EtIndonesia.com Untuk memprotes kenaikan biaya pendidikan dan korupsi pemerintah, demonstrasi mahasiswa berskala besar pecah di ibu kota Albania pada Rabu (14 Oktober) dan berubah menjadi bentrokan kekerasan. Para demonstran membakar gedung pemerintah dan bank serta melempari polisi dengan batu.
Menurut laporan berbagai media asing, pada malam kedua aksi protes tersebut, puluhan ribu mahasiswa turun ke jalan-jalan di ibu kota Tirana. Mereka menuntut perbaikan kondisi universitas dan meneriakkan tuntutan agar Perdana Menteri Edi Rama mundur dari jabatannya. Polisi mengerahkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Para demonstran menerobos masuk ke sejumlah lokasi, termasuk gedung Kementerian Pendidikan, Kementerian Kehakiman, Kementerian Keuangan, serta Raiffeisen Bank. Mereka memecahkan kaca jendela dan melakukan pembakaran.
Para demonstran juga melemparkan batu dan bom molotov, membakar tempat sampah, serta menggunakan pagar pembatas di pinggir jalan untuk membangun barikade.
Pada larut malam 14 Oktober, polisi menyatakan bahwa sebanyak 14 petugas mengalami luka-luka dan 35 orang ditangkap. Sehari sebelumnya, pada 13 Oktober, enam petugas polisi terluka dan 16 orang ditangkap.
Ini merupakan aksi protes paling keras yang dihadapi pemerintahan Edi Rama sejak ia memenangkan masa jabatan keempat pada Mei tahun lalu.
Organisasi mahasiswa menyatakan bahwa tuntutan demonstrasi meliputi perbaikan lingkungan universitas, penurunan biaya pendidikan tinggi, peningkatan bantuan keuangan, serta perbaikan prospek pekerjaan setelah lulus.
Menurut laporan media setempat, aksi protes telah menyebar ke universitas-universitas di Elbasan dan Shkoder.
Selama lebih dari empat bulan terakhir, demonstrasi anti pemerintah di Albania telah berulang kali terjadi. Menteri Dalam Negeri Ervin Demo menyatakan memahami tuntutan mahasiswa, tetapi mengkritik aksi kekerasan tersebut sebagai tindakan yang dipicu oleh “aktor eksternal dengan niat jahat”.
Wakil Perdana Menteri Albana Kociu juga menyampaikan pernyataan melalui media sosial Facebook. Ia menegaskan bahwa demonstrasi merupakan hak yang sah, tetapi hak tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan.
Albania saat ini sedang berupaya untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE). Uni Eropa menyatakan keprihatinan atas “eskalasi kekerasan” dalam aksi demonstrasi tersebut.
UE menyerukan penyelidikan segera terhadap tuduhan bahwa polisi menggunakan kekuatan secara berlebihan, serta mendesak “semua pihak untuk meredakan ketegangan”.
Sumber : NTDTV.com


