EtIndonesia.com Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Cooper, mengatakan pada hari Minggu bahwa dalam dua bulan terakhir, lebih dari 1 miliar barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz. Namun, ketika lalu lintas pelayaran di selat tersebut mulai kembali meningkat, ledakan dan kebakaran kembali dilaporkan terjadi di dekat ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Risiko keamanan terhadap fasilitas energi masih tetap ada.
Komandan CENTCOM, Jenderal Cooper, mengatakan bahwa saat ini jalur pelayaran utama di Selat Hormuz telah selesai dibersihkan dari ranjau. Dalam dua bulan terakhir, militer AS telah membantu lebih dari 2.000 kapal dagang melewati selat tersebut, dengan total lebih dari 1 miliar barel minyak mentah yang berhasil diangkut keluar dari Teluk Persia.
“Meski telah mencapai kemajuan tersebut, kami tetap waspada dan sangat fokus. Kami bekerja sama dengan mitra dari berbagai lembaga pemerintah AS, serta Dewan Kerjasama Teluk, atau GCC, yang terdiri dari enam negara anggota, juga perusahaan asuransi dan perusahaan pelayaran, untuk meningkatkan arus lalu lintas yang melewati Selat Hormuz,” katanya.
Cooper mengatakan, dalam dua pekan terakhir, volume pengangkutan minyak mentah, barang umum, dan gas alam cair (LNG) telah mencapai tingkat tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Namun, ketika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz secara bertahap mulai pulih, masalah keamanan di fasilitas energi lainnya di kawasan Teluk masih belum terselesaikan.
Pada Sabtu, asap hitam tebal terlihat di sekitar Bandara Internasional Raja Khalid di ibu kota Arab Saudi, Riyadh. The Wall Street Journal, mengutip sumber pejabat, melaporkan bahwa fasilitas bahan bakar penerbangan di bandara tersebut telah menjadi sasaran serangan udara. Namun, belum diketahui apakah serangan itu dilakukan menggunakan drone atau rudal. Hingga kini, belum ada organisasi yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Sementara itu, Armada Ketujuh Angkatan Laut AS pada Sabtu mengatakan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln telah tiba di Guam untuk melakukan pengisian kembali logistik dalam waktu singkat.
Kapal induk kelas Nimitz tersebut merupakan kapal komando dari Carrier Strike Group 3 dan kali ini telah menjalani penugasan di luar negeri selama 302 hari.
Namun, sebagian pasukan militer AS mulai kembali ke pangkalan bukan berarti krisis energi di Timur Tengah telah berakhir. Selain fasilitas energi Arab Saudi yang diserang, produksi energi Iran sendiri juga terdampak oleh perang.
Sejumlah analisis menyebutkan bahwa sekitar sepertiga kapasitas produksi gas alam Iran saat ini mengalami kerusakan. Sebelum perang, Iran memproduksi sekitar 650 juta meter kubik gas alam per hari, sedangkan saat ini sekitar 230 juta meter kubik kapasitas produksi harian terdampak.
Iran kini sedang berupaya memperbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak. Sejumlah analis memperkirakan biaya untuk memulihkan infrastruktur energi yang rusak tersebut dapat mencapai US$19 miliar.
Selanjutnya, bagaimana Amerika Serikat akan menangani persoalan Iran juga patut diperhatikan.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengatakan bahwa dalam pidato Presiden Donald Trump di Sidang Umum PBB pekan depan, ancaman nuklir Iran akan menjadi salah satu isu penting. Trump akan menegaskan bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir.
NTD TV — Dilaporkan oleh Yixin, dengan rangkuman dari berbagai sumber.


