Wabah Demam Babi Melanda Sejumlah Wilayah Tiongkok, Peternak Terjebak dalam Krisis Kelangsungan Hidup

Wabah demam babi Afrika (African swine fever/ASF) dilaporkan muncul di berbagai wilayah Tiongkok. Sejumlah peternakan mengalami kematian massal pada babi. Peternak di berbagai daerah juga mengatakan bahwa kasus babi sakit dan penjualan babi lebih awal dalam jumlah besar meningkat secara signifikan. Seorang peternak dari Jiangxi mengatakan, meskipun tidak ada babi di peternakannya yang mati, ia tetap kesulitan menjualnya bahkan dengan harga murah karena kepanikan pasar.

EtIndonesia.com  Belakangan ini, wabah demam babi Afrika dilaporkan muncul di berbagai wilayah, termasuk Guangxi, Yunnan, Anhui, Jiangxi, Shandong, Henan, dan Shanxi. Banyak peternakan mengalami kematian babi dalam jumlah besar, sementara sebagian peternakan melakukan pemusnahan seluruh babi yang sakit.

Dilaporkan Jumat (2/10/2026), seorang pedagang yang membeli babi hidup, bermarga Wang, mengungkapkan bahwa wabah demam babi Afrika paling parah terjadi di Jiangxi. Sekitar 80% peternak skala kecil yang memelihara babi secara bebas dan 40% peternakan milik perusahaan besar disebut terdampak. Berikutnya adalah Hunan, Guangdong, dan Fujian, dengan sekitar separuh peternak skala kecil dilaporkan terdampak.

“Demam babi Afrika telah merebak secara luas di seluruh negeri. Terlalu banyak orang yang menjual babi sehingga harga babi normal langsung terdampak. Belakangan ini, babi yang dipotong di rumah-rumah pemotongan semuanya adalah babi kecil dan gemuk. Harganya 1 yuan per jin,” kata seorang perantara perdagangan babi di Henan, bermarga Wang. 

“Seekor babi seberat 150 jin hanya dihargai 150 yuan. Antrean babi yang akan dipotong sudah mencapai lebih dari 10 kilometer dan babi-babi itu dibawa untuk diproses lebih lanjut,” ujarnya. 

Peternak dari Jiangxi, Zhang Shujuan, memelihara lebih dari 30 ekor babi. Ia mengatakan bahwa tidak lama setelah sekolah kembali dibuka pada September, wabah demam babi mulai muncul di daerahnya. Sebagian orang sudah menjual babi mereka sebulan sebelumnya, sedangkan sekarang sudah tidak ada lagi yang datang membeli babi.

“Di sini kondisinya sangat parah. Tentu saja orang-orang sudah menjual babinya lebih awal. Sekarang sangat sulit untuk menjualnya. Karena babi ada di mana-mana, dan para pedagang babi bahkan tidak datang untuk mengangkutnya,” katanya. 

Zhang Shujuan memelihara babi jenis babi hutan (shan zhu). Ia mengatakan bahwa jenis babi ini relatif lebih tahan terhadap penyakit dan biasanya dapat dijual dengan harga lebih tinggi. Namun, peternak kecil sejak awal memang tidak memperoleh banyak keuntungan. Begitu kondisi pasar memburuk, mereka hampir tidak memiliki ruang untuk menanggung risiko.

“Bagi peternak seperti kami, beternak babi sebenarnya tidak menghasilkan banyak uang. Penghasilannya tidak banyak, kurang lebih sama seperti bekerja sebagai buruh. Setiap tahun selalu ada demam babi, tetapi tahun ini kondisinya lebih parah. Tidak ada babi di rumah kami yang mati, jadi kami menjualnya dengan harga murah. Sekarang masih ada anak babi di rumah yang belum terjual,” ujarnya. 

Ia mengatakan bahwa pembeli khawatir babi-babi tersebut terinfeksi penyakit sehingga mereka menekan harga. Jika babi mati, peternak juga harus menanggung biaya untuk menangani dan menguburkan bangkainya.

“Untuk babi yang sakit, harganya mungkin hanya 1 atau 2 yuan. Kalau ada yang mau datang mengangkutnya saja sudah bagus. Kalau tidak dijual, kami hanya bisa menyewa ekskavator untuk mengangkutnya dan menguburnya,” ujarnya. 

“Ekskavator juga harus disewa dan kami harus mengeluarkan uang. Uang itu tidak akan kembali. Tidak ada pilihan. Inilah kesedihan para peternak,” jelasnya. 

Bagi peternak skala kecil, meskipun babi yang sakit tidak dapat dijual, biaya pakan, tenaga kerja, dan pencegahan penyakit tetap bertambah setiap hari.

Peternak babi dari Shandong, bermarga Huang, mengatakan bahwa kawanan babinya dijual menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur. Saat itu, harga babi dengan bobot standar telah turun menjadi sedikit di atas 4 yuan per jin.

“Mental kami sebagai peternak babi saat ini benar-benar runtuh. Tekanannya sangat besar. Wabah memaksa kami menjual babi lebih awal. Kami terus menjual babi-babi yang bobotnya masih kecil. Peternak di seluruh negeri terburu-buru menjual babi, sehingga memicu kepanikan dan tekanan emosional,” katanya. 

Sejumlah peternak mengungkapkan bahwa tahun ini mereka telah mengalami wabah demam babi sebanyak dua kali. Satu kali setelah Tahun Baru Imlek, dan sekarang wabah tersebut kembali muncul. Sejumlah kawanan babi bahkan tetap terserang penyakit meskipun telah divaksinasi.

Warga Desa Gao’an, Yichun, Jiangxi, Zhang Shujuan, mengatakan: “Peternakan besar biasanya membeli asuransi, dan induk babi bisa diasuransikan. Kalau kami, tidak akan membeli asuransi. Untuk puluhan ekor babi, buat apa membeli asuransi? Tidak sepadan. Jadi, sebaiknya jangan beternak babi lagi. Tidak ada uang yang bisa diperoleh. Demam babi ini memang selalu parah, bukan hanya tahun ini. Setiap tahun selalu ada demam babi.”

Ada juga peternak yang membeli asuransi untuk babi mereka. Setelah banyak babi mati, mereka mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi.

“Peternak mengangkat babi-babi yang sakit dan menyusunnya berjajar, menunggu perusahaan asuransi datang untuk melakukan pemeriksaan dan memproses klaim. Tidak mudah menjadi peternak babi. Hati rasanya benar-benar seperti meneteskan darah,” ujar seorang pembawa acara siaran langsung dari daratan Tiongkok. 

Belakangan ini, Laos juga dilaporkan mengalami wabah demam babi Afrika yang parah. Ada pihak yang mengungkapkan bahwa sejumlah besar babi yang sakit dan mati sedang dibawa masuk ke wilayah Tiongkok untuk diproses lebih lanjut. Muncul pertanyaan: sebenarnya ke mana perginya babi-babi yang sakit dan mati tersebut?

Li Yun/Gu Xiaohua/Tony – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine