Serangan Terhadap Iran Tinggal Menunggu Perintah! Trump Mendadak Ubah Keputusan di Menit Terakhir

EtIndonesia.com  Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat menentukan menjelang berlangsungnya rangkaian pertemuan tingkat tinggi Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Pada Senin, 21 September 2026, ketika para pemimpin dunia mulai berdatangan ke kota tersebut, Washington mengumumkan langkah baru yang berpotensi semakin mempersempit ruang gerak Iran, baik secara ekonomi maupun strategis.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan bahwa mulai Rabu, 23 September 2026, maskapai-maskapai Iran akan menghadapi tekanan sangat besar yang menurut Washington dapat secara efektif menghentikan operasi internasional mereka.

Bessent memperingatkan bandara, perusahaan bahan bakar, penyedia layanan darat, serta perusahaan penjualan tiket di luar negeri agar tidak memberikan layanan kepada maskapai Iran yang menjadi sasaran sanksi. Perusahaan yang tetap melakukannya berisiko kehilangan akses ke sistem keuangan Amerika Serikat dan transaksi berbasis dolar.

Dengan strategi tersebut, Washington pada dasarnya berusaha melumpuhkan kemampuan maskapai Iran beroperasi secara internasional melalui tekanan finansial, bukan melalui tindakan militer langsung.

Tekanan terhadap sektor penerbangan ini merupakan bagian dari kampanye ekonomi yang lebih luas terhadap Teheran. Dampaknya bahkan telah mulai terlihat. Mahan Air, salah satu maskapai besar Iran, sebelumnya dilaporkan mengurangi penerbangan internasional akibat semakin ketatnya sanksi Amerika terhadap perusahaan-perusahaan yang memberikan dukungan kepada sektor penerbangan Iran.

Namun, penerbangan bukan satu-satunya sektor yang menjadi perhatian Washington.

Pada 21 September 2026, muncul laporan mengenai rencana pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membentuk sebuah dana investasi regional senilai total US$10 miliar. Washington mengusulkan menyediakan US$5 miliar sebagai modal awal, kemudian meminta delapan negara Timur Tengah—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, Irak, dan Yordania—menyediakan tambahan dana dengan jumlah keseluruhan yang sama.

Program yang disebut Partnership for Allied Trust and Construction atau PACT itu dirancang untuk membantu membangun kembali infrastruktur energi yang rusak akibat perang sekaligus mendukung pengembangan jalur ekspor minyak dan gas yang tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz. Dana tersebut direncanakan dikelola oleh U.S. International Development Finance Corporation.

Langkah ini penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Krisis berkepanjangan di kawasan tersebut telah mengganggu pengiriman energi dan memaksa negara-negara Teluk memikirkan kembali ketergantungan mereka terhadap jalur laut yang sempit tersebut.

Dengan kata lain, persaingan Washington dan Teheran kini tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer atau sanksi. Infrastruktur energi dan jalur perdagangan juga menjadi bagian penting dari pertarungan strategis.

Trump Hampir Perintahkan Serangan ke Houthi

Di tengah tekanan terhadap Iran, sebuah perkembangan lain terjadi di Yaman.

Pada akhir pekan 19–20 September 2026, pemerintahan Trump dilaporkan telah melakukan persiapan serius untuk kemungkinan serangan udara Amerika Serikat terhadap kelompok Houthi setelah konflik antara Houthi dan Arab Saudi kembali meningkat.

Menurut laporan mengenai proses pengambilan keputusan tersebut, persiapan militer telah mencapai tahap lanjut. Daftar sasaran telah disiapkan dan disetujui, sementara pesawat tempur Amerika telah dipersiapkan dengan persenjataan.

Namun pada Minggu, 20 September, Trump akhirnya menahan rencana tersebut sebelum serangan dilaksanakan.

Keputusan itu memperlihatkan dilema yang dihadapi Washington. Di satu sisi, Arab Saudi merupakan mitra strategis Amerika Serikat dan sedang menghadapi serangan Houthi. Di sisi lain, keterlibatan langsung militer Amerika berpotensi membuka front baru ketika konflik dengan Iran sendiri belum terselesaikan.

Trump pada hari yang sama juga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi. Al-Alimi meminta dukungan Amerika untuk menghadapi kemajuan Houthi, tetapi Trump tidak memberikan komitmen untuk mengirimkan bantuan militer secara langsung.

Trump kemudian mengatakan bahwa Washington terus berkomunikasi dengan Houthi dan kelompok tersebut telah menyampaikan bahwa mereka tidak ingin berperang dengan Amerika Serikat.

Keadaan itu membuat Washington harus berhitung sangat hati-hati. Serangan langsung terhadap Houthi dapat mengubah konflik Yaman menjadi konfrontasi yang lebih luas dan pada saat bersamaan meningkatkan risiko benturan langsung dengan Iran.

Diplomasi PBB Menjadi Sorotan

Semua perkembangan tersebut terjadi menjelang pertemuan para pemimpin dunia di New York.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan menghadiri Sidang Majelis Umum PBB dan menyampaikan pidato pada Rabu, 23 September 2026. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menjadi bagian dari delegasi Iran.

Namun, Washington menolak visa bagi sejumlah anggota delegasi Iran, termasuk anggota tim komunikasi dan media kepresidenan. Amerika Serikat juga memberlakukan pembatasan tertentu terhadap aktivitas delegasi Iran selama berada di negara tersebut.

Kemungkinan pertemuan langsung antara Trump dan Pezeshkian kemudian menjadi perhatian besar. Trump sebelumnya telah menunjukkan keterbukaan terhadap kemungkinan pembicaraan dengan pemimpin Iran, tetapi hingga perkembangan yang terverifikasi pada 21 September 2026, pertemuan bilateral resmi antara keduanya belum dapat dipastikan.

Karena itu, kehadiran Pezeshkian di New York memiliki arti penting. Pertemuan-pertemuan diplomatik selama Sidang Majelis Umum PBB dapat menentukan apakah tekanan terhadap Iran akan terus meningkat atau justru membuka ruang bagi negosiasi.

Ekonomi Iran Terpukul Berat

Tekanan terhadap Teheran semakin berat karena kondisi ekonominya memburuk.

Data terbaru dari Statistical Center of Iran menunjukkan bahwa produk domestik bruto Iran pada periode 21 Maret hingga 20 Juni 2026 menyusut sekitar 10,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor minyak mentah dan gas alam mengalami pukulan jauh lebih besar, dengan kontraksi sekitar 26,4 persen. Industri dan pertambangan menyusut 14,7 persen, jasa turun 4,8 persen, sedangkan manufaktur berkontraksi sekitar 2,5 persen. Inflasi rata-rata 12 bulan Iran juga telah mencapai 69,9 persen.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perang, gangguan ekspor energi, sanksi, pelemahan mata uang, serta terganggunya perdagangan telah memberikan tekanan berat terhadap perekonomian Iran.

Washington tampaknya berharap tekanan ekonomi tersebut dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung Teheran tanpa harus langsung memperluas operasi militer.

Saudi Tingkatkan Serangan di Yaman

Sementara diplomasi berlangsung di New York, pertempuran di Yaman belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Houthi menyatakan bahwa Arab Saudi melancarkan 28 serangan udara dalam kurun 24 jam hingga 20 September, menyasar wilayah Taiz, Al-Jawf, dan Marib. Menurut juru bicara militer Houthi Yahya Saree, jet F-15 dan Eurofighter Typhoon Saudi digunakan dalam operasi tersebut. Klaim jumlah dan rincian serangan itu berasal dari pihak Houthi.

Pertempuran menjadi semakin penting karena Houthi telah memperluas kendali mereka di kawasan pesisir Laut Merah dan bergerak di sekitar wilayah strategis yang berhubungan dengan Selat Bab al-Mandab, jalur perdagangan internasional yang sangat penting. Reuters melaporkan pertempuran tersebut telah menyebabkan lebih dari 130.000 orang mengungsi.

Karena itu, Timur Tengah saat ini menghadapi dua titik strategis sekaligus: Selat Hormuz di timur dan Bab al-Mandab di barat. Gangguan serius pada kedua jalur tersebut dapat memberikan konsekuensi besar terhadap perdagangan dan pasokan energi internasional.

Menjelang rangkaian diplomasi tingkat tinggi PBB pada 22–23 September 2026, Washington tampaknya masih menjalankan dua jalur secara bersamaan: meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran sembari menahan diri dari membuka operasi militer baru terhadap Houthi.

Apakah strategi tersebut akan membuka jalan menuju negosiasi atau justru hanya menjadi jeda sebelum eskalasi berikutnya, masih belum dapat dipastikan.

Yang jelas, keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa hari ke depan berpotensi memengaruhi bukan hanya Iran, Arab Saudi dan Yaman, tetapi juga keamanan dua jalur perdagangan energi paling penting di dunia. (***)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine