Varian Baru COVID-19 SV.2.4 Merebak di Tiongkok Selatan

Belakangan ini, varian baru virus COVID-19, SV.2.4, kembali muncul di wilayah selatan Tiongkok. Varian ini menarik perhatian karena memiliki kecepatan penularan yang tinggi, kemampuan menghindari sistem kekebalan tubuh yang cukup kuat, serta dikaitkan dengan banyaknya kasus penyakit berat. Sejumlah pekerja industri pemakaman di berbagai daerah juga mengungkapkan bahwa belakangan ini terjadi peningkatan tajam jumlah anak muda yang meninggal mendadak.

EtIndonesia.com Menurut informasi yang beredar, varian baru virus COVID-19 SV.2.4 sedang meningkat pesat di Asia. Varian ini memiliki kemampuan yang relatif kuat untuk menghindari sistem kekebalan tubuh. Protein lonjakannya (spike protein) membawa mutasi tertentu yang membantu virus menghindari antibodi yang terbentuk setelah seseorang terinfeksi atau menerima vaksin.

Gejala yang ditimbulkan SV.2.4 serupa dengan gejala subvarian Omicron, terutama gejala pada saluran pernapasan atas, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, dan pilek.

Seorang ahli virologi Tiongkok yang menggunakan nama samaran Zhang mengungkapkan bahwa kasus COVID-19 di Sichuan masih berada pada tingkat tinggi, dan hasil pemantauan menunjukkan bahwa penyebabnya adalah varian baru SV.2.4.

“Keturunan PQ.16.1.1, yaitu SV.2.4, sedang menyebar dengan cepat. Saat ini, tingkat pertumbuhannya hampir mencapai 20% per minggu, tepatnya 19,7%. Penyebarannya sangat cepat. Saat ini, varian ini menyebabkan cukup banyak kasus penyakit berat di wilayah selatan kami. Jika tidak demikian, karakteristik virologisnya tidak akan diumumkan,” katanya. 

Zhang juga mengungkapkan bahwa di antara varian yang sedang beredar saat ini, varian dengan tingkat patogenisitas yang relatif tinggi meliputi BA.3.2, PJ.2.1, dan PQ.16.1.1.

Menurutnya, tingkat kelangsungan hidup pasien dengan kondisi berat yang dipindahkan untuk menjalani perawatan di rumah sakit pemantau (sentinel hospital) sangat rendah. Ia memperingatkan masyarakat agar menghindari berada di sekitar rumah sakit tersebut untuk mengurangi risiko penularan.

Zhang (nama samaran): “Sebanyak 96% virus COVID-19 ditularkan melalui aerosol. Area di sekitar rumah sakit pemantau merupakan wilayah yang rentan terhadap penularan. Banyak kasus penyakit berat terjadi, disertai masalah jantung dan banyak kasus penyumbatan pembuluh darah. Orang-orang yang dipindahkan ke rumah sakit lain itu, hingga hari ini, belum ada yang bisa keluar dari rumah sakit. Ini menunjukkan betapa seriusnya situasi saat ini.”

Sejumlah pekerja industri pemakaman di berbagai daerah juga menyatakan bahwa jumlah anak muda yang meninggal mendadak belakangan ini meningkat.

Nyonya Xu, pekerja industri pemakaman di Wuhan: “Sekarang banyak orang meninggal akibat serangan jantung dan stroke. Dahulu, orang biasanya mulai meninggal pada usia 50-an tahun, tetapi sekarang usianya semakin muda.” 

“Ada yang berusia 30 tahun, bahkan 20-an tahun. Mereka tidak menunjukkan gejala apa pun, lalu mengalami serangan jantung dan meninggal. Bahkan, flu ringan yang tidak ditanggapi dengan serius bisa merenggut nyawa. Kami telah melihat banyak kasus seperti ini.”

Tuan Liu, pekerja industri pemakaman di Mongolia Dalam: “Belakangan ini, banyak orang yang meninggal akibat serangan jantung dan pendarahan otak. Kedua penyakit ini tidak mengenal usia. Yang termuda berusia sekitar 30 tahun. Anak-anak mereka masih kecil, sementara orang tua mereka juga masih harus ditanggung. Ketika kondisi mereka ditemukan, mereka sudah meninggal. Keluarga mereka tidak bisa menerima kenyataan tersebut.”

Baru-baru ini, beredar informasi di internet bahwa daftar pasien di ruang perawatan intensif (ICU) sebuah rumah sakit mencakup lebih dari sepuluh remaja yang mengalami keracunan obat.

Zhang mengungkapkan bahwa berdasarkan data penelitian, banyak masyarakat mengalami keracunan obat setelah terinfeksi COVID-19 karena mengonsumsi obat flu. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gagal hati atau gagal ginjal, bahkan kematian dalam kasus yang parah.

“Dosis bahan aktif dalam obat flu semakin lama semakin besar karena jika dosisnya tidak ditingkatkan, obat tersebut tidak lagi efektif. Ke depannya, akan semakin banyak orang yang mengalami masalah serius akibat obat flu, dan jumlahnya bisa menjadi sangat besar,” katanya. 

Laporan wawancara NTD Television oleh reporter Xiong Bin dan Bai Ni.

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh. Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi. Walker Larson Saya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine