinfeksi, semakin besar risiko kematian. Komplikasi yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan jantung serta penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Kelelahan dan aktivitas fisik merupakan faktor berisiko tinggi yang harus dihindari.
“COVID-19 memiliki puncak penularan setiap tahun dan telah menimbulkan persoalan penyakit baru yang kompleks, yang melibatkan berbagai organ tubuh. Seberapa besar dampaknya terhadap manusia, sekarang tidak diperbolehkan untuk dibicarakan,’ ujarnya.
“Data dari garis depan menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen orang usia paruh baya dan muda tidak menunjukkan gejala. Misalnya, seseorang mungkin sudah mengalami gagal jantung selama beberapa tahap, tetapi tidak menunjukkan gejala,” jelasnya.
Zhang juga mengungkapkan bahwa data penelitian di lapangan sangat mengkhawatirkan, tetapi pihak berwenang tidak mengizinkan data tersebut dipublikasikan.
Berdasarkan penelitian itu, kerusakan tubuh pada pasien dengan kondisi berat bersifat tidak dapat dipulihkan, sementara tingkat kelangsungan hidup mereka rendah.
Penelitian tersebut juga memperkirakan bahwa pada 2026 hingga 2027, banyak orang akan meninggal dunia secara diam-diam akibat infeksi berulang yang terlalu sering. Sel T, yaitu sel kekebalan tubuh, disebut telah mendekati ambang kelelahan sehingga kemampuan sistem imun melemah. Akibatnya, penyakit ringan pun dapat dengan mudah merenggut nyawa.
“Berdasarkan hasil penelitian, jumlah orang yang meninggal di daerah pedesaan lebih banyak, jauh melampaui daerah perkotaan. Jika seseorang sudah mengalami kondisi penyakit yang berat, sangat sulit baginya untuk pulih,” ujarnya.
“Tingkat kelangsungan hidup dalam tiga bulan sangat rendah. Mereka pada dasarnya meninggal secara diam-diam, dan kematian mereka juga tidak akan dicatat sebagai kematian akibat COVID-19,” katanya.
Laporan dan wawancara oleh Xiong Bin dan Peng Xinyu, NTD.


