Pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) melancarkan operasi pemberantasan pertambangan ilegal di Kolwezi, kota pertambangan penting, pada awal pekan ini. Sekitar 300 penambang asal Tiongkok dilaporkan ditahan. Menurut informasi yang belum terverifikasi, Kedutaan Besar Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Kinshasa kemudian turun tangan, dan sebagian pekerja yang ditahan dilaporkan telah dibebaskan.
EtIndonesia.com Provinsi Lualaba, tempat Kolwezi berada, merupakan pusat industri tembaga dan kobalt di Republik Demokratik Kongo. Wilayah ini menjadi lokasi berbagai proyek pertambangan milik kelompok usaha internasional maupun perusahaan Tiongkok.
Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut pada Jumat (16 Oktober), operasi penangkapan terutama berlangsung di Kolwezi. Warga negara Tiongkok yang ditahan diduga melakukan pertambangan ilegal di wilayah konsesi pertambangan milik perusahaan lain.
Sumber tersebut mengungkapkan bahwa operasi penangkapan itu melibatkan personel Dewan Keamanan Nasional Republik Demokratik Kongo (National Security Council) dan petugas imigrasi.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum mengumumkan identitas lengkap warga negara Tiongkok yang ditahan, perusahaan tempat mereka bekerja, maupun perkembangan penanganan kasus tersebut.
Menurut informasi yang beredar, Kedutaan Besar PKT di Kinshasa kemudian melakukan intervensi terkait kasus ini. Sebagian pekerja yang ditahan disebut telah dibebaskan, tetapi informasi tersebut belum dapat diverifikasi.
Lebih dari 20 Warga Tiongkok Dibawa dari Perusahaan Bermodal Tiongkok
Menurut laporan The Epoch Times, situs Beijing Dingtai Anyuan memberitakan pada 13 Oktober bahwa Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Demokratik Kongo (DGM) mengeluarkan pengumuman pada 12 Oktober. Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa petugas penegak hukum pada hari itu membawa lebih dari 20 warga negara Tiongkok dari sebuah perusahaan pertambangan berlatar belakang modal Tiongkok di Kolwezi.
Dalam pengumumannya, Direktorat Jenderal Imigrasi menyatakan bahwa warga negara Tiongkok tersebut ditangkap karena tinggal secara ilegal di wilayah Republik Demokratik Kongo dan melakukan eksploitasi sumber daya mineral tanpa izin.
Berulang Kali Menahan dan Mendeportasi Warga Negara Tiongkok
Menurut laporan Dingtai Anyuan, pemerintah Kolwezi di Republik Demokratik Kongo belakangan meningkatkan pemeriksaan terhadap kepatuhan hukum dan kelengkapan izin para pekerja di perusahaan pertambangan setempat yang memiliki latar belakang modal Tiongkok. Pemeriksaan tersebut tidak hanya menyasar perusahaan pertambangan milik investor Tiongkok.
Pada 11 Oktober, informasi yang beredar di platform media sosial X menyebutkan bahwa 30 warga negara Tiongkok dipanggil dan dibawa oleh Direktorat Jenderal Imigrasi dari perusahaan pertambangan CCR yang terletak di Jalan Nzilo (Route Nzilo), Kolwezi.
Pada 24–26 September, Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Demokratik Kongo melakukan pemeriksaan di kawasan pertambangan Provinsi Lualaba. Tujuh warga negara Tiongkok ditahan karena diduga membeli bijih mineral secara ilegal dari para penambang tradisional. Mereka kemudian dideportasi.
Industri Tembaga Berkembang Pesat, Berbagai Masalah Bermunculan
Menurut laporan Bloomberg, dalam beberapa tahun terakhir, modal asing yang didominasi investasi Tiongkok mengalir deras ke Republik Demokratik Kongo. Perusahaan-perusahaan Tiongkok kini mendominasi industri tembaga di negara tersebut.
Sejak 2015, produksi tembaga Republik Demokratik Kongo meningkat menjadi sekitar tiga kali lipat. Negara itu telah melampaui Peru dan menjadi produsen tembaga terbesar kedua di dunia.
Namun, pesatnya perkembangan industri pertambangan juga memicu berbagai kekacauan. Wilayah konsesi yang dimiliki operator pertambangan besar berulang kali dimasuki oleh para penambang ilegal.
Menurut laporan tersebut, sejumlah penambang kerap memasuki wilayah yang memiliki izin pertambangan milik investor internasional tanpa izin untuk melakukan kegiatan penambangan ilegal. Tindakan ini disebut berlangsung dengan pembiaran, bahkan dukungan, dari sejumlah tentara setempat.
Sumber : NTDTV.com


