EtIndonesia.com Dalam beberapa hari terakhir, Kota Chongqing, Tiongkok, dan Kota Dazhou di Provinsi Sichuan yang berbatasan dengannya dilanda hujan deras. Sejumlah waduk melakukan pelepasan air, menyebabkan beberapa sungai melampaui batas siaga dan wilayah di sepanjang sungai mengalami dampak banjir yang parah. Kabupaten Chengkou di Chongqing mengalami kerugian besar, dan beberapa warga dilaporkan terseret banjir.
Menurut laporan media pemerintah Tiongkok, dari pukul 08.00 pada 28 September hingga pukul 08.00 pada 29 September, sebagian besar wilayah Chongqing mengalami hujan sedang hingga lebat, dengan hujan sangat lebat hingga ekstrem di beberapa daerah. Lima sungai, yaitu Sungai Panhe, Pingba, Renhe, Shanmu di Kabupaten Chengkou, serta Sungai Tangxi di Kabupaten Yunyang, telah melampaui batas siaga.
Hingga pukul 18.00 pada 28 September, sebanyak 22 kecamatan atau kawasan di Kabupaten Chengkou telah melaporkan bencana. Sebanyak 4.017 orang terdampak. Sebanyak 229 rumah dari 178 keluarga mengalami kerusakan ringan atau sedang, sementara 34 rumah milik 7 keluarga roboh. Lahan pertanian yang terdampak mencapai 37,06 hektare, termasuk 12,79 hektare yang mengalami gagal panen total. Sebanyak 32 ruas jalan juga mengalami berbagai tingkat kerusakan.
Menurut informasi yang diperoleh, Kabupaten Chengkou memiliki sembilan waduk dari berbagai jenis. Waduk terbesar dan yang paling utama adalah Waduk Bashan yang terletak di hulu Sungai Renhe.
Pelepasan air dari waduk tersebut disebut dilakukan tanpa peringatan, sehingga menyebabkan kerugian besar terhadap jiwa dan harta benda warga. Warga setempat mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat banjir sebesar ini selama puluhan tahun.
“Puluhan kecamatan di Chengkou terdampak bencana dan kerugiannya sangat besar. Tanah longsor terjadi di mana-mana, sementara jalan-jalan juga banyak yang tersapu dan putus. Banyak rumah terendam, dan di banyak tempat rumah mengalami kerusakan. Terutama di daerah pedesaan, beberapa wilayah diterjang air. Ada juga sejumlah orang yang hilang. Usaha perikanan dan tanaman pertanian pada dasarnya mengalami kerugian,” ujar Liu, warga Kabupaten Chengkou, Chongqing.
Pada larut malam 28 September, permukaan air di Kabupaten Wuxi, Chongqing, terus naik hingga meluap ke jalan-jalan. Warga yang tinggal di dekat sungai tidak tidur semalaman dan sibuk memindahkan harta benda mereka. Warga menduga bahwa waduk di bagian hulu sedang melakukan pelepasan air, tetapi mereka mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya.
“Dari mana datangnya air sebanyak ini di Kabupaten Wuxi? Hujan turun dan air dari waduk dilepaskan, tetapi permukaan air masih terus naik. Kemarin saya mengawasinya sepanjang malam. Hujan masih turun, air masih akan naik, jadi semua orang sibuk memindahkan barang,” kata Li, warga Kabupaten Wuxi, Chongqing.
Pada 27 hingga 28 September, sejumlah wilayah di Kota Wanyuan, Kabupaten Xuanhan, Kabupaten Kaijiang, Distrik Tongchuan, Distrik Dachuan, dan daerah lainnya di Kota Dazhou, Sichuan, dilanda hujan deras.
Sejumlah waduk secara bersamaan melakukan pelepasan air, menyebabkan permukaan sungai naik dengan cepat dan air meluap ke daratan. Banyak rumah di sepanjang sungai terendam, sehingga warga terpaksa mengungsi sendiri dan tinggal sementara di rumah kerabat atau teman.
Di antaranya, Kota Nanba di Kabupaten Xuanhan mengalami dampak yang parah. Permukaan air Sungai Qianhe, anak Sungai Jialing yang melintasi Kota Nanba, meningkat drastis. Di beberapa ruas jalan, kedalaman air melebihi satu meter. Banyak toko terendam dan kendaraan terendam banjir. Setelah air surut, jalan-jalan dipenuhi sampah.
“Setelah hujan deras, air waduk dilepaskan. Sungai Qianhe sangat lebar. Jembatan di kawasan kota lama sudah hampir terendam sampai menyentuh bagian bawahnya, sementara jembatan kabel dalam kondisi sangat mengkhawatirkan. Toko-toko sudah terendam dan listrik juga sudah diputus. Kami terjebak di lantai dua,” ujar Bai, warga Kota Nanba, Kabupaten Xuanhan, Kota Dazhou, Sichuan.
Zhang, warga Kota Nanba, Kabupaten Xuanhan, Kota Dazhou, Sichuan: “Hujan sudah turun sangat lama. Selama sebulan kami tidak melihat matahari, setiap hari hujan. Hujannya sangat deras dan banjir terus naik. Kami benar-benar cemas di rumah. Saya sangat takut tinggal di dekat sungai. Saya bahkan tidak berani tinggal di rumah dan tidak berani tidur pada malam hari.”
Laporan: Xiong Bin dan Zhou Tian, NTD Television


