Pada 9 Oktober, konflik terkait penguasaan lahan pecah di Kabupaten Bobai, Kota Yulin, Guangxi, Tiongkok. Menurut laporan, pengembang setempat mempekerjakan sejumlah orang yang identitasnya tidak diketahui untuk menyemprotkan isi alat pemadam kebakaran dan cairan merica kepada para lansia serta perempuan yang berusaha menghentikan pekerjaan konstruksi. Akibatnya, beberapa orang terluka dan harus dibawa ke rumah sakit. Hingga 11 Oktober, pekerjaan konstruksi di lahan yang disengketakan masih berlangsung.
EtIndonesia.com Sebuah video memperlihatkan beberapa pria memegang alat pemadam kebakaran berwarna merah dan menyemprotkan bubuk putih ke arah warga desa yang datang untuk memprotes.
Dalam video lain, seorang pria berpakaian hitam memegang benda kecil berbentuk tabung dan mengarahkannya ke lengan seorang perempuan bertopi jerami. Perempuan tersebut segera mundur. Setelah polisi tiba di lokasi, mereka tidak mengambil tindakan terhadap orang-orang tersebut.
Yang Li, seorang warga setempat, mengatakan kepada NTD bahwa sepuluh tahun lalu, warga menolak menandatangani persetujuan karena harga kompensasi yang ditawarkan pengembang terlalu rendah. Namun, pihak pengembang tetap memasuki lahan dan memulai pembangunan, sehingga saat itu juga terjadi konflik.
“Mereka memaksa mengambil alih lahan. Warga setempat tidak bersedia dan tidak menandatangani persetujuan apa pun. Namun, mereka tetap memulai pekerjaan pada malam hari. Mereka datang untuk bekerja pada tengah malam, lalu membangun rumah,” ujar Yang Li, warga Desa Dadong, Kota Dadong, Kabupaten Bobai, Guangxi.
Di beberapa tempat, bangunannya sudah satu lantai, sementara di tempat lain sudah dua lantai. Namun, proyek-proyek itu pada dasarnya menjadi bangunan mangkrak. Itu terjadi sepuluh tahun lalu. Setelah sempat terjadi perselisihan, sekarang mereka kembali memulainya.”
Yang Li juga mengatakan bahwa kali ini dirinya tidak berada di lokasi. Namun, setelah melihat video yang beredar dari desanya, ia mengetahui bahwa ada lebih dari sepuluh warga desa berhadapan dengan sekitar 20 hingga 30 orang dari pihak lawan. Dalam bentrokan tersebut, beberapa orang juga terluka.
“Anak-anak muda di daerah kami kebanyakan sedang tidak berada di rumah. Yang tinggal hanyalah para lansia dan sejumlah perempuan desa. Ketika warga kami berusaha menghalangi mereka agar tidak melanjutkan pekerjaan konstruksi, mereka langsung menyemprotkan alat pemadam kebakaran ke arah warga,“ katanya.
“Setelah alat pemadam itu habis, mereka kemudian menggunakan cairan merica. Seorang ibu bahkan harus dibawa ke rumah sakit. Sejauh yang saya ketahui, ada sekitar empat atau lima orang,’ ujarnya.
Yang Li menambahkan bahwa orang yang diduga berada di balik kejadian tersebut adalah seorang pria bermarga Pang, yang berasal dari desa lain di kota yang sama. Ia menyebut pria tersebut sebagai “penguasa lokal yang sewenang-wenang”.
“Dia mengandalkan sedikit kekuasaan dan uang yang dimilikinya. Dia menyewa orang-orang yang memang khusus melakukan hal-hal buruk untuk datang dan bekerja. Warga langsung pergi ke lokasi untuk menghalangi mereka, tetapi malah diangkat dan dibuang ke pinggir jalan. Pemerintah setempat tidak mengatakan apa-apa. Mereka berada di pihak yang sama dengan pria bermarga Pang itu,” katanya.
Yang Li menduga bahwa keberanian pria bermarga Pang tersebut untuk bertindak semena-mena mungkin disebabkan oleh dukungan pemerintah dan polisi setempat di belakangnya, serta dugaan adanya kolusi antara pejabat dan pengusaha.
“Melapor ke polisi pun tidak ada gunanya. Polisi seolah-olah melihat dengan sebelah mata dan pura-pura tidak tahu. Pemerintah setempat datang pada malam kejadian, tetapi keesokan harinya mereka langsung melanjutkan pekerjaan,” jelasnya.
“Artinya, pemerintah setempat sepertinya sudah menyetujui tindakan mereka. Perselisihan masih berlangsung sampai sekarang. Hari ini mereka kembali membawa ekskavator untuk mengeruk dan meratakan tanah,” katanya.
Yang Li mengatakan bahwa warga desa ingin melaporkan persoalan tersebut kepada pihak berwenang di Nanning atau Beijing, tetapi upaya itu sangat sulit dilakukan.
Laporan Zhang Zhongyuan, reporter NTD, bersama reporter khusus Gu Xiaohua dan Chen Jianming.


