Kebetulankah? Institut yang Dikaitkan dengan Dugaan Kebocoran Wabah Ikut Latihan Gabungan Tiongkok-Rusia pada Agustus

EtIndonesia.com  Wabah pes dilaporkan terjadi di Rusia. Media melaporkan bahwa pada September terjadi kebocoran di sebuah institut penelitian pes di Siberia, sementara publik khawatir informasi mengenai wabah tersebut sedang ditutup-tutupi. Pada Agustus, Tiongkok dan Rusia tiba-tiba mengadakan latihan bersama untuk pencegahan pes. Kepala institut penelitian yang kini menjadi sorotan juga menghadiri latihan tersebut.

Selain itu, latihan bersama tersebut diadakan di Kota Fuyuan, Tiongkok. Sekretaris Partai Komunis Tiongkok (PKT) di kota tersebut tiba-tiba “menghilang” dari ruang publik setelah menghadiri latihan, yang juga memicu berbagai spekulasi di kalangan warganet Tiongkok.

Menurut laporan media resmi Rusia, pada 25 September, seorang peneliti perempuan di Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk di Kota Shelekhov, Oblast Irkutsk, Siberia, secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri Yersinia pestis. Setelah itu, ia mengalami gejala pneumonia parah dan meninggal pada 2 Oktober.

Di media sosial, beredar luas kabar bahwa wabah pes paru-paru yang mengkhawatirkan telah terjadi di sejumlah wilayah Rusia. Namun, pemerintah Rusia menyatakan situasinya “tidak serius”, sementara media resmi PKT juga memberitakannya secara terbatas, yang diduga bertujuan untuk “menjaga stabilitas”.

Di kalangan pengguna media sosial berbahasa Mandarin, banyak yang memperhatikan latihan yang disebut “Latihan Darurat Gabungan Tiongkok-Rusia untuk Penanganan Wabah Penyakit Menular Lintas Perbatasan” yang digelar pada 24 Agustus. Mereka mempertanyakan apakah wabah pes di Rusia sebenarnya sudah muncul lebih awal dan apakah pihak Tiongkok telah mengetahuinya tetapi tidak mengungkapkannya.

Menurut laporan sejumlah media resmi PKT, latihan darurat tersebut berlangsung pada 24–27 Agustus di Kota Fuyuan, Provinsi Heilongjiang, yang berbatasan dekat dengan Rusia. Penyelenggaranya antara lain Biro Pengendalian dan Pencegahan Penyakit serta Komisi Kesehatan Heilongjiang, Biro Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Liaoning, dan Biro Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Jilin. Sebanyak 19 tim tanggap darurat medis dan kesehatan dari tiga provinsi di kawasan timur laut Tiongkok ikut berpartisipasi.

(Tangkapan layar laporan resmi mengenai latihan darurat gabungan Tiongkok-Rusia untuk penanganan wabah penyakit menular lintas perbatasan.)

Dari pihak Rusia, sejumlah departemen kesehatan di berbagai wilayah juga berpartisipasi, termasuk Sergey Vladimirovich Balakhonov, direktur Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk—institut yang kini dikaitkan dengan insiden kebocoran pes.

Latihan tersebut mencakup tiga skenario utama:

  1. Penemuan dan penanganan darurat penyakit X baru yang ditularkan melalui kutu.
  2. Masuknya kasus pes dari luar negeri dan respons gabungan lintas perbatasan.
  3. Pencegahan penyakit dan penanganan medis darurat setelah bencana banjir.

Berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik, dalam beberapa tahun terakhir Tiongkok dan Rusia belum pernah mengadakan latihan serupa. Fakta bahwa latihan penanganan bersama terhadap masuknya pes dari luar negeri tiba-tiba digelar menjelang munculnya wabah pes di Rusia menimbulkan pertanyaan apakah hal tersebut hanya kebetulan atau memang telah direncanakan.

Sekretaris Partai Fuyuan Tiba-tiba “Menghilang”

Menurut laporan yang tersedia untuk publik, He Dahai, sekretaris Partai Komunis Tiongkok di Fuyuan, menghadiri kegiatan latihan gabungan Tiongkok-Rusia tersebut dan memberikan pidato. Pada 24 Agustus, ia juga memimpin rapat Komite Tetap Komite Partai Kota yang ke-127.

