Kebenaran Wabah Pes di Rusia Belum Terungkap, Hong Kong dan Sejumlah Provinsi di Tiongkok Tingkatkan Pengawasan dan Pencegahan

Seorang peneliti muda penyakit pes di Rusia meninggal dunia beberapa hari lalu, tetapi penyebab kematiannya hingga kini belum diketahui. Meski pihak Rusia menyatakan tidak ada tanda-tanda penyebaran wabah, lebih dari seratus orang telah dikarantina, sehingga memicu kewaspadaan tinggi di Eropa dan Amerika Serikat. Hong Kong dan sejumlah wilayah di Tiongkok mulai menerapkan pemantauan perbatasan dan penerbangan. Sementara itu, sebagian warga Tiongkok yang berada di Rusia mulai memborong masker.

EtIndonesia.com Di wilayah Siberia, Rusia, seorang peneliti perempuan meninggal dunia akibat pneumonia berat, yang menyebabkan ratusan orang menjalani karantina. Karena semasa hidupnya ia bekerja di sebuah lembaga penelitian penyakit pes, muncul spekulasi mengenai kemungkinan bahwa kematiannya berkaitan dengan kebocoran patogen penyebab penyakit pes.

Menanggapi kejadian tersebut, sejumlah provinsi di Tiongkok dan Hong Kong dilaporkan mengeluarkan peringatan. Pertama, Kota Manzhouli di Mongolia Dalam mengingatkan bahwa risiko masuknya kasus pneumonia yang penyebabnya tidak diketahui masih tetap ada. Selanjutnya, otoritas pengendalian penyakit di Hunan dan Guangdong secara bertahap menerbitkan informasi mengenai pencegahan penyakit pes dan edukasi kesehatan terkait penyakit tersebut.

Sementara itu, pada 12 Oktober, Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong mengumumkan akan memperketat pemantauan kesehatan penumpang penerbangan terkait dari Rusia. Langkah-langkah tersebut mencakup pemeriksaan suhu tubuh, mengingatkan penumpang agar melaporkan riwayat perjalanan yang relevan, serta merujuk penumpang yang menunjukkan gejala pneumonia ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Mengingat Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama ini kerap menutupi informasi mengenai wabah penyakit, langkah-langkah tersebut memicu perhatian besar.

Peristiwa ini juga memicu gelombang pembelian masker oleh warga Tiongkok yang berada di Rusia. Di dalam Tiongkok sendiri, sebagian warga mulai menimbun makanan dan berbagai kebutuhan pokok.

Yang Ming, seorang pria dari Harbin, Heilongjiang, mengatakan, “Saya bertanya kepada seorang teman yang pernah bekerja di daerah Irkutsk. Pihak setempat mengatakan situasinya bisa dikendalikan dan sudah terkendali. Namun, sebenarnya seperti apa situasinya, tidak ada yang tahu. Begitu berita apa pun muncul di internet, obat-obatan di apotek—saya beritahu Anda—dalam waktu sehari atau setengah hari saja sudah habis terjual.”

Menanggapi hal tersebut, Dr. Adalja, seorang pakar kesehatan masyarakat dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa penyakit pes pada era modern relatif mudah diobati. Namun, hal yang paling penting adalah memastikan patogen apa yang sebenarnya menyebabkan kematian peneliti tersebut.

Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan Rusia telah menghidupkan kembali program rahasia senjata biologis yang pernah dijalankan Uni Soviet pada masa lalu.

Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), juga meminta Rusia memberikan informasi secara lengkap untuk memastikan penyebab kematian tersebut dan terus mengevaluasi kemungkinan risiko terhadap kesehatan masyarakat.

Laporan gabungan Lin Jiawei dan Huang Yukai dari NTD Asia Pasifik, serta reporter khusus Gu Xiaohua.

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh. Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi. Walker Larson Saya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine