Gedung Putih pada Senin (31 Agustus) merilis rincian transaksi minyak Venezuela dengan perusahaan North American Blue Energy Partners, dan mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat akan secara efektif menguasai produksi dari sekitar seperlima cadangan minyak terbukti Venezuela melalui kepemilikan saham dan hak pembelian minyak.
EtIndonesia.com Beberapa hari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah mencapai “transaksi minyak terbesar dalam sejarah” dengan Venezuela.
Menurut dokumen penjelasan yang dirilis Gedung Putih pada 31 Agustus, perusahaan minyak swasta Amerika, North American Blue Energy Partners (NABEP), akan memperoleh konsesi selama 100 tahun dari pemerintahan sementara Venezuela untuk mengelola 17 ladang minyak, yang mencakup sekitar 65 miliar barel cadangan minyak terbukti.
Dari jumlah tersebut, 14 kontrak baru-baru ini disetujui oleh pemerintah Venezuela. Lima di antaranya sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan Tiongkok, sementara satu lainnya dioperasikan oleh perusahaan Rusia.
North American Blue Energy Partners (NABEP) dimiliki oleh pengusaha Venezuela Alejandro Betancourt. Perusahaan induknya akan mengalihkan 35% saham kepada pemerintah Amerika Serikat dan berkomitmen menjual 20% produksi minyak dari ladang-ladang tersebut kepada Departemen Luar Negeri AS dengan harga pokok. Untuk 80% produksi yang tersisa, Departemen Luar Negeri AS juga memiliki hak prioritas untuk membelinya.
Peneliti di Institute for National Defense and Security Research Taiwan, Chung Chih-tung, menilai bahwa kesepakatan ini merupakan situasi yang menguntungkan banyak pihak.
“Tentu saja, pemenang terbesar adalah Amerika Serikat. AS sekaligus memperoleh energi serta kepentingan strategis di bidang geopolitik dan ekonomi. Pemenang kedua tentu saja adalah pemerintahan baru Venezuela. Karena Venezuela sebelumnya terkena sanksi, melalui kesepakatan dengan Amerika Serikat kali ini, Venezuela dapat memperoleh hasil yang signifikan dalam hal investasi, produksi, dan penerimaan pajak,” ujar Chung Chih-tung, peneliti di Institute for National Defense and Security Research Taiwan.
“Pemenang ketiga adalah perusahaan energi Amerika. Konsumen Amerika dalam jangka panjang juga merupakan pemenang, karena pasokan minyak Venezuela yang besar dan lokasinya yang relatif dekat dapat menurunkan harga energi serta risiko pasokan,” jelasnya.
Pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa dari lima proyek yang sebelumnya dioperasikan perusahaan Tiongkok, dua di antaranya dikelola oleh China Concord Resources, yang dikenai sanksi AS pada 2019 karena terlibat dalam aktivitas terkait Iran.
Proyek lainnya dioperasikan oleh Sinopec, sementara satu lagi dioperasikan oleh China National Petroleum Corporation (CNPC). Pejabat tersebut menolak mengungkapkan nama perusahaan Tiongkok yang kelima.
Transaksi ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang merombak peta industri minyak Venezuela. Pengaruh energi dan finansial yang dibangun Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Venezuela selama dua dekade terakhir mengalami pelemahan besar.
“Sistem energi Venezuela, termasuk sejumlah infrastruktur dasar serta ekspor ke luar negeri, pada dasarnya sangat bergantung pada Tiongkok karena sanksi yang diberlakukan di masa lalu. Kesepakatan jangka panjang sebesar 65 miliar barel ini baru merupakan awal dari terbukanya babak pemisahan sistem energi Venezuela dari Tiongkok. Ini juga menjadi awal konkret dari upaya ‘de-Tiongkok-isasi,” kata Chung Chih-tung.
Komentator urusan terkini yang berbasis di Amerika Serikat, Zheng Haochang, mengatakan bahwa perkembangan ini juga menjadikan PKT sebagai pihak yang paling dirugikan.
“Pihak yang paling dirugikan tentu saja adalah PKT. Trump kadang menekan Iran, kemudian beralih menekan Venezuela. Saya kira Beijing pasti sangat marah, tetapi tidak berani menunjukkannya. Bagaimanapun, pertemuan Trump-Xi juga sudah semakin dekat. Para pejabat PKT tidak berani membuat masalah tambahan karena khawatir memancing kemarahan Trump dan akhirnya menanggung akibatnya,” katanya.
Tiongkok merupakan pembeli penting minyak Venezuela. Tahun lalu, sekitar 75% ekspor minyak Venezuela ditujukan ke Tiongkok. Namun, setelah Amerika Serikat menangkap Nicolás Maduro pada awal tahun ini, ekspor minyak Venezuela ke Tiongkok anjlok tajam.
Sebelumnya, PKT juga memberikan pinjaman dalam jumlah besar kepada Venezuela. Saat ini, Venezuela masih memiliki utang sekitar US$10–15 miliar, sebagian diantaranya dibayar dengan minyak.
Setelah Amerika Serikat memperoleh kendali atas ekspor minyak Venezuela, minyak yang sebelumnya digunakan untuk membayar utang kepada PKT kemungkinan juga akan berada di bawah kendali AS.
Chung Chih-tung: “Dulu, karena Venezuela terkena sanksi, minyak mentahnya dikirim ke Tiongkok. Sekarang, minyak mentah yang sebelumnya dikirim ke Tiongkok kemungkinan besar akan dialihkan ke pasar Amerika Serikat dan pasar yang dikendalikan negara-negara Barat. Jadi, kerugian Tiongkok bukan hanya investasi perusahaan-perusahaan Tiongkok, tetapi juga merupakan pembalikan strategis terhadap keseluruhan tata letak keamanan energi Tiongkok di luar negeri.”
Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, dengan cadangan minyak mentah bawah tanah diperkirakan mencapai sekitar 303 miliar barel.
North American Blue Energy Partners berencana mengirim lebih dari 50 unit rig pengeboran ke Venezuela dalam beberapa tahun mendatang, dengan tujuan meningkatkan produksi minyak mentah Venezuela yang saat ini masih lemah secara signifikan. (***)


