EtIndonesia.com Belakangan ini, Rusia melaporkan seorang ilmuwan meninggal setelah mengalami “pneumonia misterius”. Negara-negara di sekitar Rusia mulai memperketat pengawasan perbatasan, sementara otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak mengambil langkah serupa. Berbagai analisis dan spekulasi beredar luas di internet Tiongkok, membuat masyarakat cemas dan khawatir bahwa virus yang mirip dengan COVID-19 telah mulai merebak.
Menurut laporan, pada 25 September, terjadi sebuah insiden di Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk di Kota Shelekhov, Oblast Irkutsk, Siberia, Rusia.
Darya Shipilova, seorang asisten peneliti berusia 28 tahun, secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri hidup. Beberapa hari kemudian, Shipilova mengalami gejala pernapasan yang sangat parah. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat di Shelekhov untuk mendapatkan perawatan. Namun, antara 1 Oktober hingga dini hari 2 Oktober, Shipilova meninggal setelah upaya penyelamatan medis tidak berhasil.
Secara luas diduga bahwa ia terinfeksi pes paru-paru, yang sangat menular. Namun, Badan Pengawasan Perlindungan Konsumen dan Kesejahteraan Manusia Federasi Rusia menyatakan bahwa penyebab kematiannya adalah “pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya”.
Pada 7 Oktober, muncul laporan mengenai dugaan kematian kedua yang berkaitan dengan kasus tersebut di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia.
Setelah itu, sejumlah negara di sekitar Rusia, seperti Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Mongolia, mulai memperketat pengawasan kesehatan di perbatasan.
Warganet Tiongkok ramai-ramai meminta pemerintah mengendalikan perbatasan dan mengambil langkah penanganan:
“Harus segera menutup perbatasan.”
“Disarankan agar semua orang yang baru pulang dari Rusia menjalani karantina selama 14 hari!”
“Segera tutup perbatasan, hentikan penerbangan, dan perketat pengawasan terhadap orang yang masuk dari Rusia.”
“Segera batalkan kebijakan bebas visa bagi warga Rusia, dan lakukan pemeriksaan terhadap semua orang yang perlu diperiksa.”
“Ada enam penerbangan langsung dari Irkutsk ke Tiongkok. Penerbangan ke Beijing tiga kali seminggu, dengan 167 penumpang setiap penerbangan. Sejak kejadian ini sampai sekarang, berapa banyak orang yang sudah datang ke Beijing?”

Ada juga warganet yang berspekulasi mengenai kemungkinan penyebab “pneumonia misterius” tersebut:
“Apakah mendiagnosis pes memang sesulit itu? Atau mereka benar-benar menemukan penyakit langka baru yang belum pernah diketahui manusia?”
“Kalau benar pes, itu masih merupakan masalah kecil. Saya curiga sebenarnya ini adalah penyakit baru yang tidak diketahui.”
“Dari 25 September sampai sekarang sudah hampir setengah bulan dan masih belum diketahui penyebabnya. Bagaimanapun penjelasannya, terasa aneh.”
“Apakah ini senjata biologis berupa bakteri yang sengaja dikembangkan dan bocor selama proses eksperimen?”
“Senjata biologis?”

Otoritas PKT menyatakan bahwa Tiongkok dan Rusia mempertahankan kerja sama yang erat dalam bidang pencegahan dan pengendalian penyakit menular, dan sejauh ini belum terlihat adanya pembatasan tambahan di perbatasan.
Rusia Bergegas Menghapus Informasi, Mirip dengan Cara PKT Menangani Wabah COVID-19
Setelah insiden tersebut mencuat, Amerika Serikat mengeluarkan peringatan perjalanan untuk Rusia dan menyarankan warga AS yang saat ini berada di Rusia agar segera meninggalkan negara tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan kepada Rusia untuk berbagi “informasi yang transparan”, tetapi respons otoritas Rusia justru berupa pembatasan informasi.
Surat kabar Rusia pro-pemerintah Izvestia melaporkan bahwa setelah Darya Shipilova meninggal, otoritas Irkutsk telah membuka penyelidikan kriminal atas dugaan “menyebabkan kematian karena kelalaian serta pelanggaran peraturan kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit”. Namun, laporan tersebut dan sejumlah artikel lain mengenai kemungkinan wabah pes paru-paru di Irkutsk segera dihapus.
Kantor cabang Kazan dari Argumenty i Fakty menghapus laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober mengenai kematian seorang asisten laboratorium di Irkutsk. Moskovsky Komsomolets juga menghapus laporan mengenai bantahan Badan Pengawasan Perlindungan Konsumen dan Kesejahteraan Manusia Rusia terkait kabar bahwa sebuah rumah sakit di Irkutsk telah dikarantina.
Russia Today (RT) bahkan tidak memberitakan insiden Irkutsk dan tidak memberikan informasi lanjutan mengenai kasus tersebut. Sejumlah warganet menemukan bahwa ketika mencari “Irkutsk” di situs RT berbahasa Rusia, berita mengenai wabah tersebut hanya tersedia hingga 2 Oktober.

Menurut penelusuran media independen The Insider, laporan terkait dari Channel 5 Rusia dan surat kabar nasional Kommersant juga telah menghilang.
Bukan hanya media yang menghapus informasi. Lembaga pemerintah juga melakukan hal serupa. Pada pagi 3 Oktober, pemerintah Kota Baikalsk menyarankan warga untuk sementara menghindari perjalanan ke Shelekhov. Alasannya, terdapat “informasi tidak resmi” yang menyebutkan bahwa kasus pes telah ditemukan di kota tersebut. Dua jam kemudian, pemerintah kota menghapus pemberitahuan tersebut.
Warganet Weibo mengkritik respons Rusia kali ini dan menyamakannya dengan cara PKT menangani wabah COVID-19 pada 2019:
“Jika dibandingkan dengan insiden kebocoran virus laboratorium di Rusia, akan terlihat banyak kesamaan: pertama-tama menyembunyikan insiden, media membantah kabar tersebut, konten terkait di media sosial dihapus.”
“Ketika situasi berkembang hingga tidak dapat lagi ditutupi, mereka akan mengatakan semuanya masih terkendali dan virus tersebut tidak terlalu menular. Kemudian, setelah situasi benar-benar tidak terkendali, dilakukan pengendalian secara brutal dan seragam.”
Warganet di kolom komentar memberikan tanggapan:
“Ya ampun! Persis sama! Persis sama!”
“Sama saja, satu kelompok dengan yang lain.”
“Polanya persis sama: pertama-tama ditutup-tutupi, lalu baru mengaku ketika sudah tidak bisa lagi ditutupi.”
“Hanya dengan melihat rangkaian tindakan ini, siapa pun akan merasa bahwa sesuatu yang besar telah terjadi. Namun, pernyataan resmi justru sengaja meremehkan situasinya.”
Sumber : NTDTV.com


