Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 mengguncang Panama pada Jumat (9 Oktober). Hingga kini, lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat, beberapa di antaranya mencapai magnitudo 6,0. Pada Sabtu, pemerintah Panama menetapkan status darurat.
EtIndonesia.com Presiden Panamá José Raúl Mulino tiba di Kota Tonosí, yang berada di dekat pusat gempa, untuk membagikan sejumlah besar bantuan dan menghibur warga. Sementara itu, Komando Selatan Amerika Serikat bekerja sama dengan otoritas Panama menggunakan helikopter untuk mengangkut tenda, makanan, dan personel pencarian serta penyelamatan ke daerah terdampak.
Gempa ini merupakan salah satu gempa terkuat yang melanda Panama dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan, sementara retakan tanah besar muncul di Kota Tonosí. Puluhan ribu warga berhamburan ke jalan untuk menyelamatkan diri. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa.
Presiden Panama José Raúl Mulino mengatakan bahwa pemerintah bekerja sama dengan Sistem Perlindungan Sipil Nasional dan mendapat dukungan dari para ahli dari Amerika Serikat serta negara-negara lain untuk menilai keamanan bangunan, termasuk rumah sakit dan sekolah.
“Kami berdiri bersama masyarakat yang terdampak gempa bumi ini. Kepada mereka yang kehilangan rumah atau harta benda, saya ingin menyampaikan bahwa pemerintah sedang berupaya memberikan bantuan dan mendampingi mereka dalam membangun kembali rumah mereka,” katanya.
Sersan Angkatan Udara AS sekaligus teknisi mekanik penerbangan, Austin Bright, mengatakan: “Kami terus mengangkut sejumlah besar tenda darurat, makanan, dan personel pencarian serta penyelamatan. Bekerja sama dengan tim pencarian dan penyelamatan dari Amerika Serikat dan Panama merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Semua orang sangat profesional. Kami berharap dapat terus bekerja sama dengan mereka sampai masalah ini terselesaikan.”
Sejauh ini, sekitar 30 orang diketahui mengalami luka ringan dan sedang menjalani perawatan. Bandara Internasional Tocumen juga telah kembali melayani penerbangan.
Laporan gabungan reporter NTD, Hong Qiji dan Liu Fang.


