Penumpang Tunanetra dan Sopir Menangis Bersama Saat Mengobrol, Menyentuh Hati Jutaan Netizen

EtIndonesia.com Menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur, seorang penumpang tunanetra di Chengdu, Provinsi Sichuan, menaiki taksi online dan mengobrol dengan sopir selama perjalanan. Setelah mendengar kisah perjuangan hidup penumpang tunanetra tersebut selama bertahun-tahun, sang sopir tak kuasa menahan air mata. Sikap hormat sang sopir juga membuat penumpang tunanetra itu terharu hingga menangis. Video percakapan keduanya menyentuh hati jutaan warganet.

Seorang sopir taksi online di Sichuan mengunggah sebuah video di media sosial. Ia mengangkut seorang penumpang tunanetra. Agar penumpang tersebut dapat naik ke mobil dengan aman, ia sengaja turun dari kendaraan untuk menjemputnya. Setelah itu, terjadi sebuah momen yang mengharukan di dalam mobil.

Penumpang tunanetra tersebut terlebih dahulu berterima kasih karena sang sopir turun untuk menjemputnya. Kemudian, dengan hati-hati ia bertanya kepada sopir, “Kalau tahu yang naik adalah orang tunanetra, apakah Anda tetap mau menerima penumpang seperti saya?”

Sopir menjawab dengan sopan, “Tentu saja. Tidak ada masalah. Setiap orang pasti memiliki saat-saat ketika mereka mengalami kesulitan. Antarmanusia harus saling memahami.”

Mendengar itu, penumpang tunanetra tersebut berkali-kali mengucapkan terima kasih atas pengertian sang sopir.

Keduanya kemudian mengobrol tentang kehidupan sehari-hari. Penumpang tunanetra itu mengungkapkan bahwa ia kehilangan penglihatannya akibat demam tinggi ketika berusia 1 tahun. Selama 48 tahun, ia hidup dalam kegelapan dan mengandalkan keterampilan pijat untuk mencari nafkah.

“Kalau begitu, pasti ada orang yang menemani Anda, kan?” tanya sopir.

Penumpang tunanetra itu menjawab, “Tidak ada.”

Sang sopir langsung mengungkapkan rasa hormatnya kepada penumpang tersebut. Keduanya sempat terdiam. Ketika penumpang tunanetra itu tanpa sengaja menghela napas, sang sopir merasa sangat sedih mendengar nasib yang dialaminya.

Penumpang tunanetra itu tampak sedikit rendah diri dan cemas. Ia melepas kacamata hitamnya agar sopir dapat melihat matanya, lalu berkata, “Saya memakai kacamata untuk menutupi wajah saya yang jelek.”

Mendengar hal itu, sang sopir langsung meneteskan air mata dan menghiburnya, “Anda tidak jelek, Pak.”

Ia kemudian berkata, “Saya membayangkan, sejak usia 1 tahun hingga sekarang, 48 tahun. Selama 48 tahun Anda tidak pernah melihat cahaya. Dan selama waktu yang begitu lama, saya rasa itu benar-benar tidak mudah.”

Mendengar bahwa sang sopir begitu memahami dirinya, penumpang tunanetra itu juga sangat tersentuh. Ia tak kuasa menahan air mata dan mengusapnya dengan tangan, lalu berkata kepada sopir, “Anda orang baik. Terima kasih, terima kasih.”

Keduanya kemudian saling bertukar nomor telepon. Penumpang tunanetra tersebut bersikeras memberikan angpao sebesar 100 yuan kepada sopir sebagai tanda terima kasih, tetapi sopir menolaknya.

Sang sopir berkata, “Saya sangat menghormati Anda. Saya tidak menganggap Anda sebagai penyandang disabilitas. Kalau Anda menganggap saya sebagai teman, jangan berikan uang ini… Setelah mengantar Anda, saya juga langsung pulang. Rumah Anda dekat dengan rumah saya.”

Pada akhirnya, sopir hanya menerima ongkos yang ditetapkan oleh platform dan dengan tegas mengembalikan uang angpao yang ditransfer oleh penumpang tunanetra tersebut.

Video tersebut menyentuh hati lebih dari satu juta warganet. Banyak warganet mengatakan:

“Kalian menangis di dalam mobil, saya juga menangis di depan layar! Kita semua adalah orang-orang yang hidupnya tidak mudah, tetapi tetap memilih untuk berbuat baik.”

Setelah kejadian tersebut, penumpang tunanetra yang bermarga Ou diwawancarai oleh media Tiongkok daratan. Ia mengatakan bahwa pada usia 18 tahun, ia meninggalkan rumah untuk belajar keterampilan pijat. Ia kemudian bekerja sendirian di Xuzhou, Hangzhou, Beijing, Tianjin, Chongqing, dan berbagai tempat lainnya. Dalam kesehariannya, “di toko mana saya bekerja, di toko itu pula saya tinggal.”

“Karena kedua orang tua saya sudah meninggal. Sekarang saya sendirian. Kadang-kadang ketika Tahun Baru Imlek atau hari-hari perayaan tiba, saya merasa agak sedih,” ujar Tuan Ou.

Reporter NTD Luo Tingting, berdasarkan berbagai laporan / Editor Wen Hui

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine