EtIndonesia.com Kematian seorang peneliti laboratorium di Siberia, Rusia, yang diduga berkaitan dengan penyakit pes, kembali menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan penyebaran penyakit menular lintas negara.
Situasi semakin menarik perhatian setelah terungkap bahwa Tiongkok dan Rusia sebelumnya telah menggelar serangkaian latihan tanggap darurat untuk menghadapi kemungkinan wabah pes, termasuk di kawasan perbatasan kedua negara.
Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah kehadiran Sergey Balakhonov, Kepala Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk, dalam latihan gabungan tersebut. Institut yang dipimpinnya belakangan dikaitkan dengan laporan kematian seorang peneliti pada awal Oktober 2026.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat. Apakah latihan tersebut merupakan kegiatan pencegahan rutin, atau kedua negara sebelumnya telah mengantisipasi ancaman penyakit menular tertentu?
Berdasarkan informasi yang beredar, pada 28 Mei 2026, Beijing dan Mongolia Dalam telah menyelenggarakan latihan gabungan penanganan penyakit pes.
Kegiatan serupa kemudian berlangsung pada 28 Juni 2026, melibatkan wilayah Xinjiang, Gansu, dan Qinghai.
Selanjutnya, pada 2 Juli 2026, enam wilayah tingkat provinsi di Tiongkok, yakni Beijing, Tianjin, Hebei, Shandong, Shanxi, dan Mongolia Dalam, menggelar latihan tanggap darurat berskala besar di Kota Ordos, Mongolia Dalam.
Menurut informasi yang dikaitkan dengan Komisi Kesehatan Mongolia Dalam, lebih dari 100 personel tanggap darurat dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Skenario latihan menggambarkan seorang pasien yang diduga terinfeksi pes setelah melakukan perjalanan melintasi batas provinsi.
Petugas kemudian menjalankan berbagai prosedur, mulai dari pelaporan kasus, pelacakan kontak erat, pemeriksaan laboratorium, penelusuran sumber infeksi, hingga koordinasi penanganan antarwilayah.
Rangkaian latihan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap kesiapsiagaan menghadapi penyakit pes. Namun, penyelenggaraan latihan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa wabah sedang berlangsung.
Perhatian publik semakin meningkat setelah muncul laporan mengenai latihan gabungan lain yang berlangsung pada 24 hingga 27 Agustus 2026, di Kota Fuyuan, Provinsi Heilongjiang, dekat perbatasan Rusia.
Latihan ini disebut melibatkan 19 tim tanggap darurat kesehatan dari tiga provinsi di Tiongkok timur laut, yakni Heilongjiang, Liaoning, dan Jilin.
Sejumlah perwakilan lembaga kesehatan Rusia juga dilaporkan menghadiri kegiatan tersebut.
Di antara peserta yang menjadi perhatian adalah Sergey Balakhonov, Kepala Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk.
Kehadirannya kemudian dikaitkan dengan laporan kematian seorang peneliti perempuan berusia 28 tahun di Irkutsk pada 2 Oktober 2026.
Meski demikian, belum terdapat bukti yang menunjukkan bahwa Balakhonov mengetahui adanya wabah sebelum latihan diselenggarakan.
Laporan lain menyebutkan seorang pejabat Partai Komunis Tiongkok di Fuyuan yang menghadiri kegiatan tersebut kemudian tidak dapat dihubungi. Namun, kabar mengenai hilangnya kontak dengan pejabat itu juga belum dapat dipastikan kebenarannya.
Di tengah berkembangnya berbagai spekulasi, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Hulunbuir, Mongolia Dalam, dilaporkan mengeluarkan peringatan mengenai risiko penularan penyakit pes.
Peringatan tersebut semakin menarik perhatian masyarakat karena Hulunbuir memiliki hubungan geografis dan aktivitas lintas perbatasan dengan wilayah Rusia.
Sementara itu, rumor mengenai dugaan penyebaran penyakit pes mulai bermunculan di media sosial.
Sejumlah unggahan di platform X mengklaim bahwa kasus mencurigakan telah ditemukan di beberapa wilayah Tiongkok, termasuk Henan, Shanghai, Chongqing, dan Mongolia Dalam.
Bahkan, terdapat tuduhan bahwa tenaga medis diminta tidak menggunakan istilah penyakit pes dalam pencatatan pasien, melainkan menggantinya dengan istilah pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya.
Salah satu rumor paling mengkhawatirkan menyebutkan bahwa sebuah rumah sakit di Erenhot, Mongolia Dalam, telah menerima lebih dari 70 pasien yang diduga terinfeksi pes.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 orang diklaim meninggal dunia, sementara beberapa tenaga kesehatan disebut ikut tertular.
Unggahan lain menyebutkan Kota Hohhot, Chifeng, Tongliao, dan Baotou sebagai wilayah yang diduga mulai menemukan kasus serupa.
Namun, seluruh angka korban dan klaim penyebaran tersebut belum memperoleh konfirmasi independen yang dapat dipercaya.
Tidak terdapat bukti memadai untuk memastikan bahwa penyakit pes telah menyebar ke berbagai kota sebagaimana disebutkan dalam unggahan media sosial.
Spekulasi bahkan berkembang hingga muncul tuduhan bahwa insiden di Rusia mungkin berkaitan dengan program senjata biologis.
Tuduhan tersebut merupakan dugaan serius yang tidak dapat dibenarkan tanpa bukti ilmiah maupun hasil investigasi yang kredibel.
Penyakit pes sendiri merupakan infeksi bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini dapat muncul dalam beberapa bentuk, termasuk pes bubonik dan pes paru. Khusus pes paru, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui percikan pernapasan dalam kondisi tertentu.
Karena itu, pengawasan kesehatan dan kesiapan laboratorium memang menjadi langkah penting, terutama di wilayah yang memiliki riwayat keberadaan penyakit tersebut.
Di sisi lain, penyebaran berbagai rumor telah membangkitkan kembali ingatan masyarakat Tiongkok terhadap pembatasan ketat selama pandemi COVID-19.
Sebagian pengguna internet mengkhawatirkan kemungkinan kembalinya petugas berpakaian pelindung lengkap yang dikenal dengan julukan dabai, atau si putih besar, untuk menjalankan pembatasan aktivitas masyarakat.
Hingga 14 Oktober 2026, berdasarkan informasi yang tersedia dalam laporan ini, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Tiongkok sedang menghadapi wabah pes berskala luas.
Rangkaian latihan tanggap darurat antara Tiongkok dan Rusia memang menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapsiagaan kedua negara. Namun, latihan tersebut juga dapat merupakan bagian dari upaya pencegahan terhadap penyakit yang secara historis masih menjadi perhatian kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Asia.
Kini, persoalan terpenting bukan sekadar mengapa latihan-latihan itu diselenggarakan, melainkan apakah otoritas kesehatan kedua negara dapat menyediakan informasi epidemiologis dan hasil pemeriksaan laboratorium yang transparan.
Sebab, di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, keterbukaan informasi menjadi kunci untuk membedakan ancaman kesehatan yang nyata dari rumor yang belum terbukti. (***)


