EtIndonesia.com Dampak dari gelombang protes yang melanda seluruh negeri, Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray pada 4 Oktober mengatakan bahwa sebanyak 500 sekolah di seluruh Prancis akan ditutup total atau sebagian pada 5 Oktober. Sejak gerakan protes dimulai, sebanyak 24 sekolah telah “dibakar atau dijarah”.
Valérie Pécresse, kepala wilayah Île-de-France di sekitar ibu kota Prancis, mengatakan kepada franceinfo bahwa lebih dari sepertiga dari 468 sekolah menengah di wilayah tersebut akan ditutup besok akibat aksi protes.
Para siswa sekolah menengah di Prancis menuding adanya berbagai persoalan, termasuk kekurangan tenaga pengajar yang parah, jam pelajaran yang terlalu panjang, serta gedung sekolah yang sudah tua, yang berdampak pada pendidikan mereka.
Menurut laporan AFP, Geffray mengatakan bahwa penutupan sekolah ini terutama merupakan langkah pencegahan keamanan untuk mengantisipasi seruan para pemimpin gerakan agar digelar aksi protes besar-besaran pada 6 Oktober. Namun, ia juga berjanji akan “memulihkan kegiatan belajar secara bertahap dan sebagian”.
Gerakan ini bermula pada 17 September dari sebuah sekolah di Paris. Pekan lalu, gerakan tersebut telah berkembang menjadi aksi protes berskala nasional. Bentrokan antara siswa dan aparat keamanan terjadi di berbagai wilayah, sementara polisi menggunakan gas air mata dan tongkat untuk menghadapi para pelajar.
“Ada aktivis, khususnya dari kelompok kiri ekstrem, yang menyusup ke dalam gerakan pelajar sekolah menengah, membuat gerakan tersebut menyimpang dari tujuan awal para siswa dan menghasut kekerasan ekstrim,” kata Geffray. Ia menilai kondisi tersebut jelas menimbulkan risiko bagi staf pengajar maupun siswa.
Sejak gerakan tersebut dimulai, sebanyak 78 tenaga pendidik telah terluka.
Sebagai tanggapan terhadap tuntutan para siswa, Perdana Menteri Sébastien Lecornu pada 4 Oktober mengumumkan jadwal kerja dan mendesak pemerintah daerah untuk memprioritaskan pengisian kekurangan tenaga kerja serta posisi yang telah lama kosong.
Ia juga mengumumkan bahwa pada 6 Oktober akan mengundang para kepala daerah dari seluruh wilayah untuk membahas perbaikan sebagian besar gedung sekolah yang sudah tua di seluruh Prancis.
Sejak gerakan protes tersebut pecah, lebih dari 5.000 orang telah ditangkap, dan 85% di antaranya adalah anak di bawah umur. Sementara itu, sejumlah pihak mengkritik polisi karena dianggap menggunakan tindakan berlebihan terhadap anak-anak.


