Model Wanita Belarus Tewas di Myanmar, Organ Tubuh Diduga Diambil, Keluarga Diminta Tebusan US$500.000 

Model sekaligus penyanyi asal Belarus, Vera Kravtsova, yang saat itu berusia 26 tahun, diculik ke kompleks penipuan di Myanmar setelah pergi ke Thailand tahun lalu. Ia diduga menjadi korban pengambilan organ secara paksa dan meninggal secara tragis. Sebelumnya, beredar laporan bahwa keluarganya diperas sebesar US$500.000 untuk mendapatkan kembali jenazahnya. Kabar terbaru menyebutkan bahwa otoritas Myanmar telah menjatuhkan hukuman 21 tahun penjara disertai kerja paksa kepada lima pelaku asal Myanmar yang terlibat dalam kasus tersebut.

EtIndonesia.com Menurut laporan Democratic Voice of Burma (DVB) pada 6 Oktober, pada 1 Oktober, Pengadilan Distrik Mingalar Taung Nyunt di Yangon menjatuhkan hukuman 21 tahun penjara disertai kerja paksa kepada lima warga Myanmar yang terlibat dalam membujuk dan merekrut seorang perempuan asal Belarus. Putusan tersebut didasarkan pada Pasal 38(a) Undang-Undang Pemberantasan Perdagangan Manusia.

Kelima terdakwa tersebut adalah Kyaw Thu (alias Zaw Kyaw Thu), Hsin Min Tun, Ye Lin Tun (alias Ko Ye), Ni Ni Htet, dan Ma Nan Paung Hnin (alias Sophia, Li Li, atau Jing Jing). Mereka dituduh merekrut dan membawa perempuan tersebut ke Myanmar dengan iming-iming uang serta keuntungan lainnya.

Selain itu, lima orang yang diduga terlibat dalam mengirim perempuan tersebut ke kompleks penipuan di Myanmar, memaksanya bekerja, serta mengeksploitasi upahnya, yakni Myo Zaw Lin, Wa Thon Aung (alias Wa Thon), Yan Paing Soe (alias Ah Nge Lay), serta dua warga Tajikistan, MUKAIR SHOEV RUSTAM dan ODINAEN ALIJON, masih buron. Pengadilan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap mereka.

Menurut laporan media Myanmar dan Rusia sebelumnya, Vera memiliki gelar universitas. Ia sebelumnya pindah dari Minsk, ibu kota Belarus, ke St. Petersburg, Rusia. Ia pernah menjadi peserta acara pencarian bakat setempat dan berprofesi sebagai penyanyi sekaligus model.

Pada awal September 2025, ia melihat tawaran pekerjaan paruh waktu sebagai model dengan bayaran tinggi melalui internet. Ia membeli tiket pesawat dan pada 12 September pergi ke Bangkok, Thailand, untuk mengikuti wawancara pekerjaan sebagai model. Namun, ia tidak pernah bekerja di panggung peragaan busana kelas atas di Thailand. Sebaliknya, ia diculik dan dibawa ke Yangon, Myanmar.

Menurut laporan, di kompleks penipuan di perbatasan Myanmar, Vera dipaksa menyerahkan paspor dan telepon selulernya sehingga tidak dapat menghubungi keluarganya. “Tugasnya termasuk menjadi cantik, melayani ‘majikannya’, dan menipu orang-orang kaya.”

Para pelaku perdagangan manusia mengatakan kepada Vera bahwa ia harus “terlihat cantik agar dapat memeras uang dari klien-klien kaya”. Karena khawatir akan keselamatan dirinya, ia terpaksa menerima pekerjaan tersebut. Namun, ketika ia tidak lagi menghasilkan uang dan tidak memiliki pelanggan, ia kemudian menghilang secara misterius.

Menurut media Rusia, setelah tiba di Yangon, Vera berada di bawah kendali para pelaku dan kemudian dibawa ke kompleks penipuan elektronik di Myanmar utara atau di wilayah perbatasan Myanmar-Thailand. Ia dipaksa melakukan “penipuan asmara”, menggunakan platform kencan untuk membujuk korban agar berinvestasi dalam mata uang kripto atau perjudian. Ia harus memenuhi target harian dan akan dipukuli jika gagal mencapai target. Ia kemudian diduga dijual kepada kelompok perdagangan organ, menjadi korban pengambilan organ secara paksa, kemudian dibunuh dan jenazahnya dikremasi.

Pada awal Oktober tahun yang sama, keluarganya menerima kabar bahwa Vera telah meninggal. Para penculik meminta US$500.000 kepada keluarganya sebagai imbalan untuk mendapatkan kembali jenazah atau abunya. Setelah keluarganya menolak, mereka tidak lama kemudian menerima pesan lain dari para penculik yang mengatakan bahwa organ Vera telah dijual dan jenazahnya telah dikremasi.

Diperkirakan bahwa kompleks penipuan yang dijaga ketat di wilayah perbatasan Myanmar mungkin menahan hingga 100.000 korban.

Menurut laporan, kelompok kriminal Tiongkok dan milisi Myanmar menjalankan kompleks-kompleks penipuan tersebut secara ilegal di wilayah perbatasan Myanmar. Mereka menarik perempuan asing dengan menawarkan pekerjaan yang tampak menjanjikan, kemudian menculik mereka dan membawa mereka ke kompleks tersebut untuk dipaksa bekerja.

Para korban yang berhasil diselamatkan sebelumnya mengungkapkan bahwa setelah diculik ke kompleks penipuan, mereka diputus dari dunia luar dan mengalami penyiksaan serta pemerasan. Jika mereka tidak mampu menipu korban lain di dunia maya hingga menghasilkan uang dalam jumlah yang cukup, mereka dapat diancam dengan pengambilan organ atau prostitusi paksa.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berarti Annie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiri Walker Larson Si...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine