Partai Komunis Tiongkok (PKT) mulai menyelidiki uang milik para miliarder yang disimpan di luar negeri. Bahkan pendapatan investasi yang diperoleh bertahun-tahun lalu berpotensi kembali diperiksa. Batas akhir pelaporan untuk membayar kekurangan pajak adalah 22 Oktober. Kini, banyak miliarder Tiongkok sibuk menata ulang aset mereka di luar negeri, dan sebagian mempertimbangkan untuk memindahkan uang ke Amerika Serikat.
EtIndonesia.com Menurut laporan Financial Times Inggris, otoritas pajak PKT meminta sejumlah miliarder melaporkan pendapatan berupa dividen, bunga, dan penghasilan lainnya yang diperoleh melalui perwalian (trust) di luar negeri. Tarif pajak yang dikenakan adalah 20%.
Berdasarkan ketentuan tersebut, sebagian orang harus melaporkan tambahan pendapatan untuk periode 2023 hingga 2025. Namun, sumber yang mengetahui persoalan ini mengungkapkan bahwa pihak berwenang mungkin akan memeriksa pendapatan dari periode yang lebih lama, bahkan hingga sekitar tahun 2000.
Yang lebih mengejutkan para miliarder adalah bahwa uang yang ditempatkan dalam perwalian di luar negeri—yang sebelumnya mereka anggap sulit dilacak—ternyata tetap berpotensi terungkap dalam penyelidikan.
Seorang investor teknologi asal Tiongkok menduga bahwa pihak berwenang sebenarnya telah lama menguasai informasi mengenai investasi luar negeri para miliarder dan telah mempersiapkan langkah ini sejak jauh-jauh hari.
Setelah kabar tersebut beredar, banyak miliarder Tiongkok yang tinggal di Hong Kong dan Jepang mulai merasa cemas.
Yu Liangheng, seorang konsultan perwalian di Hong Kong yang khusus membantu para miliarder mengelola aset lintas negara, mengatakan bahwa setelah peraturan baru diumumkan, banyak klien langsung mendatanginya untuk meminta bantuan. Ia bahkan sibuk menangani persoalan tersebut sepanjang akhir pekan.
Shu Ping, istri Zhang Yong, pendiri jaringan restoran Haidilao, menjual saham senilai lebih dari US$350 juta pada September. Sejumlah analis menduga penjualan itu mungkin dilakukan untuk mengumpulkan dana guna membayar pajak.
Situasi serupa juga terjadi di Jepang. Seorang pengusaha perempuan asal Tiongkok yang tinggal di Tokyo mengatakan bahwa dahulu, ketika berkumpul dengan teman-temannya, mereka biasa membicarakan pembelian rumah dan pendidikan anak. Kini, pembicaraan mereka hampir seluruhnya beralih ke persoalan pajak.
Lantas, ke mana para miliarder ini berencana memindahkan uang mereka? Seorang penasihat kekayaan mengungkapkan bahwa sebagian kliennya sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan aset ke Taiwan atau Amerika Serikat.
Salah satu alasannya adalah Amerika Serikat belum secara resmi bergabung dengan Common Reporting Standard (CRS), yaitu Standar Pelaporan Bersama internasional yang didorong oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Karena itu, AS menjadi salah satu tujuan baru yang dipertimbangkan oleh sebagian para miliarder .


