EtIndonesia.com Situasi keamanan Iran kembali memanas. Pada 29 September 2026, pertempuran sengit dilaporkan pecah di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan, wilayah tenggara Iran yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu kawasan paling rawan keamanan di negara tersebut.
Bentrokan terjadi di kawasan Gharibabad dan melibatkan pasukan keamanan Iran dengan kelompok bersenjata yang identitasnya pada saat laporan awal diterbitkan belum diketahui secara pasti. Laporan lokal menyebut puluhan kendaraan pasukan keamanan dikerahkan ke lokasi, sementara suara tembakan senjata ringan, senjata berat, dan granat berpeluncur roket atau RPG terdengar di kawasan tersebut.
Yang membuat pertempuran kali ini mendapat perhatian lebih besar adalah pengerahan perangkat militer yang tidak biasa untuk sebuah operasi keamanan lokal. Tank dan drone dilaporkan ikut dikerahkan, sementara sejumlah jalan menuju lokasi pertempuran ditutup oleh aparat. Hingga laporan awal beredar, jumlah korban maupun kerusakan belum dapat dipastikan secara independen.
Pertempuran tersebut bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Sepanjang September 2026, Sistan dan Baluchestan mengalami serangkaian bentrokan yang menunjukkan meningkatnya tantangan keamanan bagi pemerintah pusat di Teheran.
Salah satu insiden paling serius terjadi pada 23 September 2026.
Dalam operasi di kawasan Saravan, Brigadir Jenderal Hossein Zarifi, komandan operasi Pangkalan Sajjad milik Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, tewas dalam bentrokan bersenjata.
Pada saat yang sama, Ahmad Harati Zera’ati, pejabat intelijen Pangkalan Operasi Sajjad, juga dilaporkan tewas. Kelompok pemantau lokal Haalvsh menyebut sedikitnya 13 personel militer dan keamanan lainnya mengalami luka serius dalam pertempuran di kawasan Jihadabad, Saravan. IRGC sendiri mengonfirmasi kematian Zarifi dalam operasi di wilayah Saravan.
Kematian seorang perwira senior IRGC menunjukkan bahwa ancaman keamanan di kawasan tenggara Iran tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai gangguan bersenjata berskala kecil.
Sebelumnya, pada 12 September 2026, bentrokan besar juga terjadi di sejumlah bagian Saravan. Kelompok bersenjata dilaporkan menyerang kendaraan militer dan posisi keamanan, memicu pertempuran yang berlangsung berjam-jam. Rangkaian kejadian sepanjang September inilah yang kemudian menjadi latar belakang pengerahan tank dan drone di Iranshahr pada 29 September.
Mengapa wilayah tenggara Iran begitu sulit diamankan?
Salah satu jawabannya terletak pada perkembangan organisasi kelompok bersenjata lokal.
Pada 10 Desember 2025, Jaish al-Adl dan beberapa kelompok Baluch lainnya mengumumkan pembentukan sebuah wadah baru yang dalam berbagai laporan diterjemahkan sebagai People’s Fighters Front atau Popular Fighters Front.
Pembentukan kelompok payung tersebut menandai upaya meningkatkan koordinasi di antara faksi-faksi bersenjata Baluch yang sebelumnya relatif terpisah. Institute for the Study of War menilai pembentukan organisasi tersebut berpotensi meningkatkan ancaman terhadap aparat keamanan Iran karena memungkinkan koordinasi operasi yang lebih luas.
Namun faktor organisasi bukan satu-satunya persoalan.
Geografi menjadi keuntungan besar bagi kelompok bersenjata.
Sistan dan Baluchestan berada di ujung tenggara Iran dan berbatasan langsung dengan Pakistan dan Afghanistan. Wilayahnya sangat luas, dengan gurun, lembah, pegunungan, dan jalur perbatasan yang sulit diawasi sepenuhnya.
Bagi kendaraan lapis baja berat, medan seperti ini menciptakan keterbatasan. Sebaliknya, kelompok kecil dengan kendaraan ringan dan perlengkapan bergerak dapat berpindah lebih cepat, menggunakan kawasan terpencil sebagai tempat berlindung, kemudian menghilang sebelum pasukan keamanan dalam jumlah besar tiba.
Wilayah tersebut memang telah lama menghadapi kekerasan yang melibatkan kelompok militan, jaringan penyelundupan dan aparat keamanan Iran.
Dalam sejumlah narasi yang beredar, pihak Iran juga menuding adanya dukungan eksternal terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di kawasan tersebut. Bahkan terdapat tuduhan mengenai bantuan intelijen maupun pelatihan asing. Namun klaim mengenai keterlibatan langsung Israel atau negara tertentu dalam pertempuran terbaru belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga harus diperlakukan sebagai tuduhan, bukan fakta yang telah terbukti.
Di tengah memburuknya keamanan domestik, tekanan terhadap Teheran juga datang dari arena diplomatik.
Pada 28 September 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada di New York bersama delegasi Iran setelah menghadiri rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Saat itu, mediator Qatar dan Pakistan masih berusaha menjembatani perbedaan antara Washington dan Teheran. Iran menginginkan pembicaraan yang berfokus pada Selat Hormuz, blokade Amerika Serikat dan pelonggaran sanksi. Washington, sementara itu, menuntut konsesi konkret mengenai program nuklir Iran.
Harapan untuk mencapai terobosan akhirnya memudar.
Menurut laporan Axios yang diterbitkan kemudian, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memerintahkan delegasi Iran meninggalkan Amerika Serikat setelah pembicaraan menemui jalan buntu. Seorang pejabat AS mengatakan delegasi tersebut telah berada di negara itu cukup lama setelah agenda Majelis Umum berakhir.
Namun terdapat perbedaan versi.
Misi Iran untuk PBB membantah bahwa delegasinya “diusir”. Teheran mengatakan kepulangan Araghchi dan rombongan telah dijadwalkan sebelumnya dan jadwal tersebut sudah disampaikan kepada Departemen Luar Negeri AS.
Artinya, yang dapat dipastikan adalah Washington memang meminta delegasi tersebut pergi setelah diplomasi mengalami kebuntuan, tetapi Iran menolak interpretasi bahwa keberangkatan mereka merupakan pengusiran mendadak.
Tekanan yang lebih berat justru datang dari sektor ekonomi dan penerbangan.
Mulai 23 September 2026, ancaman sanksi sekunder Amerika Serikat terhadap perusahaan yang memberikan layanan kepada maskapai Iran mulai berdampak.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan perusahaan dan bandara asing bahwa pelayanan seperti pengisian bahan bakar, ground handling, fasilitas pendaratan maupun penjualan tiket kepada maskapai Iran dapat menimbulkan risiko sanksi, termasuk hilangnya akses terhadap sistem keuangan berbasis dolar.
Dampaknya segera terlihat.
Penerbangan menuju Baghdad, Muscat, Azerbaijan dan sejumlah tujuan lainnya mengalami penghentian atau pembatasan. Namun penting dicatat bahwa sanksi tersebut tidak sepenuhnya menghentikan seluruh penerbangan internasional Iran. Pada 23 September, sejumlah pesawat Iran masih terpantau terbang menuju Bangkok, Phuket, Shanghai dan Kabul.
Tekanan juga menjalar ke maskapai asing. Turkish Airlines dilaporkan tidak menjadwalkan penerbangan menuju Iran hingga setidaknya Maret 2027, sementara sejumlah maskapai Turki lainnya juga menghapus rute Iran dari sistem pemesanan mereka.
Pada 28 September 2026, Organisasi Penerbangan Sipil Iran akhirnya mengajukan protes resmi kepada International Civil Aviation Organization atau ICAO, menentang pembatasan Amerika terhadap sektor penerbangan Iran.
Dengan demikian, Iran kini menghadapi tekanan di beberapa front sekaligus.
Di tenggara, pasukan keamanan menghadapi peningkatan aktivitas kelompok bersenjata hingga harus mengerahkan tank dan drone ke Iranshahr. Di arena diplomatik, perundingan dengan Washington kembali menemui kebuntuan. Sementara dalam bidang ekonomi, Amerika Serikat mencoba mempersempit akses Iran terhadap jaringan penerbangan dan keuangan internasional.
Inilah bentuk tekanan yang jauh berbeda dari perang konvensional.
Iran mungkin memiliki rudal yang mampu menjangkau sasaran militer ribuan kilometer jauhnya. Namun menghadapi jaringan sanksi finansial, pembatasan penerbangan, isolasi diplomatik, serta pemberontakan bersenjata di wilayah pegunungan merupakan tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan rudal.
Perkembangan hingga 1 Oktober 2026 bahkan menunjukkan ketegangan belum mereda. Iran telah menerima tanggapan resmi Amerika Serikat terhadap proposal terbaru untuk mengakhiri konflik, tetapi perbedaan mendasar masih bertahan. Mediator Qatar dan Pakistan terus berusaha mencari jalan keluar, sementara Washington meningkatkan tekanan ekonomi dan Teheran mempersiapkan kemungkinan respons yang lebih keras apabila kembali diserang.
Karena itu, pertanyaan terbesar saat ini bukan hanya apakah Iran dan Amerika Serikat akhirnya dapat mencapai kesepakatan.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: berapa lama Teheran mampu menghadapi tekanan secara bersamaan—konflik bersenjata di dalam negeri, isolasi ekonomi, tekanan diplomatik, dan ancaman eskalasi militer dari luar—sebelum salah satu front tersebut berubah menjadi krisis yang jauh lebih besar? (***)


