Peneliti Rusia Meninggal Dunia secara Misterius, Analisis: Penelitian Pes Era Soviet Menyimpan Tanda Tanya

EtIndonesia.com  Seorang peneliti perempuan berusia 28 tahun di Rusia meninggal dunia akibat pneumonia yang penyebabnya tidak diketahui. Hingga kini, penyebab kematiannya belum diungkapkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sejauh ini belum ditemukan bukti adanya penularan berkelanjutan. Namun, penyakit apa yang sebenarnya menginfeksi korban masih menjadi misteri.

Penyelidikan terbaru juga mengungkap bahwa lembaga tempat korban bekerja, yaitu sebuah institut penelitian anti-pes, memiliki keterkaitan dengan sistem penelitian peninggalan Uni Soviet. Pada masa lalu, lembaga-lembaga dalam sistem tersebut pernah memasok sampel patogen kepada institusi militer yang meneliti senjata biologis.

Menurut sejumlah laporan, Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk merupakan bagian dari sistem penelitian anti-pes yang dibentuk oleh Uni Soviet. Pada masa itu, selain memantau wabah pes dan mengembangkan vaksin, lembaga-lembaga sejenis juga pernah menyediakan sampel patogen bagi institusi militer yang melakukan penelitian senjata biologis.

Sejumlah analis menunjukkan bahwa salah satu hasil penelitian yang pernah dipublikasikan oleh institut tersebut berkaitan dengan penelitian peningkatan fungsi (gain-of-function), yaitu penelitian yang dapat meningkatkan karakteristik tertentu suatu organisme, termasuk tingkat virulensi bakteri.

Hal ini memicu dugaan apakah peneliti tersebut mungkin terpapar patogen yang telah dimodifikasi selama proses eksperimen.

“Kalau begitu, orang pasti akan bertanya: apakah orang ini terinfeksi patogen yang telah ditingkatkan kemampuannya ketika melakukan penelitian peningkatan fungsi? Karena patogen tersebut mungkin memiliki resistansi tambahan terhadap obat, sehingga kita tidak bisa langsung menemukan antibiotik yang tepat untuk menghambatnya. Bukankah itu akan menjadi masalah besar? Kata Dr. Lin Xiaoxu, pakar virus. 

“Jika memang terjadi peristiwa seperti ini, meskipun belum sampai pada tahap pelepasan agen biologis setingkat senjata biologis, laboratorium sudah menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan.”

Namun demikian, hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa peneliti tersebut terinfeksi patogen hasil modifikasi. Penyebab kematian yang sebenarnya masih menunggu hasil penyelidikan.

Sejumlah kalangan medis juga berpendapat bahwa insiden ini kemungkinan lebih berkaitan dengan kecelakaan selama proses penelitian. Jika dibandingkan dengan kasus virus PKT atau COVID-19, peristiwa semacam ini mungkin tidak sepenuhnya berada dalam kendali para peneliti.

“Seperti virus Wuhan atau COVID-19. Ketika virus itu dibawa keluar dari laboratorium melalui orang pertama yang terinfeksi, yakni pasien nol, lalu menyebar, itu juga merupakan sebuah kecelakaan. Intinya, dalam sistem otoriter seperti ini, mereka mungkin ingin memanfaatkan sesuatu, tetapi waktu terjadinya peristiwa tersebut bukanlah sesuatu yang bisa mereka kendalikan,” ujar Dr. Liu, profesor di sebuah perguruan tinggi pengobatan tradisional Tiongkok di Kanada sekaligus direktur Klinik Pengobatan Tradisional Tiongkok Kangmei. 

Apakah Insiden Ini Dapat Memicu Penularan yang Lebih Luas?

Mengenai kemungkinan insiden ini memicu penyebaran penyakit dalam skala yang lebih besar, para ahli menganalisis karakteristik penularan patogen yang bersangkutan.

Dr. Liu menjelaskan: “Pertama, Rusia sedang memasuki musim dingin. Dalam kondisi seperti itu, laju penularannya relatif tidak akan terlalu cepat. Selain itu, bakteri dan virus memiliki karakteristik yang berbeda.

“Virus seperti penyebab COVID-19 dapat menyebar melalui udara dan bertahan dalam bentuk aerosol. Ketika penularan melalui aerosol terjadi, penyebarannya bisa sangat cepat. Sementara itu, bakteri seperti ini relatif menyebar lebih lambat.”

Saat ini, WHO menyatakan belum menemukan bukti adanya penularan berkelanjutan. Namun, pertanyaan mengenai patogen apa yang menginfeksi peneliti tersebut dan mengapa ia meninggal secara mendadak masih belum mendapatkan jawaban yang jelas.

Dilaporkan oleh wartawan NTD, Yixin dan Qiu Yue.

INSPIRASI ERABARU

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh.Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

Mengapa Anak Perempuan (Memang Sepantasnya) Menyukai Cinderella

Jauh sebelum kisahnya dilengkapi sepatu kaca dan ibu peri, Cinderella telah mengisahkan keberanian, keadilan, dan keluhuran budi.Walker LarsonSaya dan istri mengizinkan putri kami menonton...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine