Bandara Arab Saudi Diserang Houthi, 13 Orang Tewas dan 309 Terluka; Trump Menanggapi Kemungkinan Intervensi Militer AS

Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, kembali menjadi sasaran serangan rudal pada Sabtu (10 Oktober). Setidaknya 13 orang tewas, termasuk seorang warga negara Amerika Serikat, dan 309 orang lainnya terluka. Insiden ini menjadi serangan dengan jumlah korban jiwa dan luka-luka terbesar dalam lebih dari satu dekade.

Kelompok militan Houthi yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Presiden AS Donald Trump mengecam serangan itu, tetapi tidak memberikan jawaban tegas mengenai kemungkinan keterlibatan militer AS.

EtIndonesia.com Pada Minggu (11 Oktober), lalu lintas di jalan-jalan bebas hambatan Riyadh kembali berjalan seperti biasa. Konferensi energi internasional juga berlangsung sesuai jadwal di kota tersebut.

Namun, sehari sebelumnya, sebuah rudal menghantam Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh. Terminal 3 dan Terminal 4 mengalami kerusakan, sementara puing-puing berserakan di lokasi kejadian. Bandara tersebut segera menghentikan operasionalnya.

Serangan ini merupakan serangan ketiga terhadap Bandara Riyadh dalam kurun waktu satu minggu.

Pihak berwenang Arab Saudi menyatakan bahwa para korban tewas mencakup empat warga negara Arab Saudi serta warga negara Amerika Serikat, Bangladesh, Yordania, Mesir, dan sejumlah negara lainnya. Hingga saat ini, tercatat 309 orang terluka, dengan beberapa korban berada dalam kondisi kritis.

Setelah serangan tersebut, kedutaan besar Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Spanyol di Arab Saudi mengeluarkan imbauan kepada warga negara masing-masing agar menjauhi bandara.

Pada Minggu, kelompok Houthi menyatakan bahwa bandara-bandara di Arab Saudi kini berada dalam wilayah operasi militer mereka.

Pada Sabtu malam, Trump ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan AS ketika berada di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland.

Presiden AS Donald Trump mengatakan: “(Apakah Anda akan melibatkan Amerika Serikat?) Oh, Steve, Anda akan mengetahuinya. Namun, menurut saya, ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan, benar-benar mengerikan.”

Trump juga ditanya apakah Arab Saudi mampu mempertahankan diri tanpa dukungan Amerika Serikat.

Trump menjawab: “Mereka mampu mempertahankan diri. Orang-orang Saudi adalah pejuang yang hebat. Namun, menurut saya, serangan kali ini merupakan sesuatu yang mengerikan.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengeluarkan pernyataan melalui media sosial untuk mengecam keras kelompok Houthi. Ia menyatakan bahwa serangan tersebut telah merenggut nyawa warga sipil yang tidak bersalah, termasuk seorang warga negara Amerika Serikat.

Rubio menuntut agar serangan segera dihentikan dan menegaskan bahwa Amerika Serikat berdiri bersama Arab Saudi dan rakyatnya.

Seiring meningkatnya intensitas serangan Houthi terhadap Arab Saudi, Washington tengah mengevaluasi kemungkinan untuk ikut serta dalam operasi militer Arab Saudi.

Bagaimana Amerika Serikat akan merespons perkembangan ini selanjutnya menjadi perhatian besar masyarakat internasional.

Laporan gabungan: Ning Xiu dan Zhang Ruiqi, reporter NTD.

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh. Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi. Walker Larson Saya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine