EtIndonesia. Para ahli mengatakan, bahwa seiring kembalinya Trump memimpin Gedung Putih, ini menyiratkan akan terjadi perubahan besar pada NASA, termasuk pembentukan kemitraan yang lebih erat dengan perusahaan swasta dan mendorong eksplorasi Mars, untuk memastikan keberlangsungan AS memimpin dalam eksplorasi ruang angkasa melawan Tiongkok.
Newsweek melaporkan pada hari Rabu (27/11) bahwa sosok orang yang membantu Trump merombak NASA adalah Elon Musk, dan bagaimana dia akan merestrukturisasi NASA, lembaga yang mengalami penuaan infrastruktur dan sulit mendapatkan anggaran yang cukup, sehingga menarik perhatian luar.
Perusahaan aeroangkasa Musk, SpaceX, telah menjadi sinonim dari eksplorasi ruang angkasa modern. Selama beberapa tahun terakhir, Musk telah mentransformasi industri ruang angkasa, membuktikan bahwa perusahaan swasta dapat mengembangkan solusi yang inovatif dan terjangkau lebih cepat dari pada proyek pemerintah.
Pada tahun 2026, NASA berencana mengirim manusia kembali ke Bulan. Jika berhasil, ini akan menjadi puncak dari tahun-tahun usaha ilmiah, komitmen, dan kecerdasan NASA. Saat itu, Trump akan menjadi presiden kedua yang menelepon ke Bulan.
Trump telah mencapai kemajuan besar dalam kebijakan ruang angkasa selama masa jabatan pertamanya.
Pada tahun 2017, pemerintahan Trump memulai program Artemis yang bertujuan mengirim manusia kembali ke Bulan dan mendirikan basis permanen di sana untuk memfasilitasi eksplorasi Mars.
Trump juga mendirikan Pasukan Luar Angkasa AS, yang merupakan cabang militer baru pertama sejak tahun 1947. Trump telah mengatakan bahwa ini adalah salah satu pencapaian yang paling dia banggakan selama masa jabatannya.
Casey Dreier, direktur kebijakan ruang angkasa di Planetary Society, mengatakan bahwa keberhasilan program ruang angkasa di masa jabatan pertama Trump terutama berkat dukungan bipartisan.
Dreier kepada Newsweek mengatakan: “Beruntunglah, ruang angkasa adalah salah satu benteng kerjasama bipartisan yang tersisa, dan administrasi pertama Trump telah membuktikan hal ini.”
Bagaimana Mereformasi NASA
Musk juga memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang baru didirikan, sebuah dewan penasihat eksternal yang bertujuan untuk memangkas regulasi yang berlebihan dan mengurangi pemborosan anggaran.
Sebagai salah satu pemimpin bersama DOGE, Musk berjanji untuk memotong dua triliun dolar dari anggaran federal, untuk memastikan uang pajak digunakan secara efektif. Bagaimana ini akan mempengaruhi anggaran NASA dan mencari keseimbangan menjadi fokus perhatian publik.
Pada Oktober lalu, Akademi Nasional AS menerbitkan sebuah laporan berjudul “NASA di Persimpangan Jalan.” Laporan tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur yang menua, tekanan untuk memprioritaskan tujuan jangka pendek, dan kurangnya efisiensi manajemen adalah beberapa tantangan yang dihadapi oleh NASA.
Newsweek menganalisis bahwa roket pembawa yang mahal dari NASA, “Sistem Peluncuran Luar Angkasa” (SLS), adalah kesempatan untuk menghemat biaya. SLS adalah roket sekali pakai yang hanya dapat diluncurkan setiap dua tahun dengan biaya sekitar 4,1 miliar dolar per peluncuran.
Sebaliknya, roket Starship dari SpaceX dapat digunakan kembali, dan perusahaan tersebut sedang berusaha untuk menurunkan biaya penerbangan menjadi kurang dari 10 juta dolar.
Kapsul berawak Orion yang dipasangkan dengan SLS telah memiliki masalah dengan perisai panasnya, dan tinjauan terbaru menentukan bahwa ini bisa membahayakan keselamatan awak. Ini berarti bahwa setelah Trump menjabat, pengembangan SLS mungkin dihentikan dan diganti dengan roket Starship untuk program Artemis.
Kolaborasi potensial antara Trump dan Musk di NASA menawarkan kesempatan serta tantangan. Di satu sisi, ini dapat mempercepat langkah manusia kembali ke Bulan dan menginjakkan kaki di Mars, sekaligus mempromosikan inovasi melalui kerjasama komersial. Di sisi lain, ada kekhawatiran dari beberapa ahli bahwa ini bisa mengganggu misi ilmiah NASA dan mengonsentrasikan kekuasaan di tangan entitas pribadi.
P.J. Blount, asisten profesor hukum ruang angkasa di Durham University, mengatakan bahwa Musk bagi NASA seperti pedang bermata dua; jika Musk memiliki pengaruh besar dalam proses pengambilan keputusan, mungkin ada kekhawatiran bahwa pemerintah lebih memilih untuk memonopoli aktivitas ruang angkasa daripada benar-benar memajukan industri tersebut.
“Peran NASA seharusnya lebih luas, tidak hanya membeli dari perusahaan komersial. Ini juga harus memprioritaskan misi ilmiah dan kepentingan publik,” kata Blount.
Namun, ada juga optimisme dari para ahli. Kani Sathasivam, profesor hubungan internasional di Salem State University, mengatakan kepada Newsweek: “SpaceX dan perusahaan swasta lain telah membuktikan bahwa mereka dapat menyediakan solusi yang lebih cepat, lebih murah, dan mungkin lebih aman.”
Sathasivam menambahkan, meskipun dia mendukung kerjasama antara NASA dengan perusahaan swasta, namun menjaga peran NASA dalam mewakili kepentingan AS di ruang angkasa sangatlah penting.
“Pada akhirnya, hanya NASA yang dapat membawa bendera AS ke ruang angkasa dan mewakili kepentingan nasional, terutama dalam menghadapi negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia,” katanya.
Memajukan Program Mars dan Menghadapi Persaingan dengan Tiongkok
Musk menyebutkan bahwa pada tahun 2015 dia mendirikan SpaceX karena kemajuan lambat NASA dalam mendaratkan manusia di Mars.
Pada tahun 2019, Trump menulis di X (sebelumnya Twitter): “Kita telah menghabiskan banyak uang, NASA seharusnya tidak membicarakan tentang pendaratan di Bulan, itu sudah kita lakukan 50 tahun yang lalu. Mereka harus fokus pada hal-hal yang lebih besar yang kita lakukan, termasuk pendaratan di Mars (dan Bulan adalah bagian dari itu), pertahanan, dan sains!”
Oleh karena itu, Trump dan Musk tampaknya memiliki visi yang serupa tentang pendaratan di Mars.
Roket Starship yang sedang dikembangkan oleh SpaceX akan memainkan peran kunci dalam mengangkut astronot dan peralatan ke Mars, yang akan memperkuat posisi dominan AS dalam eksplorasi luar angkasa.
Pertahanan ruang angkasa adalah prioritas lain dari pemerintahan Trump. Selama kampanye, Trump menyatakan bahwa dia akan memperkuat pertahanan militer AS di ruang angkasa dengan membentuk Pasukan Garda Nasional Luar Angkasa.
Eksplorasi luar angkasa Tiongkok telah dikontrol oleh pemerintah, dengan peran terbatas untuk perusahaan swasta. Menghadapi program ruang angkasa yang terus berkembang dari Tiongkok, pemerintahan Trump akan berupaya lebih keras untuk mempertahankan posisi dominan AS di ruang angkasa.
Tiongkok berencana mengirim astronot ke bulan sebelum tahun 2030 dan bekerja sama dengan Rusia untuk membangun stasiun penelitian Bulan dalam dekade berikutnya.
Tiongkok juga telah mempercepat jadwal pengumpulan sampel dari Mars, mengklaim bahwa mereka mungkin akan berhasil pada tahun 2031. Ini lebih awal daripada misi pengambilan sampel Mars bersama NASA dan Badan Antariksa Eropa (European Space Agency).
Newsweek menyebutkan, Trump tidak mungkin membiarkan Tiongkok menancapkan bendera di permukaan Bulan dan sangat sadar bahwa kompetisi eksplorasi Mars semakin intens, dengan perlombaan ruang angkasa baru yang akan segera datang.
Bagi Trump dan Musk, mengembangkan kerja sama antara NASA dan perusahaan swasta seperti SpaceX sangat penting untuk memenangkan perlombaan ini. (jhn/yn)