EtIndonesia.com Pemenang Nobel Ekonomi Paul Krugman baru-baru ini menulis bahwa Prancis menghadapi defisit fiskal yang serius dan hutangnya telah menjadi “terlalu besar untuk diselamatkan”. Kondisi ini berpotensi memicu krisis utang yang melanda kawasan euro.
Dalam tulisannya di blog pada 8 Oktober, Krugman memperingatkan bahwa beban bunga utang pemerintah Prancis terus membengkak, sementara defisit anggaran yang sangat besar terus mendorong rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat.
Saat ini, total utang Prancis mencapai 3,6 triliun euro (sekitar 4 triliun dolar AS), setara dengan 119% dari PDB. Pemerintah Prancis berencana memangkas belanja sebesar 54 miliar euro. Namun, anggaran tahun depan diperkirakan kembali melampaui batas pengeluaran Uni Eropa, sementara utang negara diproyeksikan meningkat hingga mendekati 122% dari PDB, mencetak rekor tertinggi baru.
Krugman menganalisis bahwa Prancis sangat bergantung pada sistem euro. Jika kepercayaan pasar terhadap Prancis runtuh, negara tersebut dapat dengan mudah terjerumus ke dalam lingkaran krisis yang semakin parah: investor berhenti membeli obligasi pemerintah, pemerintah menghadapi risiko gagal bayar, krisis memicu pelarian modal dalam skala besar, dan risiko gagal bayar serta suku bunga semakin melonjak.
Ia menegaskan bahwa skenario seperti ini pernah terjadi di negara-negara Eropa lainnya.
“Kita pernah menyaksikan film ini—dari 2009 hingga 2012, dimulai dari Yunani, kemudian Portugal, Spanyol, dan Italia,” katanya.
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di Eropa, Prancis kini menghadapi tantangan serius di bidang keuangan dan politik.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mendorong kebijakan penghematan dalam rancangan anggaran fiskal 2027, dengan tujuan memangkas belanja pemerintah hingga puluhan miliar euro.
Namun, langkah tersebut memicu penolakan keras dari masyarakat. Demonstrasi mahasiswa dalam skala besar pecah di berbagai wilayah Prancis sebagai bentuk protes terhadap pemangkasan anggaran pendidikan.
Akibatnya, pemerintah terjebak dalam dilema antara menghadapi “kemarahan mahasiswa” dan tekanan dari pasar modal.
Krugman menilai, “Situasi Prancis saat ini memang mengkhawatirkan. Terlebih lagi, masalah ini bukan hanya menyangkut Prancis sendiri. Sebagai anggota kawasan euro, Prancis berpotensi mengalami krisis utang yang tidak terkendali, dan krisis semacam itu dapat merusak persatuan Eropa.”
Ia menyatakan bahwa pemerintah Prancis masih terus menambah beban utangnya. Kurangnya disiplin fiskal membuat negara-negara anggota kawasan euro lainnya mungkin enggan memberikan bantuan penyelamatan kepada Prancis.
Krugman juga menunjukkan bahwa pada 2012, Bank Sentral Eropa (ECB) pernah menyatakan akan melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk menyelamatkan euro. Namun, saat itu terdapat prasyarat bahwa negara-negara Eropa selatan harus menyetujui pemangkasan belanja fiskal dalam skala besar.
Kini, jika ECB harus membantu Prancis yang terus menyimpang dari disiplin fiskal, langkah tersebut akan menjadi pertaruhan yang “sangat mahal”. Biayanya berpotensi sangat besar dan menghadapi hambatan politik yang berat.
Menanggapi peringatan Krugman, mantan Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa Prancis harus menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu untuk memulihkan kepercayaan pasar modal terhadap negara tersebut.
“Anda harus menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu agar pasar dan investor dapat diyakinkan,” ujar Trichet.
Ia menjelaskan bahwa kawasan euro memang memiliki sejumlah instrumen pertahanan, termasuk Transmission Protection Instrument (TPI) dan Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM). Namun, penggunaan instrumen penyelamatan tersebut mensyaratkan pemerintah Prancis secara aktif meminta bantuan serta menunjukkan kepada pasar bahwa mereka memiliki tekad dan rencana yang kredibel untuk memperbaiki defisit fiskal.
Sumber : NTDTV.com


