Waspada Disinformasi dari Tiongkok dan Rusia Setelah Pembunuhan Charlie Kirk

Gubernur Spencer Cox menyebut ada “jumlah besar disinformasi” yang sedang dipantau oleh otoritas negara.

EtIndonesia. Gubernur Utah, Amerika Serikat, Spencer Cox, memperingatkan bahwa bot asal Tiongkok dan Rusia tengah memproduksi serta menyebarkan konten menyesatkan secara daring untuk “mendorong kekerasan” setelah pembunuhan Charlie Kirk.

Kirk, seorang komentator politik terkemuka dan influencer konservatif, tewas ditembak saat berada di atas panggung dalam sebuah acara di Universitas Negeri Utah Valley pada 10 September 2025. Ia berusia 31 tahun.

Dalam konferensi pers pada 11 September, Cox mengatakan ada “jumlah besar disinformasi” yang dipantau oleh otoritas negara.

“Apa yang kita lihat adalah musuh-musuh kita menginginkan kekerasan,” kata Cox. “Kita memiliki bot dari Rusia, Tiongkok, dari seluruh dunia, yang berusaha menanamkan disinformasi dan mendorong kekerasan.”

Gubernur dari Partai Republik itu tidak merinci temuan pihak berwenang, namun mendesak publik untuk mengabaikan disinformasi tersebut.

Komentarnya muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kampanye disinformasi dan propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) di luar negeri.

OpenAI dalam laporan Juni lalu menyebut pihaknya telah mengambil tindakan terhadap sejumlah akun ChatGPT yang terkait dengan operasi pengaruh yang berasal dari Tiongkok komunis.

Pelaku jahat menggunakan model kecerdasan buatan (AI) generatif milik perusahaan untuk membuat gambar profil yang menyamar sebagai individu—misalnya veteran AS yang kritis terhadap pemerintahan Trump—dan untuk memproduksi konten politik Amerika di berbagai platform media sosial, termasuk X dan Bluesky. Peneliti mengatakan operasi tersebut bertujuan mengeksploitasi perpecahan politik di Amerika Serikat.

Disebut sebagai “Uncle Spam,” operasi ini merupakan salah satu dari 10 kasus yang diidentifikasi perusahaan sebagai penyalahgunaan chatbot AI miliknya. OpenAI mengatakan telah memblokir seluruh akun yang terkait dengan operasi jahat tersebut.

Selain di media sosial, terdapat juga situs web palsu yang menggunakan  AI untuk berpura-pura sebagai media berita sah, menurut laporan Agustus dari perusahaan analitik daring Graphika.

Laporan itu mengidentifikasi 11 domain, beserta 16 akun media sosial terkait, yang secara eksklusif “mencuci ulang” artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh China Global Television Network (CGTN), sayap internasional media pemerintah Tiongkok, China Central Television (CCTV).

Jaringan tersebut terutama menyebarkan konten pro-partai komunis Tiongkok dan anti-Barat dalam berbagai bahasa, dengan menggunakan alat AI untuk “menciptakan logo dan teks yang secara khusus ditujukan kepada berbagai audiens, termasuk generasi muda di Afrika, Amerika, Asia, dan Eropa,” demikian laporan itu.

Dalam konferensi persnya, Cox mendorong publik untuk menonaktifkan siaran daring dan meluangkan lebih banyak waktu bersama keluarga.

“Bagi orang-orang yang menghabiskan begitu banyak waktu di media sosial, saya rasa Charlie sudah mengatakannya dengan tepat: ketika keadaan memburuk, [letakkan] ponsel, dan habiskan sedikit waktu dengan keluarga kita,” kata Cox.

“Kita sangat membutuhkan pemulihan.”

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine