Menikmati Kealamian dalam Hidup

EtIndonesia. Suatu hari, seekor katak filsuf melihat seekor kelabang sedang berjalan.

Dia berpikir dalam hati :  “Berjalan dengan empat kaki saja sudah cukup merepotkan. Lalu bagaimana kelabang bisa berjalan dengan seratus kaki?”

“Bagaimana dia tahu kaki mana yang harus melangkah lebih dulu? Kaki mana yang mengikuti? Lalu setelah itu kaki yang mana lagi?”

Akhirnya, dia menghentikan kelabang dan menyampaikan pertanyaannya.

Kelabang menjawab : “Seumur hidupku aku berjalan, tetapi aku belum pernah memikirkan hal itu. Sekarang aku harus benar-benar memikirkannya dulu sebelum menjawabmu.”

Kelabang pun berdiri di sana selama beberapa menit… dan mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Dia terhuyung-huyung sejenak, lalu jatuh terkapar.

Kelabang berkata kepada katak : “Tolong jangan pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada kelabang lain. Sekarang aku bahkan tidak bisa mengendalikan kakiku sendiri!”

Bintang-bintang tidak memerlukan peta untuk bergerak mengikuti orbitnya yang melingkar. Jika justru diberi jangka dan penggaris, bisa jadi mereka malah tidak tahu harus ke mana, bahkan tersesat.

Manusia pun demikian. Ketika seseorang tidak percaya pada kehidupannya sendiri dan merasa harus selalu bergantung pada kitab, pepatah, atau aturan—terlalu banyak prinsip dan ajaran yang harus diikuti—maka ketika pikiran mulai membeda-bedakan dan menganalisis secara berlebihan, hasilnya akan sama seperti yang dialami kelabang akibat pertanyaan katak: kebingungan dan kehilangan arah.

Cobalah untuk menikmati kealamian hidup.

Berjalanlah dengan sepenuh perhatian. Makanlah dengan sepenuh kesadaran. Mencintailah dengan sepenuh hati.

Maka ketenangan dan kebahagiaan akan muncul dengan sendirinya.

Renungan Redaksi

Banyak hal dalam hidup terjadi secara alami—tanpa perlu dipaksa untuk diperhatikan, dipikirkan, atau dijalankan dengan sengaja.
Ketika kita terlalu memaksakan diri untuk memperhatikan, menganalisis, dan mengendalikan, justru kita kehilangan makna aslinya. Hasil yang muncul pun bukan lagi hakikat yang sejati.

Ambil contoh senyum. Senyum yang muncul dari kebahagiaan tulus tampak begitu cerah dan memikat. Namun ketika seseorang mulai berpikir bagaimana caranya tersenyum, senyum itu kehilangan sinarnya dan terlihat kaku.

Demikian juga dalam hidup— biarkan dia mengalir secara alami. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine