Aksi protes pelajar di berbagai wilayah Prancis semakin memanas. Pada Selasa (6 Oktober), ratusan ribu orang turun ke jalan di seluruh Prancis. Gelombang protes ini telah meluas hingga melibatkan orang tua, mahasiswa, dan serikat pekerja. Di sejumlah daerah, polisi antihuru-hara Prancis terlibat bentrokan dengan para pelajar dan menggunakan gas air mata. Pemerintah Prancis menyatakan bahwa jumlah orang yang ditangkap telah melampaui 6.500 orang.
EtIndonesia.com Sejak pertengahan September, aksi protes pelajar terus berlangsung di berbagai wilayah Prancis. Menurut laporan, pemerintah Prancis menyatakan bahwa lebih dari 250.000 demonstran turun ke jalan pada 6 Oktober. Aktivitas belajar-mengajar di 891 sekolah menengah atas (SMA) terdampak, atau hampir seperempat dari seluruh SMA di Prancis.
Menurut laporan BBC, pada 6 Oktober, sejumlah besar remaja Prancis mulai berbaris dari Place de la République di Paris. Mereka menyerukan agar sekolah mendapatkan lebih banyak sumber daya dan meminta polisi mengurangi tindakan represif. Sebelumnya, polisi terlibat bentrokan dengan demonstran di Lyon, menggunakan gas air mata di Paris dan Marseille, serta meriam air bertekanan tinggi di Rennes.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengecam aksi kekerasan yang terjadi pada tahap awal dan mengatakan bahwa sejak aksi protes dimulai, sebanyak 215 pelajar, 85 tenaga pendidik, dan 715 polisi telah terluka.
Pemerintah Prancis mengatakan bahwa lebih dari 250.000 demonstran turun ke jalan pada Selasa. Namun, serikat pelajar memperkirakan jumlah demonstran mencapai 450.000 orang dan mengatakan bahwa dalam gerakan “babak ketiga”, sebanyak 1.800 SMA telah diblokade.
Pelajar bernama Alissa dari Marseille mengatakan kepada BBC, “Sebagian besar dari kami tidak melakukan kekerasan. Kami turun ke jalan karena sekolah-sekolah ditutup… sekolah-sekolah dalam kondisi yang sangat buruk.”
Temannya, Sacha, mengatakan bahwa sejumlah sekolah di Marseille mengalami kebocoran pada plafon dan secara keseluruhan kondisinya sangat buruk, “jadi kami sama sekali tidak bisa belajar dengan baik.”
Di parlemen, perdana menteri Prancis menuduh partai sayap kiri radikal La France Insoumise (LFI) berupaya menciptakan kekacauan menjelang pemilihan umum. Dalam tujuh bulan, masa jabatan kedua Presiden Prancis Emmanuel Macron akan berakhir dan Prancis akan menggelar pemilihan presiden. Pemimpin LFI Jean-Luc Mélenchon saat ini berada di posisi kedua dalam jajak pendapat, di belakang Marine Le Pen dari National Rally.
Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengatakan bahwa sejak awal dirinya telah menyerukan dialog, bukan pemblokiran sekolah. Ia juga mengeluhkan bahwa “kelompok ekstremis yang melakukan kekerasan telah menyusup ke dalam gerakan pelajar SMA”. Kini, ia menghadapi tekanan untuk merespons tuntutan para pelajar.
Aksi protes tidak berakhir pada Selasa. CGT, serikat pekerja terbesar di Prancis, mengatakan pihaknya berencana menggelar lebih banyak aksi protes pada Kamis (8 Oktober), dengan melibatkan sekolah dan mahasiswa. Juru bicara serikat pelajar Prancis, Alice Cohen-Morzadec, mengatakan kepada BBC News bahwa gerakan ini akan “terus berkembang semakin besar sampai kami mencapai tuntutan kami”.
Pada pertengahan September, para pelajar di departemen Seine-Saint-Denis, kawasan pinggiran utara Paris, turun ke jalan karena marah terhadap ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan tenaga pengajar, dan kondisi gedung sekolah yang buruk. Aksi tersebut kemudian menyebar ke seluruh negeri dan meluas ke sejumlah universitas.
Pada Selasa malam, Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa sejak 28 September, sebanyak 6.547 orang telah dihentikan atau ditangkap oleh polisi. Pada 6 Oktober saja, setelah kerusuhan besar pecah di berbagai wilayah negara, sebanyak 488 orang ditangkap.
Aksi protes pada Selasa kini mulai meluas ke seluruh lapisan masyarakat Prancis. Peristiwa tersebut bahkan menarik perhatian Presiden AS Donald Trump. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa inti dari protes pelajar di Prancis tidak berkaitan dengan sekolah. Ia menulis, “Apa yang sedang terjadi di Prancis tidak lain adalah gelombang besar imigrasi massal yang telah lepas kendali.”
Jin Hong/Li Quan


