Karanganyar, Jawa Tengah – Berawal dari produksi sekitar 50 kilogram teh per bulan dengan modal Rp8 juta, Teh Gambyong Kemuning kini berkembang menjadi salah satu produk olahan teh asal Kabupaten Karanganyar yang memiliki jangkauan pasar hingga berbagai wilayah Indonesia. Perkembangan tersebut tidak hanya ditopang oleh kemitraan dengan petani, tetapi juga pembinaan Bank Indonesia yang mulai diterima sejak 2019.
Usaha yang dirintis Eko Wuryanto Wicaksono pada 2014 itu berangkat dari potensi perkebunan teh di kawasan Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Saat itu, Eko melihat kawasan perkebunan teh tidak hanya memiliki potensi sebagai sentra pertanian, tetapi juga semakin dikenal sebagai tujuan wisata.
Dari peluang tersebut, Eko mulai mengembangkan usaha pengolahan teh secara bertahap. Pada tahun pertama, skala produksi masih relatif kecil, sekitar 50 kilogram per bulan. Setahun kemudian, Eko mulai membangun kemitraan dengan petani setempat untuk memastikan ketersediaan bahan baku.
“Saya bekerja sama dengan warga mulai tahun 2015. Jadi 2014 saya merintis usaha, terus 2015 kita kumpul dengan para petani, dengan kelompok tani untuk membahas bagaimana saya bisa disuplai bahan bakunya oleh para petani,” jelas Eko.
Kemitraan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi perkembangan Teh Gambyong. Kini, usaha tersebut bermitra dengan sekitar 26 petani yang tergabung dalam satu gabungan kelompok tani (gapoktan), dengan total lahan mencapai kurang lebih 50 hektare.
Pertumbuhan itu juga terlihat dari kapasitas produksi. Jika pada awal usaha produksinya baru sekitar 50 kilogram per bulan, kini Teh Gambyong mampu memproduksi sekitar 5-6 ton per bulan, meski jumlah produksi tetap dipengaruhi kondisi cuaca dan musim.
Bertumbuh Bersama Pembinaan Bank Indonesia
Perubahan penting dalam perjalanan Teh Gambyong terjadi ketika usaha tersebut menjadi UMKM binaan Bank Indonesia pada 2019. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada aspek promosi, tetapi juga peningkatan kapasitas produksi melalui dukungan sarana dan prasarana.
Menurut Eko, sejumlah peralatan yang diberikan membantu proses pengolahan dan perawatan tanaman teh. Dukungan tersebut antara lain berupa alat pemangkas dan mesin pemetik serta berbagai peralatan yang menunjang kegiatan produksi.
“Bagaimana meningkatkan kapasitas produksi dengan memberikan sarpras bantuan berupa alat-alat,” ujar Eko.
Dukungan tersebut, menurut Eko, turut meningkatkan kapasitas produksi sekitar 30-40 persen dibandingkan kondisi sebelum mendapatkan pembinaan.
Dengan demikian, pembinaan Bank Indonesia tidak hanya memberikan akses terhadap kegiatan promosi, tetapi juga membantu Teh Gambyong meningkatkan kemampuan produksinya. Dari usaha yang pada awalnya hanya menghasilkan puluhan kilogram per bulan, kapasitas produksi kini telah mencapai beberapa ton setiap bulan.
Dari Pasar Lokal Menuju Pasar Nasional
Pertumbuhan produksi kemudian diikuti dengan perluasan pemasaran. Teh Gambyong kini telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia, dengan Jawa Tengah dan kawasan Jabodetabek menjadi salah satu pasar utamanya.
Kesempatan mengikuti berbagai pameran dan kegiatan promosi turut membuka akses pasar baru. Dalam berbagai kegiatan tersebut, Teh Gambyong dapat bertemu dengan calon pembeli dari luar daerah dan memperkenalkan produk teh asal Kemuning kepada pasar yang lebih luas.
Perkembangan produk juga dilakukan dengan tidak bergantung pada satu jenis teh. Dari tanaman teh yang sama, Teh Gambyong mengembangkan berbagai kategori, mulai dari teh hijau, teh hitam, teh putih hingga teh oolong.
Produk-produk tersebut kemudian dikembangkan menjadi sekitar 16 varian dengan pilihan rasa yang beragam. Selain teh original, terdapat varian melati, jahe, rempah, serai, leci hingga markisa.
Salah satu karakter yang menjadi identitas Teh Gambyong adalah cita rasanya yang disebut memiliki sensasi menyerupai kopi.
“Jadi ada keunikan rasa tersendiri yang tidak dimiliki perkebunan lain,” tutur Eko.
Produksi Tumbuh, Tantangan Tetap Ada
Meski mengalami pertumbuhan, produksi Teh Gambyong masih menghadapi tantangan dari faktor alam. Kondisi cuaca sangat memengaruhi pertumbuhan pucuk teh yang menjadi bahan baku utama.
Pada musim penghujan, produksi dapat mencapai sekitar 1-1,5 ton per hari. Namun, ketika memasuki musim kemarau, produksinya dapat turun menjadi sekitar 300-600 kilogram per hari.
Fenomena El Nino juga dapat memberikan dampak terhadap produksi karena kondisi yang lebih kering menyebabkan pertumbuhan pucuk teh menurun. Sementara itu, periode panen raya umumnya berlangsung pada musim penghujan, sekitar Januari hingga Mei atau Juni.
Kondisi tersebut membuat kesinambungan produksi menjadi salah satu hal yang harus terus dijaga melalui kemitraan dengan para petani.
Tak Hanya Menjual Teh
Seiring berkembangnya usaha, Teh Gambyong juga tidak berhenti pada kegiatan produksi dan pemasaran. Usaha ini mulai mengembangkan wisata edukasi yang memungkinkan pengunjung melihat secara langsung proses pengolahan teh.
Kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi datang untuk mempelajari proses produksi teh, mulai dari kebun, pengolahan, hingga menjadi produk yang siap diseduh.
Perjalanan Teh Gambyong menunjukkan bagaimana sebuah usaha berbasis komoditas lokal dapat tumbuh melalui penguatan dari hulu hingga hilir. Kemitraan dengan petani menjaga ketersediaan bahan baku, sementara pengembangan produk dan perluasan pasar membuka peluang pertumbuhan usaha.
Di sisi lain, pembinaan Bank Indonesia sejak 2019 menjadi salah satu bagian dari perjalanan pengembangan Teh Gambyong, terutama melalui dukungan sarana produksi dan akses promosi. Dari produksi sekitar 50 kilogram per bulan pada masa awal, Teh Gambyong kini telah berkembang dengan kapasitas produksi mencapai 5-6 ton per bulan dan pemasaran yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa potensi lokal tidak berhenti sebagai komoditas pertanian. Dengan pengolahan, inovasi, kemitraan dan pendampingan yang berkelanjutan, teh dari lereng Kemuning dapat tumbuh menjadi produk UMKM yang memiliki pasar lebih luas.


