Dokumen Rahasia Bocor! Rusia–Tiongkok Sudah Lama Cari Cara Lumpuhkan Starlink

EtIndonesia.com  Perang Rusia-Ukraina kini tidak lagi hanya berlangsung di darat, laut, dan udara. Persaingan semakin bergerak ke ruang angkasa, terutama setelah komunikasi satelit terbukti menjadi salah satu unsur penting dalam peperangan modern. Di tengah kekhawatiran Ukraina terhadap pembangunan jaringan satelit Rassvet milik Rusia, muncul kembali fakta bahwa Moskow dan Beijing ternyata telah mempelajari berbagai cara untuk menghadapi jaringan Starlink sejak beberapa tahun lalu.

Informasi penting mengenai kerja sama tersebut terungkap pada 9 Juli 2026, ketika investigasi bersama The Insider, Der Spiegel, dan Le Monde mempublikasikan sejumlah dokumen mengenai kerja sama teknologi militer Rusia dan Tiongkok. Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa pembicaraan kedua negara tidak hanya menyangkut kerja sama pertahanan secara umum, tetapi telah masuk ke persoalan teknis yang jauh lebih spesifik, termasuk bagaimana menghadapi jaringan satelit Starlink milik SpaceX.

Dokumen yang diperoleh para jurnalis mencakup empat materi presentasi yang disampaikan dalam forum kerja sama teknologi militer Tiongkok-Rusia serta sebuah protokol kerja bilateral dari perundingan yang berlangsung di Moskow pada Juni 2023. Salah satu pertemuan terpenting berlangsung dalam Forum Kerja Sama Teknologi Militer Tiongkok-Rusia Ketiga di Guangzhou pada November 2023. Forum bilateral tersebut sebelumnya tidak dipublikasikan secara terbuka.

Dalam pertemuan itulah, menurut dokumen yang bocor, pihak Tiongkok memaparkan sejumlah pendekatan untuk membatasi, mengganggu, bahkan dalam skenario paling ekstrem melumpuhkan jaringan Starlink.

Strategi Berlapis untuk Menghadapi Starlink

Pendekatan yang dibahas tidak bergantung pada satu jenis senjata. Sebaliknya, konsep tersebut menggunakan beberapa lapisan tekanan yang dapat diterapkan secara bertahap.

Lapisan pertama berkaitan dengan orbit, spektrum frekuensi, serta tekanan hukum dan diplomatik. Tiongkok dan Rusia disebut membahas kemungkinan mengoordinasikan tekanan melalui mekanisme internasional, sekaligus memperebutkan sumber daya orbit dan spektrum radio yang dibutuhkan untuk memperluas jaringan komunikasi satelit.

Dalam peperangan satelit modern, persoalan frekuensi dan posisi orbit sangat penting. Konstelasi seperti Starlink membutuhkan ribuan satelit di orbit rendah Bumi serta spektrum komunikasi agar terminal di permukaan dapat terhubung dengan jaringan. Karena itu, persaingan tidak selalu harus dimulai dengan penghancuran satelit secara fisik.

Lapisan kedua memasuki wilayah yang lebih agresif, yakni perang elektronik dan operasi siber.

Dokumen tersebut membahas penggunaan gangguan elektromagnetik untuk menghambat komunikasi Starlink di kawasan tertentu. Selain itu, terdapat pembahasan mengenai operasi siber yang memanfaatkan terminal pengguna sebagai salah satu jalur untuk menyerang jaringan. Dengan pendekatan seperti ini, tujuan utamanya bukan menghancurkan seluruh konstelasi di ruang angkasa, tetapi mengurangi atau memutus kemampuan pengguna untuk memanfaatkan jaringan tersebut pada wilayah tertentu.

Kemudian terdapat lapisan ketiga—dan paling ekstrem—yaitu kemampuan antisatelit.

Dokumen yang dipublikasikan dalam investigasi tersebut menunjukkan adanya pembahasan mengenai pengembangan cara berbiaya relatif rendah untuk menghancurkan satelit Starlink di orbit rendah Bumi. Artinya, dalam skenario konflik besar, ruang angkasa dapat berubah menjadi medan pertempuran secara langsung.

Namun ada batas penting yang harus diperhatikan. Pembahasan mengenai konsep, proposal, atau penelitian semacam itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh sistem tersebut telah selesai dikembangkan atau sudah dikerahkan secara operasional. Sejumlah ahli juga mempertanyakan seberapa praktis upaya menghancurkan jaringan Starlink secara luas karena konstelasi tersebut terdiri atas ribuan satelit yang tersebar di orbit.

Kerja Sama Militer yang Lebih Dalam dari Pernyataan Publik

Justru di sinilah dokumen tersebut menjadi penting.

Secara terbuka, Moskow dan Beijing selama bertahun-tahun menekankan bahwa hubungan pertahanan mereka tidak diarahkan untuk melawan negara tertentu. Namun materi yang terungkap memperlihatkan pembahasan teknologi yang jauh lebih konkret.

Starlink bukan satu-satunya persoalan.

Dokumen yang diperoleh para jurnalis juga mencakup senjata ruang angkasa dan penghancuran satelit, sistem pertahanan udara dan pertahanan antirudal terintegrasi, munisi berkeliaran otonom yang beroperasi secara berkelompok atau “swarm”, kendaraan tempur lapis baja generasi baru, serta teknologi penerbangan militer.

Bahkan sebelum forum Guangzhou pada November 2023, delegasi Tiongkok dilaporkan telah melakukan pembicaraan di Moskow pada Juni 2023 dengan Almaz-Antey, salah satu perusahaan pertahanan udara utama Rusia. Investigasi menyebut data penerbangan para peserta digunakan untuk membantu memverifikasi keberadaan delegasi yang tercantum dalam dokumen tersebut.

Dengan demikian, yang muncul bukan sekadar pembicaraan teoritis tentang masa depan perang. Dokumen itu menggambarkan hubungan teknologi pertahanan Rusia-Tiongkok yang semakin terstruktur dan mencakup berbagai bidang sekaligus.

Mengapa Ukraina Sangat Mengkhawatirkan Rassvet?

Semua perkembangan tersebut kini menjadi semakin relevan karena Rusia sedang membangun jaringan internet satelitnya sendiri yang dikenal sebagai Rassvet, proyek yang dikembangkan Bureau 1440 dan kerap digambarkan sebagai alternatif Rusia terhadap Starlink.

Pada 23 Maret 2026, Rusia mulai menempatkan kelompok satelit Rassvet ke orbit. Peluncuran berikutnya dilakukan pada 19 Juli 2026. Hingga awal September, sebanyak 32 satelit produksi telah diluncurkan dalam dua kelompok, meskipun sebagian satelit dilaporkan mengalami masalah dalam mencapai orbit yang direncanakan.

Menurut informasi yang disampaikan intelijen militer Ukraina pada 10 Agustus 2026, Moskow mempercepat pengembangan jaringan tersebut. Rencana yang disebutkan Ukraina mencakup sekitar 292 satelit pada 2027 dan akhirnya 924 satelit pada 2035.

Kekhawatiran Kyiv semakin besar karena persoalannya bukan semata-mata menyediakan internet.

Dalam peperangan modern, koneksi satelit dapat menghubungkan unit tempur, pusat komando, sensor pengintaian, operator drone, dan sistem serangan jarak jauh. Informasi dari medan perang dapat dikirim ke pusat komando, target dapat diidentifikasi, koordinat dapat diteruskan kepada unit penyerang, kemudian hasil serangan dapat kembali diamati dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Inilah yang membuat jaringan komunikasi orbit rendah memiliki nilai strategis begitu besar.

Pada 30 September 2026, Ukraina kembali mendesak Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan dan individu Rusia yang terlibat dalam pembangunan Rassvet. Kyiv memperingatkan bahwa apabila jaringan tersebut mencapai kemampuan operasional yang jauh lebih besar, Rusia berpotensi memperoleh kemampuan komunikasi yang semakin kuat untuk mendukung operasi militernya.

Pertempuran Masa Depan Bisa Berlangsung di Orbit

Karena itu, kekhawatiran Ukraina sebenarnya tidak berhenti pada jumlah satelit Rusia yang sudah berada di orbit saat ini.

Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan terbentuknya rantai peperangan digital yang lengkap: satelit melakukan komunikasi dan membantu pengumpulan informasi, jaringan menghubungkan pasukan di medan tempur, drone menemukan atau menyerang sasaran, sementara sistem komando memproses informasi dan mengoordinasikan serangan dalam waktu singkat.

Apabila seluruh unsur tersebut berhasil dipadukan, Rassvet tidak lagi sekadar menjadi “internet dari luar angkasa”, tetapi dapat menjadi salah satu bagian dari infrastruktur perang Rusia.

Pada saat bersamaan, bocoran dokumen dari 2023 menunjukkan bahwa Rusia dan Tiongkok telah lama memikirkan sisi lain dari persaingan tersebut: bukan hanya bagaimana membangun jaringan mereka sendiri, tetapi juga bagaimana mengurangi keunggulan jaringan satelit lawan.

Perkembangan ini memperlihatkan perubahan besar dalam karakter peperangan modern. Dulu, menguasai langit berarti memiliki pesawat tempur dan sistem pertahanan udara yang lebih kuat. Kini, orbit rendah Bumi juga mulai menjadi bagian penting dari perebutan keunggulan militer.

Dan bagi Ukraina, ancaman terbesarnya mungkin bukan satu satelit, satu drone, atau satu rudal.

Ancaman sesungguhnya adalah ketika satelit, komunikasi, pengintaian, kecerdasan buatan, drone, dan senjata jarak jauh terhubung menjadi satu jaringan peperangan yang mampu menemukan sasaran, mengambil keputusan, dan menyerang dalam waktu semakin singkat.

Jika kecenderungan tersebut terus berkembang, perang di Ukraina dapat menjadi salah satu contoh paling jelas bahwa konflik abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang menguasai wilayah di permukaan bumi—tetapi juga oleh siapa yang mampu menguasai jaringan informasi ratusan kilometer di atasnya. (***)

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berarti Annie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiri Walker Larson Si...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine