Selama pertemuan Trump–Xi di Washington pada September lalu, sejumlah besar agen Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang mengenakan penutup wajah menyerang para pengunjuk rasa. Salah seorang di antaranya adalah seorang wanita yang membawa semprotan iritan dan secara berturut-turut menyerang beberapa orang, sehingga menarik perhatian para demonstran.
EtIndonesia.com Pada 23 hingga 25 September, selama pemimpin PKT Xi Jinping dan istrinya mengunjungi Washington, berbagai kelompok demonstran terus mengikuti dan menggelar aksi protes di luar lokasi kunjungan pemimpin PKT tersebut.
Dikutip dari NTDTV.com, di lokasi juga terlihat sejumlah besar orang yang diduga sebagai agen PKT, yang secara seragam mengenakan topi, pakaian berwarna gelap, masker dan kacamata hitam, serta membawa payung hitam dan perlengkapan lain yang disebut digunakan untuk “menjaga stabilitas”.
Mereka memantau dan menyerang para demonstran setiap saat. Tindakan mereka disebut keras dan sikapnya agresif, sehingga membuat para demonstran waspada.
Pada 24 September, ketika istri Xi Jinping, Peng Liyuan, muncul di National Museum of Asian Art Smithsonian, beberapa pria demonstran yang menyusup ke dalam kelompok “penyambutan” tiba-tiba mengangkat spanduk dan meneriakkan slogan-slogan anti-komunis. Mereka kemudian diserang oleh sejumlah agen PKT.
Video yang direkam para demonstran dari berbagai sudut memperlihatkan seorang wanita mengenakan pakaian hitam, topi, kacamata hitam dan masker, serta memegang payung hitam di tangan kanannya. Dengan tangan kirinya, wanita tersebut menggunakan semprotan iritan untuk menyerang beberapa demonstran secara berturut-turut.
Pakar masalah Tiongkok Gordon Chang juga membagikan ulang video wanita bermasker tersebut dan menulis: “Sekaranglah saatnya untuk sepenuhnya menghancurkan semua jaringan yang dibangun PKT di Amerika Serikat. Apa yang masih kita tunggu?”
Sejumlah demonstran juga memperhatikan bahwa di lokasi kejadian, Chen Shanzhuang (John Chan), yang memegang pengeras suara dan mengarahkan kelompok pro-komunis, juga ikut dalam aksi mengepung para demonstran.
9月24日,華盛頓DC,一個穿黑衣、戴鴨舌帽和墨鏡口罩、抱著黑傘的女特工,用手中的刺激性噴劑,連續攻擊了多名抗議 #習近平 人士。 pic.twitter.com/so4GSM7mmz
— 世事觀心 (@shishiguanx) September 29, 2026
Chen Shanzhuang (John Chan) adalah seorang tokoh komunitas Tionghoa pro-PKT di New York, Amerika Serikat. Pada masa awal, ia disebut pernah menjadi anggota geng di Chinatown New York dan pernah didakwa secara federal serta menjalani hukuman penjara karena kejahatan serius yang berkaitan dengan penyelundupan manusia dan perdagangan heroin.
Setelah keluar dari penjara, ia kemudian menjadi “tokoh komunitas Tionghoa” yang aktif di masyarakat Tionghoa New York dan terlibat secara mendalam dalam berbagai kegiatan kelompok dan organisasi setempat. Ia juga memiliki hubungan dengan kalangan politik New York.
Radio Free Asia pernah melaporkan bahwa pada Maret 2024, ia hadir sebagai perwakilan komunitas Tionghoa Amerika dalam pertemuan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) di Beijing.
Sehari sebelumnya, Gordon Chang membagikan ulang di platform X video yang memperlihatkan Chen Shanzhuang menyerang para demonstran, dan mempertanyakan: “Apakah Chen Shanzhuang sudah terdaftar sebagai agen asing? Apakah dia menerima transfer dana ilegal dari Tiongkok? Hal ini harus diselidiki.”
Sejumlah warganet berbahasa Mandarin maupun Inggris juga memberikan komentar yang mendukung pernyataan tersebut: “Dia tidak terdaftar. Dia memiliki hubungan yang kuat dengan kalangan politik Kota New York dan dilindungi oleh teman-teman yang berkuasa.”
“Sekelompok fanatik PKT berada di Amerika Serikat, secara terang-terangan mendukung Xi Jinping untuk terus berkuasa dalam jangka panjang serta ambisi kekaisaran dan hegemoninya.”
“Ada terlalu banyak preman merah seperti ini di Kota New York… Para preman ini seharusnya dicabut kewarganegaraannya dan dideportasi.”
“Selidiki orang ini! Kami tidak ingin orang komunis berkeliaran di negara kami! Jelas mereka tidak berniat baik.”


