Seekor Anak Kuda di Tempat Wisata Beijing Mengalami Patah Tulang Belakang akibat Ditunggangi Pengunjung, Lumpuh dan Mati

EtIndonesia.com Menurut laporan NTD, selama libur Hari Nasional Tiongkok pada awal Oktober, seekor anak kuda di sebuah tempat wisata di Beijing mati setelah dipaksa mengangkut pengunjung secara terus-menerus dengan beban berlebihan hingga tulang belakang bagian pinggangnya patah. Peristiwa ini memicu kemarahan publik di internet.

Selama libur panjang tersebut, sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seekor anak kuda terkulai di tanah dengan tatapan kosong. Keterangan dalam video menyebutkan bahwa anak kuda yang digunakan untuk ditunggangi wisatawan itu mengalami patah tulang belakang bagian pinggang dan akhirnya mati.

Meskipun nama dan lokasi pasti tempat wisata yang terlibat belum diungkapkan, peristiwa tersebut telah memicu kemarahan luas di dunia maya.

Banyak warganet mendesak pihak berwenang turun tangan untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan menyelidiki tempat wisata tempat kejadian itu berlangsung. Mereka menilai, “Ini merupakan tindakan penganiayaan terhadap hewan.”

Sebagian warganet juga berpendapat bahwa “wisatawan yang menunggangi hingga anak kuda itu lumpuh juga merupakan kaki tangan dalam kejadian tersebut”.

Sementara itu, banyak warganet lainnya menyatakan bahwa “pemilik kuda adalah pihak yang paling bertanggung jawab karena hanya memikirkan keuntungan tanpa mempedulikan hidup dan mati kuda tersebut”.

Menurut laporan sejumlah media daratan Tiongkok, lonjakan jumlah wisatawan selama libur Hari Nasional menyebabkan anak kuda tersebut terus-menerus membawa penumpang dengan beban yang jauh melampaui batas kemampuan fisiknya. Akibatnya, tulang belakang bagian pinggangnya patah dan hewan itu terkulai di tanah tanpa mampu berdiri kembali.

Patah tulang belakang bagian pinggang merupakan cedera yang mematikan bagi kuda. Struktur fisiologis kuda memiliki karakteristik khusus. Ketika mengalami cedera parah hingga tidak mampu berdiri, bobot tubuhnya yang besar dapat menekan organ-organ dalam, sehingga dengan cepat memicu kematian jaringan otot atau kegagalan sistem pernapasan dan peredaran darah.

Menurut informasi yang beredar, lokasi kejadian tersebut diduga berada di Desa Taishizhuang, wilayah administratif Kota Taishitun, Distrik Miyun, Beijing. Desa ini terletak di bagian timur laut Distrik Miyun, di kawasan hulu Waduk Miyun. Desa tersebut merupakan permukiman baru bagi warga yang direlokasi akibat pembangunan waduk, dengan sumber pendapatan utama berasal dari pertanian dan pariwisata.

Sejumlah kasus penganiayaan hewan di tempat wisata Tiongkok

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di daratan Tiongkok.

10 Agustus : Di sebuah peternakan kuda dekat Huanghuagou, Ulanqab, Mongolia Dalam, seekor kuda diduga terkejut ketika digunakan untuk mengangkut atau ditunggangi wisatawan hingga seorang pengunjung terjatuh. Setelah kejadian itu, kuda tersebut dipukuli dengan cambuk oleh seorang pekerja sebagai hukuman. Banyak warganet mengecam tindakan penganiayaan terhadap hewan tersebut.

16 Juni: Seorang wisatawan di objek wisata Hǎishàng Móguǐchéng (Kota Iblis di Laut) di Altay, Xinjiang, menemukan seekor unta terjatuh sambil mengerang kesakitan akibat kelelahan dan cedera pada kakinya. Meskipun demikian, para pekerja tetap memaksanya berdiri dan melanjutkan layanan tunggangan serta berfoto bagi wisatawan.

Awal Februari: Seorang warganet mengunggah video yang memperlihatkan seekor anak kuda yang disediakan untuk ditunggangi wisatawan di objek wisata Wansuishan Wuxiacheng, Kaifeng, Provinsi Henan. Kaki belakang kuda tersebut mengalami cedera sehingga jalannya pincang, tetapi hewan itu masih digunakan untuk mengangkut pengunjung. Warganet mendesak pengelola tempat wisata agar memberikan perawatan. Pihak pengelola kemudian menyatakan bahwa mereka telah memverifikasi kejadian tersebut dan mengambil tindakan.

Sebelumnya, di Shangqiu, Provinsi Henan, terjadi kasus ketika dua pria secara bergantian memukuli seekor unta menggunakan tongkat kayu tebal. Akibatnya, mulut dan hidung unta tersebut berdarah, kepala serta kakinya membengkak, dan hewan itu berlutut seolah memohon ampun.

Media juga pernah mengungkap kasus penganiayaan terhadap unta yang digunakan untuk mengangkut wisatawan di objek wisata terkenal dunia, Danau Bulan Sabit (Yueyaquan), Dunhuang, Provinsi Gansu.

Dalam kejadian tersebut, beberapa unta kelelahan hingga terjatuh dan berguling-guling di tanah sambil mengerang keras. Para pelaku usaha dilaporkan menendang dan menampar unta-unta tersebut, bahkan memaksa mereka bangkit agar tetap dapat digunakan untuk membawa wisatawan.

Laporan gabungan: Li Yun / Editor Xia He

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh. Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi. Walker Larson Saya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine