EtIndonesia.com Setelah muncul laporan mengenai kasus kematian akibat pes di Rusia baru-baru ini, sejumlah wilayah di Tiongkok, termasuk Mongolia Dalam, Hunan, dan Guangdong, secara berturut-turut mengeluarkan peringatan risiko terkait pencegahan dan pengendalian pes. Perkembangan ini memicu perhatian publik.
Manzhouli dan Hulunbuir Berturut-turut Mengeluarkan Peringatan
Pada 11 Oktober, Stasiun Televisi dan Radio Mongolia Dalam menerbitkan laporan yang menyebutkan bahwa Kota Hulunbuir tidak pernah mencatat kasus pes pada manusia sejak 1927.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemantauan rutin terhadap pes juga tidak menemukan wabah pes pada hewan pengerat. Berdasarkan penilaian menyeluruh, kemungkinan terjadinya wabah pes di wilayah tersebut dinilai relatif rendah.
Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Kota Hulunbuir menyatakan bahwa wilayah tersebut merupakan daerah fokus alami pes secara historis dan berbatasan dengan kawasan Timur Jauh Rusia. Mobilitas penduduk lintas perbatasan juga cukup tinggi.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk melakukan langkah-langkah pencegahan pes. Orang-orang yang datang dari daerah fokus alami pes di Timur Jauh Rusia disarankan untuk memperhatikan kondisi kesehatan mereka. Jika mengalami gejala yang mencurigakan, mereka harus segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat dan secara jujur menyampaikan riwayat perjalanan ke daerah endemik pes.
Sebelumnya, media independen Rusia melaporkan bahwa seorang pegawai perempuan di sebuah lembaga penelitian anti penyakit pes di Siberia meninggal dunia pada awal bulan ini. Ia diduga meninggal akibat pneumonia yang penyebabnya belum diketahui. Kasus tersebut memunculkan dugaan mengenai pes pneumonik dan kemungkinan infeksi yang berkaitan dengan laboratorium.
Meskipun pemerintah Rusia membantah bahwa wabah pes sedang terjadi di negara tersebut, sejumlah departemen pengendalian penyakit di Tiongkok justru berturut-turut mengeluarkan peringatan dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik mengenai kemungkinan penyebaran pes ke Tiongkok.
Selain Hulunbuir yang mengeluarkan peringatan risiko, Kota Manzhouli, yang juga terletak di Mongolia Dalam, bahkan mengadakan rapat khusus beberapa hari sebelumnya. Dalam rapat tersebut, pihak berwenang memperingatkan bahwa risiko masuknya kasus pneumonia yang penyebabnya belum diketahui dari wilayah perbatasan Rusia masih tetap ada.
Menurut informasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Manzhouli, pada 8 Oktober lembaga tersebut mengadakan rapat penilaian risiko wabah yang melibatkan bagian pencegahan dan pengendalian pes, penyelidikan epidemiologi, disinfeksi, serta tanggap darurat. Rapat tersebut mengevaluasi risiko wabah pes di dalam maupun luar Tiongkok dan secara khusus menyoroti kasus pneumonia yang penyebabnya belum diketahui di Oblast Irkutsk, Rusia.
Dalam rapat tersebut, berbagai faktor dianalisis, termasuk mobilitas orang lintas perbatasan, transportasi barang, dan perubahan musim. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko masuknya penyakit terkait masih tetap ada.
Pihak berwenang meminta peningkatan kemampuan pemantauan dan peringatan dini, penguatan kerja sama dengan pos pemeriksaan perbatasan serta bea cukai, dan pelaksanaan langkah-langkah pengendalian penyakit menular selama musim gugur dan musim dingin.
Guangdong dan Hunan Berturut-turut Mengeluarkan Peringatan Risiko Pes
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Guangdong dan Provinsi Hunan, yang secara geografis lebih jauh dari Rusia, juga menerbitkan informasi terkait pada 9 Oktober. Keduanya menyosialisasikan jalur penularan pes, gejala, serta metode pencegahan dan pengobatannya.
Para ahli dari CDC Tiongkok menjelaskan bahwa pes merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini terutama menular melalui beberapa jalur:
- Gigitan kutu yang terinfeksi.
- Kontak dengan hewan yang terinfeksi.
- Percikan pernapasan dari pasien yang menderita pes pneumonik atau pes paru.
Pes pneumonik dapat menimbulkan gejala berupa demam tinggi, batuk, batuk berdarah, dan kesulitan bernapas. Penyakit ini dapat memburuk dengan sangat cepat. Namun, saat ini sudah tersedia antibiotik yang efektif untuk mengobatinya. Penanganan medis sejak dini dapat secara signifikan mengurangi risiko kematian.
Departemen pengendalian penyakit mengingatkan masyarakat yang bepergian ke daerah endemik alami pes agar menghindari kontak dengan hewan pengerat liar, marmut tanah (marmot), maupun bangkai hewan tersebut.
Jika mengalami gejala yang mencurigakan, masyarakat harus segera mencari pertolongan medis dan secara proaktif menyampaikan riwayat perjalanan serta kontak dengan hewan.
Kasus “Pneumonia yang Tidak Diketahui Penyebabnya” di Rusia Memicu Kepanikan
Peristiwa ini bermula pada 2 Oktober, ketika seorang pegawai perempuan berusia 28 tahun yang bekerja di sebuah lembaga penelitian anti penyakit pes di Rusia meninggal dunia akibat pneumonia yang penyebabnya belum diketahui.
Publik sempat menduga bahwa ia mungkin terinfeksi pes pneumonik akibat kecelakaan di laboratorium. Bahkan, beredar kabar bahwa sejumlah pegawai lainnya juga terinfeksi.
Namun, pemerintah Rusia membantah tuduhan tersebut. Pemerintah menyatakan bahwa penyelidikan tidak menemukan bukti adanya kecelakaan yang berkaitan dengan kegiatan laboratorium. Setelah dilakukan pemeriksaan dalam jumlah besar, tidak ditemukan pula patogen berbahaya. Orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan korban telah menjalani observasi medis.
Pada 10 Oktober, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penyebab pasti kematian Shipilova masih perlu dipastikan. Rusia hingga kini belum secara resmi melaporkan adanya kasus pes yang terkonfirmasi. Selain itu, belum ditemukan indikasi penularan berkelanjutan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kepanikan masyarakat Tiongkok.
Selain peringatan risiko yang dikeluarkan oleh otoritas di berbagai wilayah, media sosial Tiongkok dalam beberapa hari terakhir juga dipenuhi berbagai informasi peringatan terkait wabah penyakit.
Khususnya di wilayah tiga provinsi timur laut Tiongkok, beredar imbauan agar masyarakat mulai menimbun kebutuhan sehari-hari, serta membeli masker, sarung tangan, alkohol untuk desinfeksi, dan perlengkapan lainnya.
Bahkan, beberapa unggahan mengklaim bahwa pemerintah akan memberlakukan karantina wilayah atau lockdown pada masa mendatang. Informasi tersebut memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Banyak orang khawatir tragedi pandemi virus PKT (virus COVID-19) akan terulang kembali. (***)


