Jelang Kunjungan Xi ke AS, Beijing Berturut-turut Memberikan Dua Konsesi Besar; Pakar Ungkap Tujuan Sebenarnya 

Pertemuan Trump-Xi diperkirakan akan berlangsung pada 24 September. Menjelang keberangkatan Xi Jinping, pihak PKT mulai mengirimkan sejumlah sinyal ekonomi dan perdagangan yang menunjukkan bahwa mereka “bersedia berunding dan memberikan konsesi.” Namun, para akademisi menilai langkah-langkah tersebut pada dasarnya lebih menyerupai “plester penutup luka, bukan pisau bedah”—hanya dapat meredakan suasana, tetapi tidak mampu menyelesaikan konflik mendasar.

EtIndonesia.com Pada 10 September, juru bicara Kementerian Perdagangan PKT, Huang Ling, mengatakan bahwa tim ekonomi dan perdagangan PKT-AS sedang melakukan pembahasan mengenai “pengaturan kerangka pengurangan tarif timbal balik senilai US$30 miliar”, dengan tujuan agar kesepakatan tersebut dapat segera diterapkan.

Pada saat yang sama, pembeli Tiongkok pada pekan ini menambah pembelian sekitar 1 juta ton kedelai AS, yang terutama dilakukan oleh perusahaan-perusahaan milik negara seperti COFCO dan Tiongkok Grain Reserves Corporation (Sinograin).

Pemimpin PKT Xi Jinping diperkirakan akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada 24 September. Kedua langkah tersebut dilakukan menjelang keberangkatannya.

“Pengaturan kerangka pengurangan tarif timbal balik senilai US$30 miliar” merupakan informasi yang disampaikan pihak PKT. Kedua negara akan memilih produk yang dianggap tidak sensitif dan kemudian saling menurunkan tarif atas produk dengan nilai yang setara. Produk pertanian diperkirakan akan masuk dalam daftar tersebut, tetapi daftar final dan besaran penurunan tarif belum diumumkan.

“Saya belum melihat pemerintahan Trump atau pihak AS memberikan sinyal yang sama. Ini seharusnya merupakan semacam uji coba dari PKT, yaitu memberikan sedikit keuntungan sebelum negosiasi untuk menguji reaksi dan nada pihak Amerika. Namun saya yakin Trump tidak tertarik dengan tarif senilai US$30 miliar ini,” kata Profesor Xie Tian dari Aiken School of Business, University of South Carolina. 

“Sebelumnya, defisit perdagangan AS terhadap Tiongkok mencapai US$300 miliar hingga US$500 miliar per tahun. Sekarang PKT masih memiliki surplus perdagangan luar negeri yang sangat besar, tentu saja terhadap negara-negara lain. Namun Trump sama sekali tidak akan membiarkan produk-produk Tiongkok kembali membanjiri pasar AS,” tambahnya. 

Associate Professor Sun Guoxiang dari Nanhua University, Taiwan, mengatakan bahwa “penurunan tarif secara terbatas” yang dilakukan PKT hanya memiliki dampak yang sangat terbatas dalam meredakan perang tarif.

“Kedua pihak hanya menurunkan tarif atas produk masing-masing senilai sekitar US$30 miliar yang dianggap tidak sensitif. Artinya, mereka sengaja menghindari konflik struktural yang sebenarnya, seperti teknologi, kendaraan listrik, baja dan aluminium, tanah jarang, semikonduktor, pemeriksaan keamanan nasional, serta subsidi industri. Karena itu, langkah tersebut tidak akan mengubah arah umum persaingan strategis AS-PKT dan juga tidak berarti perang tarif telah berakhir,” katanya. 

Setelah perusahaan perdagangan milik negara PKT membeli tambahan 1 juta ton kedelai AS pada pekan ini, PKT hampir menyelesaikan separuh dari komitmen pembelian tahunannya.

Sebelumnya, setelah pertemuan Trump-Xi pada Mei, PKT berkomitmen untuk membeli sedikitnya 25 juta ton kedelai AS setiap tahun selama 2026–2028.

Sun Guoxiang mengatakan bahwa pembelian kedelai oleh PKT merupakan langkah “sekali mendayung tiga pulau terlampaui.”

“Kebutuhan riil memang ada. Namun, jika ini hanya didorong oleh kebutuhan pasar, belum tentu pembelian dalam jumlah besar oleh perusahaan milik negara akan dilakukan tepat menjelang pertemuan puncak Trump-Xi. Waktunya jelas memiliki pertimbangan politik,” ujarnya. 

“Selain itu, ini merupakan bentuk pendekatan dengan biaya rendah kepada pemerintahan Trump. Langkah ini memberikan hasil yang dapat dipromosikan oleh pemerintahan Trump kepada publik domestik. Di sisi lain, ini juga merupakan sinyal kepada pasar bahwa masih ada ruang untuk negosiasi antara AS dan PKT,” jelasnya. 

“Namun pada dasarnya, ini lebih seperti plester penutup luka daripada pisau bedah. Artinya, langkah tersebut dapat mengurangi sebagian gesekan dan menciptakan suasana rekonsiliasi, tetapi tidak mampu menangani persoalan institusional, industri, dan geopolitik yang berada di balik konflik perdagangan AS-PKT,” tambahnya. 

Kantor berita Reuters pada 4 September juga mengutip dua sumber yang mengatakan bahwa Xi Jinping sedang mempersiapkan delegasi bisnis besar untuk ikut dalam kunjungannya. Pemerintah PKT belum mengkonfirmasi informasi tersebut.

Xie Tian mengatakan bahwa Xi Jinping jarang melakukan kunjungan luar negeri bersama para eksekutif perusahaan. Jika benar membawa delegasi bisnis dalam jumlah besar, hal tersebut akan sangat tidak biasa.

“Jika kali ini benar-benar membawa delegasi, hal itu memang cukup jarang terjadi. Namun sebelumnya Trump membawa delegasi bisnis besar ke Tiongkok dan juga tidak berhasil menandatangani kesepakatan besar apa pun,” ujarnya. 

“Sekarang Xi Jinping membawa delegasi bisnis besar ke AS. Mereka kemungkinan bukan datang untuk berinvestasi. PKT juga tidak akan membiarkan mereka datang untuk berinvestasi. Tentu saja AS menyambut investasi mereka, tetapi jika mereka datang untuk menjual produk, AS juga tidak akan menyambutnya,” jelasnya. 

Gencatan senjata perdagangan AS-PKT saat ini berlaku hingga 10 November.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer baru-baru ini mengisyaratkan bahwa selama pertemuan Trump-Xi mungkin akan diumumkan langkah-langkah terkait pertanian dan hambatan non-tarif.

Ia meredam ekspektasi mengenai “kesepakatan perdagangan raksasa yang mencakup segala hal”, dan lebih menekankan pembentukan kerangka pengelolaan serta peningkatan penjualan barang-barang AS ke Tiongkok.

Saat ini, kedua pihak masih mempertahankan tarif atas sejumlah besar produk satu sama lain, sekaligus tetap memberlakukan berbagai pembatasan di bidang teknologi canggih, investasi, pengendalian ekspor, dan sektor lainnya.

Shang Yan/Yi Ru/Zhong Yuan – NTDTV.com 

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine