Kata Sang Mutiara: Kegelapan Melahirkan Cahaya, Penderitaan Menempa Keindahan

EtIndonesia. Aku berasal dari keluarga petani. Tak jarang, rasa minder muncul dari cara bicaraku dan sikapku sehari-hari. Suatu hari, seorang teman berbincang denganku tentang mutiara.  

Dia bertanya: “Menurutmu, kenapa mutiara itu begitu berharga?”

Aku menjawab : “Karena permukaannya halus, indah, berkilau, dan putih bersih.”

Temanku menggeleng dan berkata : “Itu semua hanya tampilan luar. Yang membuat sebuah benda benar-benar berharga adalah hakikatnya, bukan permukaannya. Mutiara mahal karena hatinya yang mahal.”

Aku bertanya : “Lalu… apa yang dimaksud dengan ‘hati’ mutiara?”

Dia menjelaskan dengan pelan:  “Awalnya, mutiara hanyalah sebutir pasir kecil— tak berarti, kusam, dan tidak menarik.  Suatu hari, takdir membawanya masuk ke dalam kerang. Di tempat gelap itu,  di bawah tekanan dan gesekan yang menyakitkan dari daging kerang, butiran pasir itu tidak menyerah pada nasib. Dalam kegelapan dan penderitaan itu, perlahan dia membentuk kilau kehidupan— itulah hati sebuah mutiara.”

Temanku menepuk bahuku dan berkata tulus : “Kalau mutiara bisa bicara, dia akan berkata: kegelapan bisa melahirkan cahaya,  penderitaan bisa menempa keindahan. Semoga kamu punya hati seperti mutiara.”

Beberapa waktu kemudian, aku sedang berada pada masa tersulit dalam hidupku. Teman yang sama kembali membahas tentang mutiara.

Dia mengeluarkan sebutir mutiara dan bertanya : “Menurutmu, apa benih dari sebuah mutiara?”

Aku terdiam. Mutiara berasal dari dalam kerang—mana mungkin punya benih?

Dia tersenyum, lalu berkata: “Tentu mutiara punya benih. Benihnya adalah butir-butir pasir itu— pasir yang tajam, pasir yang menyakiti kerang,  pasir yang membawa penderitaan. Justru karena pasir yang menyakitkan itulah, kerang bisa ‘melahirkan’ mutiara yang bersinar.”

Aku tertegun: “Benih mutiara adalah butir-butir penderitaan.”

Jawaban temanku benar-benar di luar dugaanku.

Dia melanjutkan:   “Dalam hidup kita, kegagalan, kemunduran, pukulan, dan kemalangan… semuanya juga adalah benih.  Asalkan kita punya hati yang tidak menyerah pada penderitaan, benih-benih itu, melalui darah dan keringat kita, akan tumbuh menjadi mutiara kehidupan.”

Kata-kata teman itu mengubah cara pandangku. Tentang hidup. Tentang penderitaan.

Setiap kali aku berada di tengah cobaan, seakan-akan aku mendengar suara perlahan berkata kepadaku: Kegelapan dapat menumbuhkan cahaya. Penderitaan dapat menempa keindahan. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine