Dua Gerbang Minyak Dunia Terancam! Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Jadi Titik Ledak Perang

EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kini tidak lagi hanya berpusat pada Selat Hormuz. Perkembangan perang di Yaman sepanjang September hingga awal Oktober 2026 telah membuat perhatian dunia beralih ke satu jalur laut lain yang tidak kalah penting, yakni Selat Bab el-Mandeb.

Kedua selat ini berada di sisi yang berbeda dari Semenanjung Arab, tetapi memiliki peran yang saling berkaitan dalam perdagangan energi dunia. Selat Hormuz menjadi pintu keluar utama Teluk Persia menuju Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sementara Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan selanjutnya Samudra Hindia.

Masalahnya, ketika salah satu jalur terganggu, jalur lainnya menjadi semakin penting. Dan kini, ketika Hormuz masih menghadapi risiko keamanan tinggi, Bab el-Mandeb justru ikut terseret ke pusat konflik.

Hormuz Terganggu, Bab el-Mandeb Menjadi Jalur Alternatif

Perubahan besar mulai terjadi setelah pecahnya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut mengakibatkan lalu lintas energi melalui Selat Hormuz mengalami gangguan serius.

Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA menunjukkan betapa dramatisnya perubahan itu. Volume minyak yang melewati Hormuz diperkirakan turun dari sekitar 21,6 juta barel per hari pada kuartal keempat 2025 menjadi hanya sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026.

Dalam kondisi tersebut, Arab Saudi memiliki keuntungan geografis yang tidak dimiliki semua negara produsen minyak di Teluk Persia.

Kerajaan itu memiliki jaringan pipa East-West Pipeline, yang memungkinkan minyak dari kawasan timur Arab Saudi dialirkan melintasi daratan menuju kawasan Yanbu di pesisir Laut Merah. Dengan demikian, sebagian ekspor minyak Saudi tidak perlu melewati Hormuz.

Dari Yanbu, kapal tanker dapat berlayar ke selatan melalui Laut Merah, melewati Bab el-Mandeb, kemudian memasuki Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Akibat perubahan jalur tersebut, arti strategis Bab el-Mandeb meningkat tajam.

Menurut data EIA yang menggunakan analisis pergerakan kapal Vortexa, total aliran minyak melalui Bab el-Mandeb melonjak dari sekitar 5,6 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026 menjadi 8,1 juta barel per hari pada kuartal kedua. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,1 juta barel per hari berupa minyak mentah dan kondensat.

Dengan kata lain, ketika Hormuz bermasalah, tekanan terhadap jaringan pengiriman energi dunia berpindah ke Laut Merah.

Namun, justru ketika jalur alternatif tersebut semakin dibutuhkan, situasi keamanan di Yaman berubah drastis.

September 2026: Houthi Bergerak ke Pesisir Laut Merah

Pada September 2026, kelompok Houthi melancarkan serangkaian operasi di sepanjang pantai barat Yaman.

Salah satu perkembangan terpenting terjadi pada 10 September 2026, ketika Houthi merebut kota pelabuhan strategis Mokha. Setelah itu, mereka bergerak menuju Dhubab dan sejumlah pulau penting di Laut Merah.

Pada 11 September, laporan dari Yaman menyebut Houthi telah menguasai Dhubab dan Pulau Perim atau Mayyun, yang terletak tepat di kawasan Bab el-Mandeb. Perkembangan tersebut secara signifikan meningkatkan kemampuan kelompok itu untuk mengawasi maupun mengancam lalu lintas kapal di selat.

Pergerakan mereka belum berhenti.

Pada pertengahan September, Houthi juga dilaporkan menguasai Greater Hanish dan Lesser Hanish, bagian dari Kepulauan Hanish yang terletak di Laut Merah. Dengan demikian, posisi mereka tidak hanya berada di daratan Yaman, tetapi juga menyebar ke sejumlah pulau yang memiliki nilai strategis bagi pengawasan jalur pelayaran.

Perubahan peta kekuasaan tersebut menjadi masalah serius bagi Arab Saudi.

Sebab jalur yang sebelumnya digunakan Riyadh untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz kini berada jauh lebih dekat dengan wilayah operasi Houthi.

Tidak Perlu Menutup Selat Secara Resmi

Ancaman terhadap Bab el-Mandeb tidak selalu berarti Houthi harus memblokade selat secara fisik.

Dalam perdagangan maritim modern, persepsi risiko saja dapat mengubah keputusan perusahaan pelayaran.

Houthi memiliki pengalaman menggunakan rudal antikapal, drone, kapal tanpa awak dan berbagai bentuk serangan terhadap sasaran maritim. Jika persenjataan semacam itu ditempatkan di pesisir dan pulau-pulau strategis, maka kapal dagang yang melintas harus memperhitungkan risiko jauh lebih besar.

Perusahaan asuransi kemudian dapat menaikkan premi perang. Pemilik kapal dapat meminta tarif angkutan lebih tinggi. Awak kapal membutuhkan kompensasi tambahan, sementara perusahaan energi mungkin memilih jalur yang lebih panjang demi mengurangi risiko.

Karena itu, sebuah selat tidak harus benar-benar ditutup untuk menimbulkan gangguan ekonomi.

Cukup dengan membuat kemungkinan serangan menjadi terlalu tinggi, perusahaan pelayaran dapat mengambil keputusan untuk menghindari kawasan tersebut.

Situasi ini sangat penting karena Bab el-Mandeb merupakan gerbang menuju Laut Merah dan Terusan Suez. Jika kapal menghindari jalur tersebut, salah satu alternatifnya adalah memutar jauh mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Perjalanan menjadi lebih panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, ketersediaan kapal tanker semakin ketat dan biaya pengiriman ikut melonjak.

Pemerintah Yaman dan Saudi Mulai Membalas

Situasi kemudian kembali berubah pada 5 Oktober 2026.

Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan balasan besar untuk merebut kembali kawasan di sekitar Bab el-Mandeb. Reuters melaporkan pasukan pemerintah berhasil merebut kembali sejumlah wilayah hingga kawasan Mokha, dengan dukungan serangan udara Saudi. Namun, Houthi membantah sebagian klaim mengenai skala kemajuan pasukan pemerintah.

Associated Press juga melaporkan pasukan pemerintah berhasil merebut kembali Dhubab dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Pertempuran tersebut menunjukkan bahwa penguasaan Bab el-Mandeb kini menjadi salah satu sasaran strategis terpenting dalam perang Yaman.

Dengan demikian, peta kendali di kawasan ini masih sangat dinamis. Wilayah yang jatuh ke tangan Houthi pada September kini menjadi sasaran operasi balasan pemerintah Yaman dan sekutunya.

Dampaknya Bisa Sampai ke Konsumen Dunia

Persoalan Bab el-Mandeb pada akhirnya bukan sekadar persoalan Yaman, Iran ataupun Arab Saudi.

Gangguan terhadap jalur laut strategis akan memengaruhi rantai logistik energi secara global.

Pada akhir September, Arab Saudi memang berhasil mengaktifkan kembali East-West Pipeline setelah fasilitas tersebut sempat terganggu akibat serangan drone pada 11 September. Operasi pipa kembali berjalan pada 22 September dan pengiriman dari Yanbu kembali meningkat.

Namun, memiliki pipa menuju Laut Merah tidak akan sepenuhnya menyelesaikan persoalan apabila jalur laut setelah Yanbu juga menghadapi ancaman.

Itulah mengapa Bab el-Mandeb menjadi sangat penting.

Dunia kini menghadapi situasi yang tidak biasa: Hormuz di timur Semenanjung Arab dan Bab el-Mandeb di barat daya sama-sama berada dalam bayang-bayang konflik.

Bahkan ketika volume ekspor minyak Timur Tengah mulai pulih pada September, biaya logistik tetap sangat tinggi. Reuters melaporkan tarif kapal tanker pada sejumlah rute Timur Tengah-Asia melonjak drastis akibat tingginya risiko, keterbatasan kapal, serta biaya asuransi.

Jika risiko keamanan di Bab el-Mandeb kembali meningkat, efeknya dapat merambat dari perusahaan pelayaran menuju pasar minyak internasional.

Harga minyak mentah dapat terdorong naik. Biaya pengiriman barang meningkat. Harga avtur ikut tertekan. Perusahaan penerbangan menghadapi ongkos lebih besar. Industri yang bergantung pada energi dan transportasi juga akan meneruskan sebagian biaya tersebut kepada konsumen.

Pada akhirnya, konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat muncul dalam bentuk harga tiket pesawat yang lebih mahal, ongkos pengiriman yang meningkat, biaya produksi yang lebih tinggi, hingga kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Karena itulah pertempuran memperebutkan pesisir Yaman bukan sekadar perebutan beberapa kota dan pulau.

Di balik Mokha, Dhubab, Mayyun dan Kepulauan Hanish terdapat sebuah pertarungan yang jauh lebih besar: siapa yang mampu mengamankan—atau mengancam—salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Jika Selat Hormuz merupakan pintu keluar utama Teluk Persia, maka Bab el-Mandeb adalah gerbang selatan Laut Merah.

Dan ketika kedua gerbang itu berada dalam tekanan pada saat yang hampir bersamaan, dunia menghadapi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar kekurangan minyak.

Yang dipertaruhkan adalah kemampuan untuk mengangkut minyak tersebut dengan aman, cepat, dan dengan biaya yang masih dapat ditanggung pasar global. (***)

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine