Keajaiban yang Ditemui di Saat Putus Asa

EtIndondesia. Ketika tanganku merogoh saku dalam bajuku, tubuhku seketika lemas dan jatuh ke tanah. Uang hasil kerja keras selama tiga tahun—semua keringat dan jerih payahku—hilang tanpa jejak.

Aku berjalan tanpa arah di alun-alun depan stasiun pada malam hari, menatap kerumunan orang yang sibuk pulang ke rumah untuk merayakan Tahun Baru. Hati dipenuhi keputusasaan. Saat itu, pikiranku gelap: kalau aku tidak bisa naik kereta pulang, lebih baik aku mengakhiri hidup di rel saja.

Ketika aku melangkah menuju jalan kematian itu, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang pria di sebuah bilik telepon umum.

Dia mengenakan mantel tentara lusuh, warnanya sudah sulit dikenali, dengan banyak bagian yang sobek hingga kapasnya keluar. Di kakinya tergeletak sebuah gulungan bagasi kecil yang compang-camping. Dari penampilannya, nasibnya tampak lebih buruk dariku. Meski dompetku kosong, setidaknya pakaianku masih rapi.

Dia menunduk, wajahnya menghadap ke samping, berbicara penuh semangat di telepon, sesekali melambaikan tangan, mengekspresikan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

Satu jam berlalu, dia masih belum meletakkan gagang telepon. Aku iri sekaligus tersentuh, membayangkan suara di seberang sana: ibunya yang berambut putih menunggu kepulangannya, istrinya yang setia menanti di depan pintu, anaknya yang riang penuh tawa. Air mataku hampir jatuh. Aku ingin ikut merasakan kebahagiaannya, maka aku melangkah ke arahnya.

Suara langkahku membuat pria itu terkejut. Dia buru-buru menutup telepon, lalu menoleh padaku dengan wajah penuh ketakutan.

Di depan mataku tampak wajah pucat, kurus, dengan janggut kusut, bahkan ada beberapa luka berkerak darah. Matanya bersembunyi, menatapku dengan cemas. 

Namun ketika dia sadar aku tak bermaksud jahat, dia tersenyum kecut, bibir ungunya bergetar menahan dingin, lalu berkata ke gagang telepon: “Jangan khawatir, aku baik-baik saja!”

Setelah itu, dia menutup telepon, mengambil barang bawaannya, tersenyum kecil, dan pergi begitu saja.

Aku berdiri terpaku, baru sadar: telepon itu bahkan tidak memiliki kartu IC. Artinya, dia sudah berbicara sendirian lebih dari satu jam di tengah udara dingin!

Air mataku pun jatuh deras.

Sepuluh tahun berlalu. Kini aku memiliki karier yang sukses dan keluarga yang bahagia. Namun aku tahu, semua yang kumiliki saat ini—bahkan hidupku yang masih berlanjut—adalah anugerah yang kuperoleh dari pertemuan malam itu dengan seorang gelandangan. Dia menyelamatkanku tanpa pernah tahu.

Pesan yang bisa direnungkan:
Kadang, hidup memberi kita “keajaiban” lewat peristiwa sederhana. Seorang gelandangan yang berpura-pura menelpon memberi makna baru pada hidupku—bahwa bahkan dalam keterpurukan, masih ada alasan untuk bertahan.

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine