EtIndonesia.com Ada pepatah yang mengatakan, “Satu apel sehari menjauhkan dokter.” Mengonsumsi apel memang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, ketika melihat apel dengan permukaan mengkilap di supermarket, mungkin Anda pernah merasa sedikit khawatir: Apakah apel-apel ini dilapisi lilin? Apakah mengkonsumsinya bisa membahayakan tubuh? Sejumlah pakar pangan dan dokter memberikan penjelasan mengenai hal ini.
Menurut laporan HuffPost, Carla L. Schwan, asisten profesor di Departemen Ilmu Gizi Universitas Georgia sekaligus pakar penyuluhan keamanan pangan, mengatakan bahwa pelapisan lilin pada apel merupakan metode pengawetan yang umum. Selama menggunakan lilin yang memenuhi standar keamanan pangan, tidak ada risiko keamanan pangan yang perlu dikhawatirkan.
Seperti buah dan sayuran lainnya, apel secara alami menghasilkan lapisan lilin tipis selama proses pertumbuhannya. Lilin alami ini berfungsi sebagai pelindung, mencegah hilangnya kelembaban dan menghalangi masuknya mikroorganisme.
Namun, setelah dipanen dan sebelum dipasarkan di supermarket, apel biasanya menjalani proses komersial seperti pencucian untuk menghilangkan kotoran dan bahan asing di permukaannya. Dalam proses ini, lapisan lilin alami apel sering kali ikut terangkat.
Salah satu tujuan pelapisan lilin buatan adalah menggantikan lapisan lilin alami yang hilang agar buah tetap segar. Karena itu, pelapisan lilin pada buah dan sayuran merupakan praktik yang lazim. Konon, sejak 1924, para produsen buah dan sayuran di Amerika Serikat telah mulai melapisi hasil pertanian mereka dengan lilin.
Lantas, apa saja bahan yang digunakan dalam lilin tersebut?
Schwan menjelaskan bahwa lilin khusus pangan biasanya berasal dari bahan alami, seperti lak yang berasal dari sekresi serangga pada daun atau lilin karnauba yang diperoleh dari daun palem Brasil. Terkadang, pedagang buah juga mencampurkan berbagai jenis lilin untuk mendapatkan keseimbangan antara kilap, ketahanan terhadap kelembaban, dan tekstur.
Saat ini, bahan-bahan lilin tersebut dinyatakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sebagai zat yang “secara umum diakui aman” (Generally Recognized as Safe/GRAS).
Catatan: Pada Agustus tahun ini, FDA mengajukan rancangan kebijakan untuk mulai memperketat pengawasan terhadap zat yang ditambahkan ke dalam makanan dan dinyatakan “secara umum diakui aman”.
Meskipun beberapa zat dalam daftar GRAS dilarang di negara lain, bahan-bahan yang digunakan dalam lilin apel telah memperoleh persetujuan dari berbagai lembaga keamanan pangan di seluruh dunia, termasuk Uni Eropa, Pusat Keamanan Pangan Hong Kong, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Alex McDonald, dokter keluarga dari wilayah California Selatan di Kaiser Permanente, juga berpendapat bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai keamanan lilin pada apel.
“Sejauh ini, tidak ada bukti yang diketahui menunjukkan bahwa mengkonsumsi lilin khusus pangan pada permukaan buah akan membuat seseorang terpapar dosis yang berbahaya. Baik makan satu apel maupun sepuluh apel, tidak ada perbedaan berarti dalam hal keamanan lapisan lilinnya, karena lilin hanya mencakup bagian yang sangat kecil dari buah dan pada dasarnya tidak beracun,” kata McDonald.
Bagaimana Cara Mencuci Apel?
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyarankan agar apel dicuci menggunakan air mengalir yang bersih sambil menggosok permukaannya secara perlahan untuk menghilangkan kotoran, bakteri, dan residu pestisida. Setelah dicuci, keringkan apel dengan lap untuk membantu menghilangkan sisa bakteri.
Schwan menyarankan agar masyarakat tidak menggunakan sabun, deterjen, pemutih, atau produk pembersih buah dan sayuran komersial pada apel yang dilapisi lilin.
Ia menjelaskan bahwa produk-produk tersebut tidak disetujui untuk digunakan pada makanan dan tidak meningkatkan keamanan pangan. Sebaliknya, penggunaannya justru berpotensi menimbulkan bahaya kimia.
Sumber : NTDTV.com


