Beredar Kabar Wabah Pes Menyebar di Tiongkok dan Rusia, Warga Panik Memborong Perlengkapan Pelindung

Setelah seorang staf lembaga penelitian penyakit pes di Rusia meninggal dunia akibat “pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya”, informasi terbaru yang diklaim berasal dari sumber internal menyebutkan bahwa pada 11 Oktober, seorang kontak erat lainnya juga meninggal dunia.

EtIndonesia.com Beredar kabar di internet bahwa wabah tersebut telah menyebar ke Rusia dan Tiongkok. Sejumlah provinsi di Tiongkok secara berturut-turut mengeluarkan peringatan risiko terkait pencegahan dan pengendalian penyakit pes. Warga pun dilanda kepanikan, sehingga kembali memicu aksi borong masker, cairan disinfektan, dan perlengkapan pelindung lainnya.

Seorang staf lembaga penelitian penyakit pes di Rusia meninggal dunia pada 2 Oktober akibat “pneumonia yang penyebabnya tidak diketahui”, yang menarik perhatian dunia. Namun, otoritas Rusia membantah bahwa telah terjadi wabah penyakit pes.

Belakangan ini, wilayah Mongolia Dalam, Hunan, Guangdong, dan sejumlah daerah lain di Tiongkok secara berturut-turut mengeluarkan peringatan risiko terkait pencegahan dan pengendalian penyakit pes. Hal ini memicu kepanikan masyarakat.

Seorang mahasiswa Tiongkok yang sedang belajar di Rusia mengungkapkan bahwa warga Tiongkok di Rusia maupun keluarga mereka di Tiongkok kini sibuk menimbun berbagai kebutuhan.

“Di Rusia, obat-obatan selalu kekurangan, benar-benar kekurangan. Segala macam barang langka dan semuanya mengalami kenaikan harga. Sekarang semua orang memborong kebutuhan pokok. Ada SPBU yang kehabisan bensin, dan di jalan bahkan tidak terlihat satu mobil pun. Keluarga saya di Tiongkok panik dan sibuk menimbun masker serta obat-obatan,” kata Zhang, seorang mahasiswa Tiongkok di Rusia. 

Dalam beberapa hari terakhir, banyak informasi yang mengungkap dugaan kondisi wabah bermunculan di platform media sosial X di luar negeri. Berbagai unggahan mengklaim bahwa penyakit pes telah menyebar ke sejumlah wilayah di Tiongkok, termasuk Mongolia Dalam, Henan, bahkan kota-kota besar seperti Shanghai dan Chongqing. Namun, informasi tersebut belum terverifikasi.

Yang, seorang pedagang obat-obatan dari Hebei, mengatakan, “Melihat langkah-langkah yang diambil negara-negara tetangga, Anda pasti bisa memahami bahwa memang ada sesuatu yang terjadi, dan masalahnya bukan kecil. Jelas ada banyak informasi yang ditutupi. Sekarang otoritas pengendalian penyakit di Hulunbuir sudah mengeluarkan pengumuman. Tingkat kewaspadaan epidemi ditingkatkan, jadi pasti ada banyak hal yang terjadi.”

Sejumlah pedagang obat-obatan mengatakan bahwa belakangan ini terjadi aksi borong masker, cairan disinfektan, dan perlengkapan pelindung lainnya. Beberapa barang bahkan sudah habis terjual.

Li, seorang pedagang obat-obatan dari Hebei, mengatakan, “Mongolia Dalam dan tiga provinsi di wilayah timur laut letaknya berdekatan. Ada kemungkinan informasi mengenai masalah ini ditutupi. Saat ini masyarakat sedang panik. Belakangan ini, ada orang yang membeli antibiotik dalam jumlah besar, sampai sepuluh kemasan sekaligus. Ada juga yang membeli masker hingga ratusan buah untuk ditimbun.”

Pada 8 Oktober, seorang pengguna X dengan akun bernama “Larissa” mengungkapkan bahwa wabah tersebut telah lama menyebar ke berbagai daerah akibat kebohongan dan upaya penutupan informasi oleh Rusia.

Wang, pemilik perusahaan farmasi di Shandong, mengungkapkan bahwa menurut informasi internal dari pihak berwenang Rusia, korban meninggal terbaru adalah seorang pria yang pernah keluar-masuk lembaga penelitian penyakit pes tersebut. Karena takut dibawa untuk menjalani karantina, pada 7 Oktober pria itu naik pesawat menuju rumah putrinya di Khanty-Mansiysk, wilayah yang berada di Distrik Otonom Khanty-Mansi, Oblast Tyumen, Rusia.

Setelah keberadaannya terdeteksi, pria tersebut dibawa untuk menjalani karantina. Hasil pemeriksaan patogen dilaporkan menunjukkan hasil positif.

Seluruh lokasi yang pernah dikunjungi pria itu kemudian dikategorikan sebagai wilayah berisiko tinggi. Sebanyak 149.700 orang dalam radius 90 kilometer menjalani tes, dan hampir 470 orang dilaporkan menunjukkan hasil positif lemah.

Wang mengatakan, “Seorang pemilik pertanian bernama Lektozhak Prinsil tiga kali mengunjungi lokasi kejadian untuk mengirimkan sayuran selama periode 1 hingga 4 Oktober. Pada pagi hari 9 Oktober, pria tersebut mulai menunjukkan gejala penyakit, lalu meninggal dunia pada pukul 18.22 tanggal 11 Oktober. Setelah itu, wilayah tersebut ditutup sepenuhnya. Hampir 9.000 orang meninggalkan daerah itu, sekitar 6.400 di antaranya merupakan warga negara asing.”

Laporan wawancara Xiong Bin dan Huang Yuning, reporter NTD.

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh.Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi.Walker LarsonSaya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine