Trump dan Macron Bahas Masa Depan Ukraina di Tengah Perbedaan Pandangan

“Fokus kami adalah mencapai gencatan senjata secepat mungkin, dan pada akhirnya perdamaian permanen,” kata Trump

Emel Akan dan Travis Gillmore

EtIndonesia— Dalam pertemuan di Gedung Putih pada 24 Februari, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sama-sama menyuarakan keinginan kuat untuk segera mengakhiri perang di Ukraina. Namun, perbedaan pandangan mereka mengenai isu-isu utama, seperti rekonstruksi Ukraina, jaminan keamanan, dan penggunaan aset Rusia yang dibekukan, menjadi semakin jelas.

Trump memulai pekan diplomasi intens dengan pertemuan pertamanya dengan Macron dalam upaya mendorong pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina. Dia juga dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada 27 Februari.

“Fokus kami adalah mencapai gencatan senjata secepat mungkin, dan pada akhirnya perdamaian permanen,” kata Trump dalam konferensi pers bersama setelah pertemuan bilateralnya dengan Macron.

“Saya percaya Emmanuel setuju dengan saya dalam banyak hal penting, terutama bahwa ini adalah waktu yang tepat. Ini mungkin satu-satunya waktu,” lanjut Trump, merujuk pada kesepakatan damai.

Dia memuji Macron karena sepakat bahwa Eropa, bukan hanya Amerika Serikat, harus menanggung biaya menjaga perdamaian dan keamanan jangka panjang Ukraina.

Trump juga mengatakan bahwa pemerintahannya mengambil langkah tegas untuk meninggalkan pendekatan kebijakan luar negeri pemerintahan Biden.

Macron sependapat dengan keinginan Trump untuk mengakhiri perang, tetapi menekankan bahwa kepentingan Ukraina dan Eropa harus diperhitungkan.

“Kami ingin perdamaian segera, tetapi kami tidak ingin kesepakatan yang lemah,” kata Macron.

Presiden Prancis itu mencatat bahwa jaminan keamanan akan dinegosiasikan sebagai bagian dari paket perdamaian dan keamanan yang komprehensif, seraya menyebut bahwa Trump mendukung pendekatan tersebut.

“Ini adalah titik balik, menurut saya,” kata Macron.

Trump tidak banyak berkomentar mengenai jaminan keamanan untuk Ukraina.

“Eropa harus mengambil peran utama dalam memastikan keamanan jangka panjang Ukraina, dan mereka memang ingin melakukannya. Itu bukan langkah besar,” kata Trump.

“Langkah besar adalah apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan,” tambahnya, merujuk pada pembicaraan damai.

Perbedaan Pandangan Tentang Rekonstruksi Ukraina

Saat ditanya oleh seorang reporter Prancis tentang kontribusi untuk rekonstruksi Ukraina di masa depan, Trump tidak berkomitmen untuk memberikan bantuan.

Dia menyebut pertanyaan itu “sedikit aneh,” dengan menekankan bahwa AS sudah memberikan kontribusi besar untuk pertahanan Ukraina.

Macron menyarankan agar aset Rusia yang dibekukan dimasukkan dalam negosiasi perdamaian dan digunakan untuk mendukung Ukraina.

“Saya mendukung gagasan bahwa Ukraina harus dikompensasi terlebih dahulu,” katanya. “Pada akhirnya ini akan menjadi pinjaman, dan Rusia yang akan membayarnya.”

Trump menyela Macron: “Jika Anda percaya itu, saya tidak masalah,” katanya. “Kami sedang menegosiasikan semuanya, dan semuanya ada di meja perundingan.”

Pembicaraan dengan Rusia

Kunjungan Macron ke Gedung Putih bertepatan dengan peringatan tiga tahun dimulainya konflik antara Ukraina dan Rusia. Upacara peringatan di Ukraina mengenang kehilangan ratusan ribu tentara.

Pada 24 Februari, Trump mengumumkan bahwa negosiasi dengan Rusia sedang berlangsung dan bahwa kedua negara berupaya meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi dalam waktu dekat.

“Saya sedang dalam pembicaraan serius dengan Presiden Vladimir Putin dari Rusia mengenai penghentian perang, serta transaksi Pengembangan Ekonomi besar yang akan terjadi antara Amerika Serikat dan Rusia,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya. “Pembicaraan berjalan sangat baik!”

Steve Witkoff, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, mengungkapkan hal serupa dalam acara “Face the Nation” di CBS, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan AS akan dapat kembali ke Rusia setelah kesepakatan damai tercapai.

Pertemuan langsung dengan Putin diperkirakan akan terjadi, menurut pernyataan Trump dalam beberapa pekan terakhir, meskipun belum ada tanggal yang ditetapkan.

“Pada waktu yang tepat, saya akan pergi ke Moskow,” kata Trump kepada wartawan dalam pertemuan bilateral. “Saya pikir perang bisa berakhir dalam hitungan minggu.”

Ketegangan dengan Zelenskyy dan Uni Eropa

Pada 18 Februari, pejabat AS dan Rusia bertemu di Arab Saudi untuk membahas persyaratan gencatan senjata. Ukraina tidak ikut serta dalam perundingan tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran di Kyiv dan Uni Eropa.

Baru-baru ini, Trump mempertanyakan peran dan efektivitas Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam negosiasi sebelumnya terkait perang.

Pekan lalu, Trump dan Zelenskyy saling bertukar sindiran, dengan Trump menyebut pemimpin Ukraina itu sebagai “diktator” karena tidak mengadakan pemilu selama perang, sementara Zelenskyy menuduh Trump terjebak dalam “ruang disinformasi.”

Trump kemudian mengatakan bahwa kesepakatan dengan Ukraina hampir selesai, yang akan memungkinkan AS mendapatkan akses ke mineral langka negara itu sebagai imbalan atas bantuan yang telah diberikan sejauh ini.

“Saya pikir itu sedang terjadi. Kami telah membuat banyak kemajuan,” kata Trump dalam konferensi persnya.

Sumber : Theepochtimes.com

FOKUS DUNIA

NEWS