EtIndonesia.com Setelah parlemen Spanyol pada 2 Oktober menolak rancangan undang-undang perlindungan penyewa, lebih dari 50 kota berencana menggelar aksi protes perumahan pada Sabtu (3/10/2026). Krisis perumahan di Spanyol belakangan ini semakin meluas. Pemicu kemarahan publik adalah pengusiran seorang perempuan berusia 87 tahun di ibu kota Madrid, yang memicu kemarahan masyarakat terhadap tingginya harga sewa.
Menurut laporan Euronews pada 3 Oktober, parlemen Spanyol pada 2 Oktober menolak dua dekret pemerintah yang bertujuan memperkuat perlindungan bagi penyewa. Setelah itu, para demonstran merencanakan aksi pawai di lebih dari 50 kota di Spanyol pada hari ini.
Serikat Penyewa (Tenants’ Union), yang mengkoordinasikan aksi protes tersebut, menyerukan masyarakat untuk ikut serta dalam demonstrasi.
Dalam pernyataannya, serikat tersebut mengatakan, “Terdapat kesenjangan yang tidak dapat dijembatani antara keinginan masyarakat dan hasil pemungutan suara partai-partai politik.”
Di Madrid, rombongan pawai akan berangkat sekitar tengah hari dari berbagai lokasi di kota dan berkumpul di Plaza de Cibeles di pusat kota. Sebelumnya, sejumlah aktivis telah mendirikan aksi menetap selama hampir satu minggu di Plaza Puerta del Sol, salah satu alun-alun wisata utama di ibu kota Spanyol.
Pemicu kemarahan ini adalah pengusiran Maricarmen Abascal, seorang perempuan berusia 87 tahun. Pada 23 September, ia dibawa keluar menggunakan tandu dari apartemen di Madrid yang telah ditempatinya selama hampir 70 tahun.
Plaza España abarrotada ahora mismo, justo antes de comenzar la manifestación. Esto es Madrid ❤️ https://t.co/F5H6HxdD3W
— Euge (@eeugee_) October 3, 2026
Aktivis hak-hak perumahan mengatakan sebuah perusahaan investasi membeli properti tersebut dan berusaha menaikkan uang sewanya hingga 275%. Setelah mendapat tekanan keras dari opini publik, pemilik baru akhirnya setuju membiarkannya kembali tinggal di sana dengan harga sewa yang lebih rendah.
Pemerintah kemudian menyusun langkah-langkah untuk menghadapi aksi protes nasional yang meletus setelah kejadian tersebut. Proposal yang ditolak pada Jumat (2 Oktober) sebelumnya mengatur agar kontrak sewa diperpanjang secara otomatis setelah masa kontrak berakhir, serta membatasi pengusiran terhadap penyewa yang berada dalam kondisi rentan.
Proposal tersebut juga menyasar apa yang disebut “vulture funds” (dana burung pemakan bangkai), yaitu perusahaan investasi yang membeli properti dengan harga murah demi memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.
Menurut laporan, dekret-dekret tersebut ditentang oleh Junts dengan alasan bahwa aturan tersebut tidak cukup ketat. Pemimpin oposisi utama dari Partai Rakyat (PP), Alberto Núñez Feijóo, setelah pemungutan suara mendesak pemerintah saat ini untuk “segera mengadakan pemilihan umum.”
Ia mengatakan bahwa setelah delapan tahun berkuasa, perdana menteri “tidak lagi mendapatkan dukungan rakyat maupun dukungan parlemen.”
Selama bertahun-tahun, masalah perumahan menjadi salah satu isu yang paling menjadi perhatian masyarakat Spanyol. Seperti negara-negara Uni Eropa lainnya, pasokan perumahan di Spanyol jauh tidak mampu memenuhi permintaan, sementara harga rumah terus melonjak.
Menurut data situs properti Idealista, dalam sepuluh tahun terakhir, rata-rata harga sewa di Spanyol hampir berlipat dua, sementara harga yang diminta untuk properti juga meningkat sekitar 90%.
Diterjemahkan oleh reporter Jin Hong / Editor Yue Yuan – NTDTV.com


