Kisah Nyata: Orang yang Berbuat Jahat dan Terlahir Kembali sebagai Hewan

EtIndonesia. Dalam peribahasa Tiongkok, terdapat ungkapan “Di kehidupan berikutnya akan menjadi sapi atau kuda untuk membayar utang”. Namun, apakah hal ini benar-benar terjadi? Apakah seseorang yang berbuat jahat benar-benar akan terlahir kembali sebagai hewan?

Sebagian orang menganggap bahwa ini hanyalah cerita takhayul karangan orang-orang zaman dahulu dan menolak mempercayainya tanpa melakukan penelitian lebih lanjut. Namun, ada banyak kisah nyata yang menunjukkan bahwa hukum karma dan reinkarnasi itu benar adanya.

Salah satu bukti yang mencengangkan adalah kejadian di mana seseorang yang berbuat kejahatan dalam kehidupan sebelumnya terlahir kembali sebagai sapi. Bahkan, sapi tersebut memiliki tanda khusus di tubuhnya, seolah-olah sebagai peringatan dari Atas kepada manusia bahwa hukum sebab akibat adalah suatu kenyataan yang tidak bisa disangkal.

Kisah Nyata di Sichuan Tahun 1936

Pada musim panas tahun 1936, Liu Tianxi, ketua Perkumpulan Buddhisme di Kabupaten Hejiang, Sichuan, Tiongkok, mencatat sebuah peristiwa nyata tentang seseorang yang melakukan kejahatan dan setelah meninggal, terlahir kembali sebagai seekor sapi.

Di Tongren, Guizhou, hiduplah seorang lelaki bernama Zhai Guangyuan, yang dikenal sebagai seorang pemuda pemalas dan tidak bermoral. Dia menjalin hubungan gelap dengan Qian Shi, istri dari keponakannya sendiri.

Namun, perselingkuhan mereka suatu hari dipergoki oleh Chang Shi, kakak ipar Zhai Guangyuan. Karena takut perbuatan mereka terbongkar, Zhai Guangyuan dan Qian Shi kemudian merencanakan untuk membunuh Chang Shi dengan cara meracuninya.

Setelah Chang Shi meninggal mendadak, anak-anaknya merasa sangat curiga karena ibunya meninggal dalam keadaan yang tidak wajar. Mereka menduga bahwa kematian Chang Shi berkaitan dengan Zhai Guangyuan, sehingga mereka berinisiatif untuk mencari tahu kebenarannya.

Pada 22 April 1931, anak-anak Chang Shi mendatangi Zhai Guangyuan untuk meminta penjelasan. 

Dalam situasi terdesak, Zhai Guangyuan bersumpah kepada dewa dengan mengataka “Jika saya benar-benar bersalah, biarlah saya mati disambar petir!”

Tak disangka, hanya delapan hari kemudian, pada 1 Mei 1931, kejadian mengerikan pun terjadi. Saat tengah hari, tiba-tiba langit di sekitar rumah keluarga Zhai menjadi gelap gulita. Petir bergemuruh, hujan deras turun dengan dahsyat, dan kilat menyambar-nyambar. Tetangga melihat kilat menyambar langsung ke rumah Zhai Guangyuan. Hanya dalam hitungan detik, cuaca kembali cerah seperti sedia kala.

Para tetangga yang merasa penasaran segera bergegas ke rumah Zhai. Saat mereka masuk ke dalam, mereka mendapati Zhai Guangyuan dan Qian Shi tersambar petir. Qian Shi tewas seketika, sementara Zhai Guangyuan masih hidup namun dalam keadaan sekarat.

Pada detik-detik terakhirnya, Zhai Guangyuan mengakui semua kejahatan yang telah dia lakukan. 

Dia berkata dengan penuh penyesalan: “Aku telah melakukan dosa besar, maka aku dihukum oleh sumpahku. Aku akan segera mati.”

Selain itu, dia juga mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan: “Aku dan Qian Shi akan bereinkarnasi sebagai sapi di rumah keluarga Shi yang tinggal di dekat sini!”

Tak lama setelah berkata demikian, Zhai Guangyuan pun menghembuskan napas terakhirnya.

Kelahiran Kembali sebagai Anak Sapi

Setelah mendengar pengakuan itu, para tetangga bergegas menuju rumah keluarga Shi untuk memastikan kebenaran perkataannya. Mereka tiba tepat saat seekor induk sapi baru saja melahirkan dua ekor anak sapi.

Anak sapi pertama berwarna kuning, berjenis kelamin jantan, dan anak sapi kedua lebih kecil, berjenis kelamin betina.

Namun, yang paling mengejutkan adalah penampilan anak sapi betina tersebut. Pada bagian alis, mata, mulut, dan hidungnya, bulunya tampak membentuk sesuatu yang menyerupai wajah manusia.

Ketika orang-orang mengangkat kepalanya, mereka melihat sesuatu yang sangat tidak wajar:

  • Di bagian bawah tubuh sapi betina ini, terdapat organ yang menyerupai payudara dan alat kelamin manusia.
  • Dua kakinya juga lebih kecil dari biasanya, dan bentuk kukunya tidak normal, tampak terkulai ke bawah.

Orang-orang yang melihatnya terkejut bukan main. Beberapa orang mulai memanggil nama “Qian Shi” dan menceritakan kembali kisah perselingkuhannya serta pembunuhan yang mereka lakukan.

Saat mendengar namanya dipanggil, anak sapi betina itu tiba-tiba menundukkan kepalanya dan mulai menangis. Air mata terus mengalir dari matanya, seolah-olah ia merasa malu dan menyesal atas perbuatan di kehidupan sebelumnya.

Karena kejadian aneh ini, keluarga Shi memutuskan untuk menjual kedua anak sapi tersebut sebagai peringatan bagi masyarakat agar tidak melakukan kejahatan.

Fenomena Reinkarnasi yang Menarik Perhatian Publik

Kedua anak sapi ini dianggap sebagai bukti nyata dari hukum karma dan reinkarnasi, sehingga ada orang yang membeli mereka untuk dipamerkan ke berbagai daerah.

Pada Mei 1936, mereka dibawa ke Kabupaten Hejiang, Sichuan, di mana mereka dipamerkan di sebuah tempat di luar Kota Shawan.

Orang-orang sangat penasaran dan berbondong-bondong datang untuk melihat. Bahkan, dalam beberapa hari, antrian masuk ke tempat pameran sangat panjang hingga memenuhi jalanan.

Karena peristiwa ini menggemparkan, Bupati Hejiang saat itu, Liu Yuchang, memerintahkan pemilik sapi untuk membawa kedua sapi tersebut ke kantor pemerintahan. Di sana, sapi-sapi itu difoto sebagai bukti nyata dari fenomena reinkarnasi dan hukum sebab akibat.

Kesimpulan

Kisah ini menjadi pengingat bagi umat manusia bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan mendapatkan balasannya di kehidupan berikutnya.

Hukum sebab akibat tidak bisa dihindari, dan bagi mereka yang berbuat jahat, siksaan yang setimpal akan menunggu di kehidupan yang akan datang.

Semoga kisah ini dapat menjadi peringatan agar kita senantiasa berbuat baik dan menghindari kejahatan, karena setiap perbuatan pasti akan kembali kepada diri kita sendiri.(jhn/yn)

FOKUS DUNIA

NEWS