Setelah itu, He Dahai tiba-tiba “menghilang” dari ruang publik dan hingga kini tidak lagi muncul dalam laporan resmi yang dapat diakses publik.

Reporter menelusuri situs resmi Pemerintah Kota Fuyuan dan menemukan bahwa sejak 25 Agustus, nama He Dahai tidak lagi muncul dalam seluruh kegiatan yang dipublikasikan. Sejumlah rapat yang seharusnya dihadiri He Dahai justru dipimpin oleh Wakil Sekretaris Komite Partai Kota sekaligus Wali Kota Zheng Shuyi.

Selain itu, dalam laporan mengenai rapat Komite Tetap Komite Partai Kota yang ke-132 pada 22 September, tidak disebutkan siapa yang memimpin rapat tersebut. Hal ini berbeda secara mencolok dengan laporan mengenai rapat ke-127 sebelumnya.

Di media sosial, sejumlah orang berspekulasi apakah He Dahai telah “ditangkap karena tersandung kasus” atau bahkan menduga bahwa ia “terinfeksi pes dan sedang dikarantina”.

(Tangkapan layar laporan resmi mengenai latihan darurat gabungan Tiongkok-Rusia untuk penanganan wabah penyakit menular lintas perbatasan.)

Trump: Pes Semakin Sulit Dikendalikan

Pada 5 Oktober, Presiden AS Donald Trump, ketika menanggapi kasus pes di Rusia sebelum meninggalkan Gedung Putih, mengatakan: “Saya belum berbicara dengan mereka mengenai pes paru-paru. Saya sangat tidak suka melihat mereka mengalami penyakit seperti ini. Ini penyakit yang sangat, sangat sulit ditangani.”

“Anda tahu, dulu kita mampu mengendalikan penyakit ini. Tetapi entah bagaimana, mikroorganisme tersebut menjadi semakin kuat. Mereka seperti sebuah pasukan… Kuman-kuman ini memang relatif lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Beberapa metode yang dahulu efektif untuk pneumonia sekarang juga tidak lagi seefektif itu.”

Pada 6 Oktober, Marshall Billingslea, yang pernah menjabat sebagai utusan khusus Presiden Trump untuk pengendalian senjata, mengunggah sejumlah tulisan di platform X mengenai insiden di Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk.

Ia mengatakan bahwa institut yang terlibat tersebut pernah berpartisipasi dalam program senjata biologis Uni Soviet. Program senjata biologis Uni Soviet mencakup penelitian mengenai “pes chimera”, yakni pes yang memiliki resistansi terhadap obat dan menggabungkan berbagai patogen.

Karena itu, menurutnya, “wabah kali ini di Rusia sangat mengkhawatirkan. Ini mungkin bukan sekadar ‘pes’; situasinya bisa jauh lebih serius daripada pes.”

Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk terletak dekat dengan Mongolia. Dalam beberapa tahun terakhir, Mongolia beberapa kali melaporkan kematian akibat infeksi pes.

Pada 14 Juli tahun ini, Kementerian Kesehatan Mongolia mengkonfirmasi bahwa seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun di Provinsi Gobi-Altai, Mongolia bagian barat, meninggal akibat pes setelah mengkonsumsi daging marmot. Setelah itu, Mongolia memberlakukan langkah karantina dan pembatasan di sejumlah distrik.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari 2019 hingga 2025, sebanyak 10 negara melaporkan total 3.860 kasus suspek pes di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 2.646 kasus terkonfirmasi dan 423 orang meninggal, dengan tingkat kematian di antara kasus suspek sebesar 11%.

Sekitar 98% kasus terkonfirmasi dilaporkan berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar. Selain itu, Tiongkok melaporkan 19 kasus terkonfirmasi, sedangkan Mongolia melaporkan 17 kasus terkonfirmasi.

Laporan gabungan reporter Chen Zhenjin / Editor Lin Qing

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine