ITS dan UniMAP Semai Benih Ekosistem Semikonduktor Indonesia

Surabaya, 28 September 2026 – Di balik layar setiap telepon pintar, komputer, hingga kendaraan listrik, ada komponen kecil yang menjadi otaknya: semikonduktor. Tanpa komponen ini, teknologi modern yang kita nikmati sehari-hari tidak akan pernah ada.

Menyadari pentingnya penguasaan teknologi tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkuat kerja sama dengan Universiti Malaysia Perlis (UniMAP). Kolaborasi ini menjadi langkah awal membangun ekosistem semikonduktor Indonesia, dimulai dari pengembangan sumber daya manusia.

10 Dosen ITS Menimba Ilmu di Malaysia

Kolaborasi ini diwujudkan melalui keikutsertaan 10 dosen ITS dalam pelatihan microfabrication di Micro Fabrication Clean Room and Failure Analysis Laboratory, UniMAP, pada 19–27 September 2026.

Apa itu microfabrication? Secara sederhana, ini adalah proses pembuatan komponen elektronik berukuran sangat kecil—jauh lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Proses ini menjadi inti dari pembuatan chip dan berbagai perangkat semikonduktor.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kompetensi akademisi ITS dalam teknologi fabrikasi semikonduktor, sekaligus membuka peluang pengembangan pendidikan, penelitian, laboratorium, dan kerja sama dengan industri.

Mengapa Semikonduktor Begitu Penting?

Prof Dr Agung Purniawan ST MEng, Guru Besar ITS bidang Biomaterials and Surface Engineering, menjelaskan bahwa penguasaan teknologi semikonduktor semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi digital.

“Semikonduktor merupakan komponen inti dari berbagai teknologi modern, mulai dari telepon pintar, komputer, pusat data, kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan,” ujarnya.

“Karena itu, penguasaan teknologi dan rantai pasok semikonduktor tidak hanya berkaitan dengan industri dan ekonomi, tetapi juga dengan daya saing serta kemandirian teknologi,” tambah Kepala Pusat Studi Material Maju dan Nanoteknologi ITS tersebut.

Secara global, industri semikonduktor diproyeksikan terus berkembang hingga mencapai nilai pasar sekitar USD 1 triliun menjelang 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), komputasi, Internet of Things (IoT), dan berbagai teknologi digital lainnya.

Belajar dari Malaysia

Indonesia masih memiliki ruang pengembangan yang besar dalam membangun ekosistem semikonduktor. Salah satu pembelajaran dapat diperoleh dari Malaysia, yang telah merintis industri semikonduktornya sejak 1971.

Saat ini, Malaysia memiliki sekitar 93 perusahaan semikonduktor yang banyak terkonsentrasi di kawasan Pulau Pinang dan Kulim High Tech Park, Kedah. Negara tersebut juga memiliki perusahaan foundry lokal, SilTerra, yang didirikan pada 1995 dan mulai beroperasi besar-besaran pada 2001.

Foundry adalah fasilitas produksi yang memproduksi chip untuk perusahaan lain. Bayangkan seperti pabrik yang mencetak buku untuk berbagai penerbit.

Menurut Agung, hal penting yang dapat dipelajari dari Malaysia bukan semata-mata jumlah perusahaan yang telah berkembang, melainkan proses pembentukan ekosistem secara bertahap dengan melibatkan perguruan tinggi.

Sejumlah perguruan tinggi Malaysia turut berperan dalam pengembangan teknologi dan talenta semikonduktor, termasuk Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan UniMAP.

Apa yang Dipelajari di UniMAP?

Melalui pelatihan di UniMAP, para dosen ITS memperoleh pengalaman langsung mengenai simulasi dan proses fabrikasi MOSFET (Metal-Oxide-Semiconductor Field-Effect Transistor)—salah satu jenis transistor yang paling umum digunakan dalam perangkat elektronik.

Proses yang dipelajari mencakup tahapan fabrikasi perangkat semikonduktor, termasuk:

  • Deposisi material secara presisi dalam skala sangat kecil
  • Proses etsa (pengikisan material)
  • Doping (penambahan impurity untuk mengubah sifat material)
  • Pengujian hasil fabrikasi

“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kegiatan pendidikan, penelitian, pembangunan laboratorium, pengembangan talenta, serta kolaborasi yang lebih luas dengan industri,” tutur Agung.

Dua Pekerjaan Rumah yang Harus Berjalan Bersamaan

Menurut Agung, setidaknya ada dua pekerjaan yang perlu berjalan secara simultan untuk membangun ekosistem semikonduktor nasional.

Pertama, menciptakan kebijakan yang memberikan kepercayaan dan kepastian bagi industri semikonduktor untuk berinvestasi dan berkembang, hingga pada waktunya mampu membangun fasilitas foundry di Indonesia.

Kedua, perguruan tinggi perlu menyiapkan talenta yang menguasai teknologi semikonduktor secara menyeluruh, mulai dari desain, fabrikasi, karakterisasi, hingga pengembangan aplikasinya.

“Industri membutuhkan talenta, sementara talenta membutuhkan ekosistem industri untuk berkembang. Perguruan tinggi menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan keduanya,” ungkapnya.

Benih yang Sedang Disemai

Agung menegaskan bahwa industri, perguruan tinggi, sumber daya manusia, fasilitas riset, kebijakan pemerintah, dan investasi harus tumbuh bersama sebagai sebuah ekosistem. Tidak bisa berdiri sendiri.

Kolaborasi ITS–UniMAP menjadi salah satu langkah awal dalam perjalanan panjang membangun ekosistem semikonduktor Indonesia. Meskipun masih merupakan langkah kecil, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi menjadi fondasi penting bagi pengembangan tahap berikutnya.

“Kolaborasi ITS–UniMAP adalah salah satu benih yang sedang disemai. Harapannya, benih kecil ini kelak ikut tumbuh menjadi bagian dari ekosistem semikonduktor Indonesia yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkas Agung.

Mendukung SDGs

Penguatan kapasitas teknologi semikonduktor melalui pendidikan, riset, dan kolaborasi internasional ini sejalan dengan beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:

  • Poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas
  • Poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur
  • Poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Seperti benih yang membutuhkan tanah, air, nutrisi, dan waktu untuk tumbuh, ekosistem semikonduktor juga memerlukan konsistensi dan kesinambungan. Langkah ITS bersama UniMAP adalah awal dari perjalanan itu. (HUMAS ITS)

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berarti Annie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiri Walker Larson Si...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine