Viral Restoran di Guangdong, Tiongkok Mencuci Sayuran Salad dengan Sabun Cuci Piring, Video Terungkap Lalu Segera Dihapus

EtIndonesia.com Pada 16 September, sebuah video yang memperlihatkan seorang pekerja dapur sebuah restoran di Guangdong menggunakan sabun cuci piring untuk mencuci sayuran salad beredar di internet dan menarik perhatian. Video tersebut kemudian segera dihapus.

Video yang beredar di internet memperlihatkan sejumlah pekerja di dapur restoran “Kaileli Western Kitchen” di Guangdong sedang bercanda dan bermain-main saat bekerja. Salah seorang pekerja merekam suasana kerja mereka dengan telepon seluler.

“Teman-teman, teman-teman, cuci sayuran pakai sabun cuci piring, hahaha,” kata seorang pekerja laki-laki muda sambil tertawa ke arah kamera.

Dalam video terlihat dirinya bersama seorang pekerja laki-laki lainnya mengambil sayuran yang akan digunakan untuk membuat salad dari bak cuci yang penuh busa, lalu memasukkannya ke dalam sebuah keranjang. Busa masih terlihat jelas menempel pada sayuran tersebut.

Video ini memicu perdebatan di internet mengenai apakah sabun cuci piring dapat digunakan untuk mencuci sayuran. Video tersebut kemudian diturunkan oleh platform.

Seorang warganet mengatakan, “Sabun cuci piring hanya bisa digunakan untuk mencuci sayuran atau buah yang memiliki kulit, seperti terong dan apel, dan setelah dicuci harus dibilas sampai benar-benar bersih. Untuk sayuran yang memiliki batang atau tangkai, sabun cuci piring bisa meresap ke dalam batang sehingga sulit dibersihkan. Saat dimakan, rasanya bisa seperti sabun cuci piring. Saya sendiri pernah mendapat makanan pesan antar yang terasa seperti sabun cuci piring.”

Warganet lainnya mengatakan, “Ini sama prinsipnya dengan sayuran beracun. Cairannya sudah meresap ke bagian akar dan batang. Hanya buah seperti apel yang bisa dicuci dengan cara seperti itu. Orang seperti ini memang keterlaluan.”

Ada pula warganet yang mengeluh, “Masakan Tiongkok benar-benar jauh lebih unggul dalam hal yang menyebabkan kanker.”

Video lain yang beredar di media sosial Tiongkok memperlihatkan dua orang koki sedang memasak hidangan dalam panci besar. Keduanya terlihat memegang botol sabun cuci piring dan terus menuangkan cairan yang tidak diketahui ke dalam panci.

Seorang warganet yang mengunggah video tersebut merasa bingung dan bertanya, “Memasukkan sabun cuci piring ke dalam masakan? Ini cara apa?”

Namun, ada warganet yang memberikan klarifikasi bahwa orang yang merekam video tersebut sebelumnya telah menjelaskan bahwa botol sabun cuci piring itu sebenarnya berisi bumbu racikan khusus, bukan sabun cuci piring. Meski demikian, menggunakan botol bekas atau botol yang identik dengan sabun cuci piring untuk menyimpan bumbu memang kurang tepat dan mudah menimbulkan kesalahpahaman.

Latihan “Orient Shield” AS-Jepang-Australia : 380 Prajurit Terjun Payung Memukau Para Penonton

EtIndonesia.com Menjelang pertemuan Trump dan Xi Jinping, latihan militer tengah berlangsung di kawasan Indo-Pasifik. Latihan gabungan “Orient Shield” yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia telah berlangsung selama lebih dari satu minggu dan dijadwalkan berakhir pada 24 September. 

Tahun ini, total sekitar 3.700 personel ikut ambil bagian, menjadikannya latihan dengan skala terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

Salah satu sorotan utama latihan kali ini adalah latihan penerjunan udara yang digelar di Hokkaido pada 15 September. Sebanyak 380 personel militer AS dan Pasukan Bela Diri Jepang secara bergantian melompat dari pesawat dari ketinggian, membuka parasut, mendarat dengan aman, kemudian melanjutkan misi di darat.

Tahun ini juga untuk pertama kalinya digelar latihan mobilitas melalui laut, guna memastikan bahwa dalam keadaan darurat, personel dan peralatan militer dapat dengan lancar dikirim ke Kepulauan Ryukyu dan wilayah lainnya yang berada dekat Taiwan.

Laporan NTD Asia-Pasifik 

Pakar Tiongkok Yu Maochun: Amerika Serikat Harus Bersiap Menghadapi Kemungkinan “Runtuhnya PKT Secara Tiba-Tiba” 

Apakah rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) dapat runtuh secara tiba-tiba? Apakah Amerika Serikat dan dunia Barat perlu mulai memikirkan kemungkinan ini dengan serius? Pakar Tiongkok dari lembaga pemikir Amerika Serikat, Hudson Institute, Yu Maochun, dalam artikel terbarunya memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak boleh hanya berasumsi bahwa PKT akan terus bertahan dalam jangka panjang, tetapi juga perlu merencanakan lebih awal untuk “era pasca-PKT”, guna mengantisipasi berbagai resiko besar apabila PKT tiba-tiba kehilangan kekuasaan, seperti kendali atas senjata nuklir dan militer, serta kekosongan politik dan keuangan.

EtIndonesia.com  Bagaimana dunia harus merespons jika PKT tiba-tiba runtuh? Pertanyaan yang selama ini jarang dibahas secara serius di kalangan strategis arus utama Barat kini mulai mendapat perhatian.

Yu Maochun, pakar masalah Tiongkok dari Hudson Institute, dalam artikel yang diterbitkan di The Washington Times pada 14 September menyatakan bahwa selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat dan sekutunya dalam merumuskan kebijakan terhadap Tiongkok berangkat dari asumsi dasar bahwa PKT akan terus berkuasa dan tetap menjadi kekuatan penting dalam politik internasional. Namun, menurutnya, Barat juga harus mempertimbangkan kemungkinan lain, yaitu PKT secara tiba-tiba kehilangan kendali atas Tiongkok, dan bagaimana dunia seharusnya merespons situasi tersebut.

Yu Maochun mengambil contoh situasi dunia pada akhir Perang Dingin. Menurutnya, rezim otoriter yang tampak sangat kuat pun dapat runtuh dengan cepat dalam waktu singkat. Pada tahun 1989, sejumlah rezim komunis di Eropa Timur jatuh dalam hitungan bulan, dan dua tahun kemudian Uni Soviet bubar. Sebelum runtuh, rezim-rezim tersebut juga memiliki militer, badan intelijen, dan aparatur negara yang kuat.

Yu Maochun menunjukkan bahwa PKT memiliki persenjataan nuklir, kekuatan militer berskala besar, lembaga keamanan dan intelijen yang luas, laboratorium biologis, perusahaan milik negara, serta institusi keuangan penting. Jika terjadi kekosongan kekuasaan di tingkat pusat, muncul pertanyaan apakah kekuatan militer atau keamanan daerah akan menguasai senjata secara mandiri, dan siapa yang akan mengendalikan senjata nuklir maupun fasilitas sensitif lainnya. Semua itu dapat berkembang menjadi krisis keamanan internasional.

Yu Maochun, pakar masalah Tiongkok dari Hudson Institute (tangkapan layar)

Risiko besar lainnya adalah sektor ekonomi dan keuangan. Mata uang yuan, sistem perbankan, perusahaan milik negara, cadangan devisa, serta aset pemerintah dalam jumlah besar dapat menjadi objek perebutan berbagai kekuatan jika rezim PKT tiba-tiba runtuh.

Laporan Hudson Institute sebelumnya yang berjudul China After Communism: Preparing for a Post-CCP Era (Tiongkok Pasca-Komunisme: Mempersiapkan Era Pasca-PKT) meneliti berbagai persoalan yang mungkin muncul setelah runtuhnya PKT, mencakup bidang militer, intelijen, ekonomi, hak asasi manusia, serta tata kelola konstitusional.

Yu Maochun berpendapat bahwa Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya perlu membangun mekanisme tanggap permanen dan memandang persiapan semacam ini sebagai bentuk “asuransi strategis”.

Namun demikian, Yu Maochun tidak memprediksi bahwa PKT pasti akan runtuh dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun mengetahui apakah perubahan besar seperti itu akan terjadi, ataupun kapan hal itu mungkin terjadi. Yang terpenting adalah tidak menunggu hingga krisis benar-benar terjadi baru mulai melakukan persiapan.

Laporan terjemahan NTD Television

Dirugikan Kebijakan Xi Jinping? Tiga Maskapai Besar Tiongkok Merugi Sekitar Rp 21,8 Triliun, Pengamat Ungkap Penyebabnya 

EtIndonesia.com Tiga maskapai penerbangan milik negara terbesar di Tiongkok mencatat kerugian gabungan sekitar 8,2 miliar yuan (sekitar Rp21,8 triliun) pada paruh pertama tahun ini. Seorang pengamat media menganalisis bahwa selain melonjaknya biaya bahan bakar, ada faktor politik lain di balik kondisi tersebut, yaitu seruan pemerintahan Xi Jinping agar masyarakat menghindari perjalanan ke Jepang. Akibatnya, rute penerbangan ke Jepang yang merupakan salah satu pasar paling menguntungkan ikut dipangkas.

Menurut laporan keuangan yang secara bertahap dirilis hingga akhir Agustus, pada paruh pertama 2026, tiga maskapai penerbangan milik negara terbesar di Tiongkok—Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines—secara gabungan mencatat kerugian sekitar 8,2 miliar yuan.

Menanggapi hal tersebut, Akio Yaita, Direktur Eksekutif Indo-Pacific Strategic Think Tank, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak merupakan salah satu penyebab penting. Namun, ada faktor lain yang patut diperhatikan, yaitu Tiongkok sendiri memangkas rute penerbangan ke Jepang yang merupakan salah satu rute paling menguntungkan.

Dalam unggahannya di platform X pada 16 September, Akio Yaita mengatakan bahwa pada November tahun lalu, setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membahas isu “darurat Taiwan” dalam parlemen, hubungan Jepang-Tiongkok memburuk dengan cepat. Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) kemudian menyerukan masyarakat untuk menghindari perjalanan ke Jepang, sementara maskapai penerbangan Tiongkok mulai memangkas banyak penerbangan. Pada periode Tahun Baru tahun ini, bahkan 49 rute penerbangan ke Jepang dihentikan sepenuhnya.

Ia mengatakan, saat konsumsi domestik Tiongkok sedang lesu, masyarakat sangat sensitif terhadap harga tiket pesawat, sementara jaringan kereta cepat juga semakin luas. Untuk rute Beijing-Shanghai, jika harga tiket pesawat sedikit lebih mahal, banyak orang akan beralih menggunakan kereta cepat. Karena itu, maskapai penerbangan sangat sulit menaikkan harga tiket penerbangan domestik untuk menutup kenaikan biaya.

Rute Jepang berbeda. Penumpang bisnis dan wisatawan cukup banyak, pasarnya sudah matang, dan meskipun harga tiket sedikit naik, sebagian besar penumpang tidak akan membatalkan perjalanan. Justru ketika harga minyak naik dan maskapai paling membutuhkan kenaikan tarif, Tiongkok karena pertimbangan politik malah memangkas salah satu pasar penting tersebut.

Akio Yaita mengatakan, yang lebih ironis, Jepang ternyata tidak mengalami pukulan sebesar yang dibayangkan. Dari Januari hingga Juli tahun ini, jumlah wisatawan dari Tiongkok daratan yang berkunjung ke Jepang turun 56,3%, atau lebih dari separuhnya menghilang. Namun, pada periode yang sama, jumlah wisatawan asing secara keseluruhan yang berkunjung ke Jepang hanya turun 1,7%. Pada Juli, jumlah wisatawan asing yang mengunjungi Jepang bahkan mencapai 3,44 juta orang, mencatat rekor tertinggi untuk bulan Juli sepanjang sejarah.

Dengan kata lain, ketika wisatawan Tiongkok tidak datang, wisatawan dari Korea Selatan, Taiwan, Asia Tenggara, Eropa, Amerika Serikat, dan wilayah lainnya dengan cepat mengisi kekosongan tersebut.

Akio Yaita mengatakan, PKT pada awalnya berharap dapat menggunakan pasar wisatawan yang sangat besar sebagai alat untuk menekan Jepang. Namun, Jepang ternyata tidak sampai terpuruk, sementara maskapai penerbangan Tiongkok justru kehilangan salah satu pasar mereka yang paling menguntungkan.

Ia mengatakan, hal ini juga mencerminkan dilema yang sering muncul dalam penggunaan “cara-cara ekonomi untuk menangani masalah diplomatik” oleh partai komunis Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Perekonomian saling bergantung; setiap tindakan yang diambil juga menimbulkan biaya bagi pihak yang mengambil tindakan tersebut. Jika tidak hati-hati, hasilnya bisa seperti ungkapan “melukai musuh 800, tetapi diri sendiri terluka 1.000”.

Terkait kerugian yang ditimbulkan oleh penghentian penerbangan ke Jepang dari Tiongkok, sejumlah warganet dalam kolom komentar mengatakan bahwa pihak yang mengalami kerugian bukan hanya maskapai penerbangan Tiongkok.

Salah seorang warganet menulis, “Industri pariwisata Jepang hampir tidak terdampak juga karena ada faktor penting lainnya. Sebelumnya, sebagian besar uang dari rombongan wisatawan Tiongkok yang bepergian ke Jepang masuk ke jaringan layanan terpadu yang dijalankan perusahaan-perusahaan perjalanan Tiongkok di Jepang. Toko bebas pajak milik modal Tiongkok, toko kosmetik dan obat-obatan, restoran, penginapan, hotel, serta layanan transportasi yang selama ini mengandalkan rombongan wisatawan Tiongkok sebagai sumber pelanggan utama sudah mengalami kesulitan besar sejak awal.”

Warganet lainnya berkomentar, “Tahu mengapa Tiongkok bisa sampai ‘melukai musuh 800 tetapi diri sendiri terluka 1.000’? Karena yang mengalami kerugian adalah uang rakyat, sementara pemerintah tetap makan, minum, dan hidup dengan nyaman.”

Ada pula yang berkata, “Bagi masyarakat Jepang, tidak datangnya orang Tiongkok justru merupakan hal yang baik! Lebih tenang dan lebih bersih. Mengenai klaim bahwa tidak datangnya orang Tiongkok akan menyebabkan kerugian bagi industri pariwisata Jepang, lupakan saja! Orang-orang dari negara lain justru berlomba-lomba datang, jadi dari mana kerugiannya?”

Lukisan SBY Hadir di Surabaya, Rekam Memori, Alam, hingga Suara Perdamaian

SURABAYA — Puluhan hingga sekitar 100 karya lukis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia, dipamerkan di Voza Tower Surabaya, Jawa Timur, selama 16–29 September 2026.

Pameran tunggal tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran buku monograf berjudul Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono. Pembukaan pameran berlangsung Selasa (15/9) dan dihadiri sejumlah tokoh dari kalangan pemerintahan, dunia usaha, ekonomi kreatif, serta figur publik.

Pameran ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal sisi lain SBY setelah menyelesaikan masa kepresidenannya pada 2014. Selain dikenal sebagai negarawan dan mantan Presiden RI selama dua periode, SBY kini menekuni dunia seni lukis sebagai sarana berekspresi sekaligus merekam pengalaman dan pandangannya terhadap kehidupan.

SBY mengatakan, ketertarikannya terhadap seni lukis sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Pada masa remaja, ia pernah memiliki ketertarikan pada kegiatan melukis.

“Jadi saya sebagai pelukis bukan mualaf, tetapi kembali,” ujar SBY.

Pilihan untuk kembali melukis semakin intens setelah wafatnya Ani Yudhoyono di Singapura pada 1 Juni 2019. SBY mengaku mengalami masa duka yang panjang setelah kehilangan pendamping hidupnya.

“Selama hampir dua tahun sepeninggal Ibu Ani, saya mengalami kesedihan mendalam. Terbiasa berdua ke mana pun, saling melengkapi, apalagi di saat-saat krisis, merencanakan aktivitas seusai melepaskan tugas kenegaraan, tiba-tiba saya sendiri,” ungkapnya.

Dalam proses menghadapi kehilangan tersebut, melukis menjadi salah satu ruang bagi SBY untuk mengenang, berekspresi, sekaligus mengolah pengalaman personalnya. Karya-karyanya kemudian berkembang tidak hanya mengangkat kenangan pribadi, tetapi juga alam serta persoalan sosial dan politik.

Tiga Lanskap dalam Karya SBY

Kurator sekaligus penulis monograf, Suwarno Wisetrotomo, membagi karya-karya yang ditampilkan ke dalam tiga kelompok utama, yakni Lanskap Memori, Lanskap Sosial-Politik, dan Lanskap Tatapan Langsung atau On the Spot.

Pada bagian Lanskap Memori, karya-karya SBY banyak berangkat dari pengalaman personal dan kemanusiaan. Lukisan seperti Understand More The Meaning of Life (2021) dan Good Morning (2023), misalnya, merefleksikan proses SBY dalam menghadapi kehilangan dan mengubah duka menjadi penerimaan.

Sementara itu, karya The Day God Test Our Faith and Courage (2024) merekam memori sosial mengenai gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh.

Menurut Suwarno, karya-karya tersebut menunjukkan pergulatan SBY dalam menghadapi rasa kehilangan dan kesendirian setelah wafatnya Ani Yudhoyono. Pengalaman personal itu kemudian diolah melalui bahasa visual yang lebih metaforis.

“Tidak hanya yang personal, tetapi memori kemanusiaan seperti tsunami yang melanda bumi Aceh merupakan tema yang kuat, menjadi semacam monumen duka,” kata Suwarno.

Kelompok kedua adalah Lanskap Sosial-Politik. Melalui karya-karya ini, SBY menyuarakan perhatian terhadap berbagai persoalan dunia, terutama perang, konflik, keadilan, dan perdamaian.

Sejumlah karya yang ditampilkan antara lain Stop War, United for Peace (2025), Gaza, The Extreme Human Suffering (2025), The Cry of Justice (2023), The Genius (2025), serta karya-karya bertema keadilan dan perdamaian lainnya.

Suwarno menyebut karya-karya dalam kelompok ini menunjukkan kepedulian SBY terhadap situasi geopolitik, sosial, dan ekonomi dunia yang penuh ketegangan.

Melalui lukisan, SBY antara lain menyerukan penghentian perang, penegakan keadilan, dan terciptanya perdamaian. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Napoleon The Genius (2025), yang mengangkat sosok Napoleon Bonaparte dan jejak kekuasaannya.

“Meski hebat, bahkan genius, tetapi jejak kekuasaan Napoleon sangat berdarah-darah,” ujar SBY.

Kelompok ketiga adalah Lanskap Tatapan Langsung (On the Spot). Karya-karya ini dibuat ketika SBY melukis secara langsung objek atau panorama yang berada di hadapannya.

Beberapa di antaranya adalah Mount Merapi the Strong (2023), The Sound of Klayar Beach (2024), dan Little Hill at Damar Langit (2026).

Dalam metode tersebut, SBY merekam panorama alam seperti gunung, hutan, sungai, bebatuan, pantai, hingga laut. Karakter lukisannya cenderung lebih spontan karena proses berkarya berlangsung bersamaan dengan perubahan cahaya di alam.

“Melukis secara on the spot melatih kepekaan, mengamati, memilih sudut pandang, dan mengeksekusi menjadi karya. Semua proses itu mendekatkan diri pada alam,” kata SBY.

Menurut Suwarno, pendekatan tersebut membuat karya-karya SBY pada bagian On the Spot terasa lebih ekspresif dan spontan. Prosesnya seolah berpacu dengan perubahan cahaya, yang mengingatkan pada praktik para pelukis impresionisme abad ke-19.

Pameran Gratis untuk Masyarakat

Pameran di Voza Tower dibuka untuk masyarakat umum setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB tanpa dipungut biaya.

Selain melihat karya, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan pendukung selama pameran. Program tersebut antara lain talkshow dan bedah karya, live painting bersama SBY, aktivitas mewarnai bersama anak-anak difabel, sharing session dengan pengusaha, melukis di atas keramik dan tas, fashion show anak, hingga lomba membaca puisi karya SBY.

Penyelenggara berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat membuat pameran lebih inklusif dan mendekatkan seni lukis kepada masyarakat, termasuk generasi muda, keluarga, komunitas, serta mereka yang belum terbiasa mengunjungi ruang seni.

Berawal dari Gagasan Hermanto Tanoko

Pameran ini merupakan bagian dari penerbitan buku monograf Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono yang diterbitkan PT Penerbit & Publikasi Yudhoyono (The Yudhoyono Institute) pada 2026.

Gagasan penerbitan buku tersebut berawal dari ketertarikan Hermanto Tanoko terhadap karya seni pelukis Indonesia serta kekagumannya terhadap sosok dan perjalanan kepemimpinan SBY.

Hermanto kemudian menggagas dokumentasi karya-karya lukis SBY dalam sebuah buku monograf. Buku tersebut dilengkapi tulisan berupa hasil wawancara Suwarno Wisetrotomo dengan SBY berjudul Seniman Bagian dari The Good Society — Percakapan dengan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Ke-6 Republik Indonesia.

Hermanto menilai perkembangan seni membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari seniman, komunitas, dunia usaha, institusi, hingga masyarakat.

“Bagi saya, melukis dan mengelola bisnis memiliki filosofi dasar yang sama. Keduanya membutuhkan visi yang jernih, kepekaan terhadap rasa, keberanian dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam merajut setiap detailnya,” ujar Hermanto.

Suwarno, yang pernah menjadi kurator Galeri Nasional Indonesia pada 1996–2024, terlibat dalam penyusunan konsep pameran sekaligus penulisan monograf. Dalam prosesnya, ia melakukan wawancara dengan SBY untuk menggali cerita, pemikiran, dan pengalaman yang melatarbelakangi karya-karya tersebut.

Peluncuran buku dan pameran di Surabaya itu kemudian menjadi satu kesatuan untuk memperkenalkan perjalanan kreatif SBY kepada publik sekaligus memperluas apresiasi terhadap seni lukis Indonesia.

“Dalam perjalanan panjangnya sebagai seorang prajurit, negarawan, dan pemimpin bangsa, ternyata ada jiwa seorang seniman,” kata Hermanto.

Elyon Christian School Kenalkan Dunia Belajar Lewat Little Explorers

SURABAYA – Open House menjadi ruang untuk membangun komunikasi antara sekolah, anak dan orang tua. Dimana, keluarga dapat melihat secara langsung lingkungan belajar dan pendekatan pembelajaran di Elyon Christian School.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Luciana Kho selaku Kepala Sekolah SD Kristen Elyon – East Campus setelah sukses menyelenggarakan rangkaian Open House bertema “Little Explorers” pada bulan Agustus 2026 lalu untuk jenjang Preschool & Primary.

Luciana Kho menyampaikan bahwa, dalam agenda Open House anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk menggugah rasa ingin tahu dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing.

Sedangkan, kegiatan yang dihadirkan mencakup pengalaman belajar melalui Science, Mandarin, English, serta pembelajaran tentang Penciptaan berdasarkan Alkitab,” ucap Luciana, Kamis, (17/09/26).

Untuk pemilihan tema “Little Explorers” ini, lanjut Luciana, berangkat dari pemahaman setiap anak adalah “penjelajah kecil” yang penuh rasa ingin tahu. Serta, menggambarkan semangat anak-anak sebagai pembelajar sepanjang masa dan dorongan alami untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

Menurut Luciana, masa usia dini, khususnya jenjang TK hingga SD merupakan periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, ketika mereka mulai memahami lingkungan, membangun cara berpikir, serta belajar memecahkan masalah melalui berbagai pengalaman di sekitar mereka.

“Melalui eksplorasi, anak memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan rasa ingin tahunya secara alami. Karena itu, lingkungan belajar perlu mampu memfasilitasi rasa ingin tahu tersebut agar berkembang secara optimal,” terangnya.

Khusus untuk anak-anak usia dini, pengalaman eksplorasi juga diberikan melalui aktivitas sensori seperti walking on sensory mats serta mengenal dan menyentuh berbagai material yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti batu, sayuran, dan berbagai objek yang berkaitan dengan dunia anak.

Kegiatan Open House sendiri berlangsung di tiga lokasi. Diantaranya, Elyon Christian School West Campus (Preschool & Primary) Raya Sukomanunggal Jaya No. 33A Surabaya, Elyon Christian School – East Campus (Preschool) Kertajaya Indah Tim. Blok VII No. 41 Surabaya dan Elyon Christian School – East Campus (Primary) Sutorejo Prima Utara Blok PY No. 8 Surabaya.

Hal senada juga disampaikan Evy Lindayana selaku Kepala Sekolah Preschool Elyon Christian School – West Campus bahwa, para guru memfasilitasi kebutuhan anak dengan merancang kegiatan yang menarik dan sesuai dengan usia siswa.

“Dengan demikian, anak dapat belajar melalui pengalaman yang menyenangkan sekaligus terus mengembangkan kemampuan berpikirnya,” tandas Evy.

Menurut Evy, pendekatan tersebut sejalan dengan penerapan Cambridge Early Years, yang menggunakan play-based learning sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Melalui bermain dan eksplorasi, anak tidak hanya menikmati proses belajar, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah.

Sementara itu, pada jenjang Cambridge Primary, pembelajaran dirancang untuk memaksimalkan potensi setiap siswa dengan mendorong mereka untuk aktif bertanya, mengeksplorasi, dan mengembangkan kemampuan problem solving.

Elyon memandang pendidikan sebagai proses yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada perkembangan anak secara menyeluruh melalui Christ-centredness, Character, Competence, Creativity, dan Corpus Fitness.

Melalui Open House “Little Explorers”, Elyon Christian School berharap anak-anak dapat menemukan pengalaman belajar yang menyenangkan, semakin mengenal lingkungan belajar mereka, serta terus mengembangkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir logis.

“Pada akhirnya, eksplorasi bukan hanya tentang menemukan hal-hal baru, tetapi juga tentang memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, mencoba, berpikir, dan bertumbuh,” ungkap Luciana Kho.

Rangkaian Open House “Little Explorers” memang telah selesai. Namun, kesempatan bagi keluarga untuk mengenal pengalaman belajar di Elyon masih terbuka melalui Trial Class untuk anak usia 15 bulan hingga 4 tahun. (*)

Daxtro Bawa Teknologi Mesin Es Ramah Lingkungan ke RHVAC 2026 melalui Kolaborasi dengan Menabung Air Foundation

Jakarta — Di tengah tantangan ketersediaan air bersih yang semakin membutuhkan perhatian, inovasi teknologi menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong penggunaan sumber daya air secara lebih bertanggung jawab. Semangat tersebut dibawa Daxtro melalui kehadirannya di RHVAC 2026, pameran teknologi refrigeration, heating, ventilation, dan air conditioning yang berlangsung pada 9–11 September 2026 di NICE PIK 2, Jakarta, bersama Menabung Air Foundation (MAF).

Dalam ajang tersebut, Daxtro memamerkan teknologi mesin es yang mengedepankan efisiensi penggunaan air dan prinsip ramah lingkungan. Kolaborasi dengan MAF menjadi bagian dari upaya untuk memperkenalkan pentingnya efisiensi air sekaligus menghubungkan inovasi teknologi dengan gerakan konservasi air yang lebih luas.

“Kehadiran Daxtro di RHVAC 2026 bukan sekadar memperkenalkan teknologi mesin es, tetapi menegaskan komitmen 40 tahun pengalaman Daxtro dalam menghadirkan inovasi industri pendingin yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Bersama Menabung Air Foundation, Daxtro membuktikan bahwa inovasi dan efisiensi air dapat berjalan berdampingan untuk memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat” ujar Boris Sarikuantan, selaku Head of Marketing Daxtro.

RHVAC 2026 menjadi momentum bagi MAF untuk memperluas jejaring dan menjajaki kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, MAF berharap program konservasi air bersama Daxtro dapat menjangkau lebih banyak desa, sekolah, dan komunitas di Indonesia.

Kolaborasi ini menegaskan bahwa sektor industri dapat turut berperan dalam menjaga lingkungan. MAF berharap semakin banyak perusahaan dan pelaku industri tergerak untuk berkontribusi melalui inovasi dan aksi nyata demi keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.

Iran Mulai Bergejolak! Toko-Toko Tutup Massal, Teheran Tiba-Tiba Ingin Berdamai dengan AS

EtIndonesia.com Pada Rabu, 16 September 2026, sejumlah kota di wilayah barat Iran mengalami gelombang penutupan toko dan pasar secara luas. Aksi tersebut berlangsung ketika tekanan politik, keamanan, dan ekonomi terhadap pemerintah Iran terus meningkat, sementara Teheran pada saat yang sama mulai menunjukkan sinyal untuk kembali mengedepankan jalur diplomasi dalam menghadapi Amerika Serikat.

Rekaman video dan laporan yang diterima Iran International memperlihatkan deretan toko dengan pintu tertutup di sejumlah kota, termasuk Saqqez, Sanandaj, Marivan, Baneh, Kermanshah, Oshnavieh, Bukan, Paveh, dan Divandarreh. Aksi serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa kota lain yang memiliki populasi Kurdi cukup besar.

Penutupan kegiatan perdagangan tersebut bertepatan dengan peringatan empat tahun wafatnya Mahsa Jina Amini pada 16 September 2022. Perempuan muda Kurdi berusia 22 tahun itu meninggal setelah ditahan polisi moral Iran. Kematiannya kemudian memicu gelombang demonstrasi besar yang dikenal melalui slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” atau Woman, Life, Freedom.

Menurut IranWire, aksi pada 16 September 2026 berlangsung luas. Di Saqqez, kampung halaman Amini, penutupan tidak hanya terjadi di kawasan perdagangan utama, tetapi juga merambah toko-toko di jalan sekunder dan kawasan permukiman. Sehari sebelumnya, pada 15 September, pejabat lokal disebut telah bertemu perwakilan kelompok perdagangan dan meminta agar aktivitas komersial tetap berjalan. Namun, pada keesokan harinya banyak pedagang tetap memilih menutup usaha mereka.

Situasi keamanan pun diperketat.

Laporan dari beberapa organisasi pemantau hak asasi manusia menyebut aparat keamanan dikerahkan di sejumlah kota. Polisi, unit anti-huru-hara, serta kendaraan keamanan terlihat berpatroli. Kurdistan Human Rights Network juga melaporkan bahwa aparat keamanan telah berada dalam kondisi siaga menjelang peringatan tersebut.

Dengan demikian, penutupan toko kali ini bukan semata-mata persoalan ekonomi. Aksi tersebut memiliki dimensi politik dan simbolis yang kuat karena berlangsung tepat empat tahun setelah kematian Amini dan gelombang demonstrasi besar pada 2022.

Di tengah perkembangan domestik itu, perhatian internasional justru tertuju pada langkah diplomatik Iran.

Pada 16 September 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada di Beijing dan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Pertemuan tersebut menjadi penting karena berlangsung ketika hubungan Iran-Amerika Serikat masih diliputi ketegangan dan jalur pelayaran strategis di kawasan menghadapi gangguan serius.

Dalam pertemuan tersebut, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak berkepentingan untuk terus memperpanjang konflik dengan Amerika Serikat. Teheran, menurut pernyataannya, tetap terbuka terhadap jalur diplomasi selama kepentingan dan hak-hak Iran dapat dijamin.

Sementara itu, Wang Yi menyampaikan pesan yang cukup jelas kepada kedua pihak.

Tiongkok mendorong Iran dan Amerika Serikat untuk tetap rasional, menahan diri, serta kembali pada kerangka Nota Kesepahaman Islamabad yang dicapai pada Juni 2026 melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Beijing juga menyerukan agar mekanisme perundingan kembali dibangun berdasarkan konsensus yang sebelumnya telah dicapai.

Yang tidak kalah penting, Wang Yi secara terbuka menyerukan langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz sesegera mungkin.

Bagi Beijing, persoalan Selat Hormuz bukan sekadar konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi harga minyak, biaya transportasi, hingga stabilitas rantai pasokan internasional.

Wang mengatakan semua pihak perlu mengambil langkah efektif untuk menjamin keamanan dan kelancaran jalur pelayaran internasional serta menjaga stabilitas transportasi energi global. Tiongkok juga menyatakan tidak menginginkan ketegangan kawasan semakin meluas ke Yaman dan Laut Merah.

Pertemuan Araghchi-Wang menjadi semakin menarik karena berlangsung menjelang rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Karena itu, sikap Beijing terhadap Iran kini mendapatkan perhatian lebih besar. Di satu sisi, Tiongkok tetap menegaskan Iran sebagai mitra strategis dan menyatakan kesediaannya melindungi kepentingan sah Teheran. Namun di sisi lain, Beijing secara terbuka meminta Iran dan Amerika Serikat menahan diri, kembali berunding, serta memulihkan kelancaran pelayaran di Hormuz.

Ada pula persoalan lain yang membayangi hubungan Washington-Beijing.

Dalam laporan yang diterbitkan The Wall Street Journal, pejabat Amerika Serikat disebut mengaitkan citra satelit beresolusi tinggi yang diperoleh Iran dari entitas Tiongkok dengan serangan rudal Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada 17 Juli 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tiga personel militer Amerika dan melukai empat lainnya.

Namun, terdapat perbedaan penting yang perlu diperjelas.

Laporan itu tidak menyimpulkan bahwa pemerintah Xi Jinping secara langsung memberikan citra satelit kepada Iran. Kekhawatiran Washington berpusat pada keterlibatan entitas atau perusahaan Tiongkok serta kemungkinan teknologi dan data tersebut membantu meningkatkan kemampuan Iran dalam menentukan sasaran. Beijing sendiri membantah tuduhan melakukan tindakan yang melanggar hukum internasional.

Karena itu, klaim yang beredar di media sosial bahwa insiden tersebut membuat Xi Jinping sangat khawatir atau bahwa Perdana Menteri Li Qiang menyarankan Xi membatalkan perjalanan tertentu tidak dapat diperlakukan sebagai fakta tanpa bukti tambahan dari sumber yang kredibel.

Jika seluruh perkembangan pada 16 September 2026 dilihat secara bersamaan, Iran kini menghadapi tekanan dari beberapa arah.

Di dalam negeri, aksi penutupan toko di kota-kota wilayah barat memperlihatkan bahwa simbol dan ingatan terhadap gerakan protes 2022 masih memiliki pengaruh. Pada saat yang sama, tekanan ekonomi dan keamanan terus menjadi persoalan serius bagi pemerintah.

Di luar negeri, Teheran harus menghadapi konflik dengan Amerika Serikat sekaligus mempertahankan hubungan dengan Tiongkok, salah satu mitra ekonomi dan pembeli minyak Iran yang paling penting.

Beijing juga berada dalam posisi yang rumit. Tiongkok berkepentingan mempertahankan hubungan strategis dengan Iran, tetapi pada saat bersamaan membutuhkan stabilitas jalur perdagangan energi dan berusaha mencegah konflik Timur Tengah semakin mengganggu perekonomian global.

Itulah sebabnya pertemuan Araghchi dan Wang Yi di Beijing menjadi lebih dari sekadar pertemuan diplomatik rutin.

Pesan yang muncul pada 16 September cukup jelas: Iran mulai kembali membuka ruang diplomasi, sementara Tiongkok mendorong deeskalasi dan pemulihan jalur pelayaran internasional.

Apakah perkembangan ini benar-benar menjadi awal dari kembalinya Iran dan Amerika Serikat ke meja perundingan, atau hanya langkah taktis menjelang pertemuan Trump-Xi, masih harus dilihat dari perkembangan berikutnya.

Namun satu hal terlihat jelas. Ketika tekanan domestik di Iran kembali muncul dan ketidakstabilan kawasan mengancam jalur energi dunia, ruang bagi diplomasi kini kembali mendapatkan perhatian besar—dan Beijing berusaha menempatkan dirinya di tengah proses tersebut. (***)

Situasi Makin Berbahaya! Houthi Klaim Jatuhkan F-15 Saudi, Iran dan AS Kembali Bentrok

EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam pada Rabu, 16 September 2026, ketika konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman berlanjut bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Salah satu perkembangan yang paling mendapat perhatian datang dari Yaman. Kelompok Houthi mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Angkatan Udara Arab Saudi di wilayah Marib, Yaman.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan pesawat tersebut ditembak menggunakan rudal permukaan-ke-udara yang menurut kelompok itu diproduksi secara lokal. Houthi kemudian merilis rekaman yang diklaim memperlihatkan puing-puing pesawat, termasuk bagian sayap dan ekor yang tampak memiliki tanda Angkatan Udara Arab Saudi.

Namun hingga laporan ini disusun, pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kehilangan pesawat tersebut. Karena itu, klaim bahwa F-15 Saudi benar-benar ditembak jatuh belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen.

Nasib awak pesawat juga belum diketahui secara pasti. Informasi awal yang beredar belum dapat memastikan apakah awak berhasil melontarkan diri, tewas dalam insiden tersebut, atau berada di wilayah yang dikuasai Houthi.

Jika kehilangan F-15 itu nantinya dikonfirmasi Arab Saudi, peristiwa tersebut akan menjadi perkembangan penting dalam konflik terbaru. F-15 merupakan salah satu tulang punggung kekuatan udara Saudi dan selama bertahun-tahun memainkan peran penting dalam operasi udara kerajaan tersebut di Yaman.

Insiden itu terjadi ketika pertempuran Saudi-Houthi kembali meningkat. Pada 16 September 2026, Saudi melancarkan serangkaian serangan udara terhadap posisi Houthi di Yaman, sementara kelompok tersebut membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah sasaran di Arab Saudi. Houthi antara lain mengklaim menyerang fasilitas energi di Yanbu serta pangkalan udara di Khamis Mushait.

Di tengah pertempuran tersebut, muncul perkembangan diplomatik yang tidak kalah mengejutkan.

Reuters pada 16 September 2026 mengungkap bahwa pejabat Amerika Serikat telah mengadakan pertemuan yang sebelumnya tidak dipublikasikan dengan perwakilan senior Houthi di Muscat, Oman, pada akhir pekan sebelumnya.

Menurut lima sumber yang mengetahui pembicaraan itu, pertemuan berlangsung di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Muscat, dengan Oman membantu memfasilitasi komunikasi kedua pihak. Delegasi Houthi dilaporkan mencakup pejabat senior Mohammed Abdulsalam dan Abdelmalik al-Ajiri.

Pertemuan tersebut menjadi penting karena berlangsung setelah Houthi memperluas kendalinya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, termasuk wilayah strategis yang menghadap jalur pelayaran Bab el-Mandeb.

Dalam pembicaraan di Oman, perwakilan Houthi dilaporkan mengatakan kepada pihak Amerika bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal Amerika Serikat dan tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dengan Washington pada Mei 2025.

Salah satu sumber Reuters mengatakan Houthi juga menyampaikan bahwa mereka tidak akan menyerang kapal Israel maupun kapal komersial lainnya, tetapi memberikan pengecualian terhadap kapal yang terkait dengan Arab Saudi. Departemen Luar Negeri AS tidak mengonfirmasi berlangsungnya pertemuan tersebut, tetapi menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Laut Merah tetap menjadi kepentingan utama Washington.

Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya posisi Amerika Serikat. Di satu sisi, Washington memiliki hubungan keamanan yang sangat erat dengan Arab Saudi. Namun di sisi lain, Amerika Serikat tampaknya berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam front baru melawan Houthi ketika konflik dengan Iran sendiri masih berlangsung.

Arab Saudi dilaporkan mencari dukungan militer dari sejumlah sekutu karena persediaan sistem pencegat rudalnya berada di bawah tekanan. Amerika Serikat sejauh ini dilaporkan memberikan dukungan intelijen tetapi tidak terlibat langsung dalam operasi tempur Saudi melawan Houthi.

Perkembangan di Yaman menjadi semakin sensitif karena Houthi telah memperluas pengaruhnya di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu merupakan jalur penting perdagangan antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Ketika ketegangan meningkat di Bab el-Mandeb, situasi di Selat Hormuz juga tetap berbahaya.

Sebuah laporan Fox News yang muncul pada 16 September 2026 menyebut sebuah kapal yang dikontrak pihak Amerika Serikat telah terkena serangan Iran di sekitar Selat Hormuz pada awal pekan.

Menurut dua sumber yang mengetahui insiden tersebut, serangan melibatkan empat drone Iran dan sedikitnya satu rudal. Salah satu proyektil dilaporkan menghantam kapal. Sejumlah personel Amerika berada di atas kapal dan mengalami luka ringan, termasuk akibat menghirup asap. Mereka kemudian dibawa ke sebuah negara Teluk yang tidak disebutkan namanya untuk mendapatkan perawatan.

Identitas kapal, operator, bendera, serta jenis kontraknya dengan pemerintah Amerika Serikat belum dipublikasikan. CENTCOM juga belum memberikan rincian terbuka yang dapat mengonfirmasi seluruh informasi tersebut.

Insiden ini menambah daftar konfrontasi di perairan sekitar Iran.

Sehari sebelumnya, militer Amerika Serikat mengatakan pasukannya menghancurkan dua kapal kecil Iran yang mencoba merebut sebuah kapal permukaan tanpa awak atau Saildrone milik AS di Teluk Persia. CENTCOM mengatakan upaya pengambilalihan itu berhasil digagalkan. Sebaliknya, media Iran menggambarkan kapal yang dihancurkan sebagai kapal nelayan dan melaporkan adanya orang hilang.

Di tengah ancaman tersebut, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright pada 16 September mengatakan sekitar 18 juta barel minyak mengalir keluar dari kawasan Teluk pada Selasa, 15 September. Menurut Wright, angka tersebut mendekati tingkat sebelum konflik.

Namun angka itu perlu ditempatkan dalam konteks. Data pelacakan kapal Reuters menunjukkan lalu lintas kapal yang terdeteksi di Selat Hormuz pada Selasa justru hanya empat kapal, jauh di bawah rata-rata sebelumnya. Sebagian kapal memang dapat berlayar dengan transponder dimatikan sehingga tidak tercatat secara normal. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara angka pemerintah AS dan data pelacakan komersial mengenai seberapa jauh arus pelayaran benar-benar telah pulih.

Tekanan terhadap Iran juga semakin meluas ke sektor ekonomi dan penerbangan.

Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 8 September 2026 menjatuhkan sanksi terhadap 36 sasaran yang terkait dengan sektor penerbangan Iran, termasuk maskapai dan jaringan pendukungnya.

Dampaknya mulai terlihat. Mahan Air mengumumkan penghentian penerbangan ke Oman dan Turki setelah keputusan otoritas penerbangan kedua negara. Penerbangan ke Georgia juga dijadwalkan dihentikan. Untuk rute Muscat, penghentian mulai berlaku 17 September, sementara penerbangan menuju Istanbul, Ankara, dan Georgia dijadwalkan berhenti pada 21 September 2026.

Tekanan diplomatik terhadap Teheran juga muncul dari Eropa.

Pada 16 September 2026, Kementerian Luar Negeri Swedia memanggil Duta Besar Iran dan memerintahkan seorang pegawai Kedutaan Besar Iran di Stockholm meninggalkan negara tersebut. Pemerintah Swedia mengatakan aktivitas pejabat itu tidak sesuai dengan Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik, meskipun tidak membeberkan secara rinci aktivitas yang dimaksud.

Tanggal 16 September juga memiliki arti simbolis bagi Iran karena bertepatan dengan empat tahun meninggalnya Mahsa Amini, perempuan Kurdi Iran berusia 22 tahun yang meninggal pada 16 September 2022 setelah ditahan polisi moral. Kematiannya kemudian memicu gelombang demonstrasi besar di Iran.

Rangkaian perkembangan pada 16 September 2026 memperlihatkan bagaimana sejumlah titik konflik di Timur Tengah semakin saling berkaitan. Pertempuran Saudi-Houthi berlangsung di sekitar jalur Bab el-Mandeb, sementara konfrontasi Amerika Serikat-Iran terus membayangi Selat Hormuz.

Dengan dua jalur pelayaran strategis dunia berada dalam tekanan secara bersamaan, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan keamanan regional. Gangguan terhadap pelayaran, fasilitas energi, dan ekspor minyak berpotensi memengaruhi harga energi serta rantai pasokan global.

Untuk saat ini, perhatian tertuju pada tiga pertanyaan besar: apakah Arab Saudi akan mengonfirmasi kehilangan F-15 yang diklaim Houthi, apakah perundingan rahasia Amerika Serikat-Houthi di Oman mampu mencegah perluasan konflik, dan apakah insiden terhadap kapal yang membawa personel Amerika di sekitar Hormuz akan mendorong Washington mengambil langkah militer tambahan.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menentukan apakah ketegangan yang terjadi sekarang mulai bergerak menuju jalur diplomasi—atau justru membuka babak baru konflik yang lebih luas di Timur Tengah. (***)

Helikopter Berita NBC Tiba-Tiba Jatuh, Reporter Senior Perempuan Tewas di Tempat

EtIndonesia.com  Sebuah helikopter pengambil gambar milik stasiun NBC di Los Angeles, Amerika Serikat mengalami kecelakaan dan tiba-tiba jatuh saat sedang melakukan pengambilan gambar dari udara di lokasi kecelakaan lalu lintas. Tiga orang tewas di tempat, termasuk reporter senior NBC, Eliana Moreno. Pada Kamis, 17 September 2026  lebih banyak rekaman mengejutkan beredar, termasuk rekaman komunikasi yang diduga merupakan percakapan terakhir Eliana sesaat sebelum helikopter jatuh.

Kecelakaan tragis itu terjadi di kawasan San Fernando Valley, Los Angeles.

Menurut Departemen Pemadam Kebakaran Los Angeles, helikopter pengambil gambar tersebut jatuh tak lama sebelum pukul 19.00 waktu setempat, di dekat area parkir yang berada di antara dua bangunan komersial. Helikopter kemudian meledak dan terbakar. Api juga menjalar ke empat mobil dan dua kontainer di sekitarnya. Sejumlah besar petugas pemadam kebakaran segera tiba di lokasi untuk melakukan penyelamatan.

Stasiun NBC Los Angeles kemudian mengkonfirmasi bahwa helikopter yang jatuh tersebut adalah helikopter pengambil gambar NewsChopper 4 milik mereka. Helikopter tersebut biasanya digunakan NBC untuk meliput berita.

Kecelakaan itu menyebabkan tiga orang tewas. Dua di antaranya adalah reporter perempuan NBC Los Angeles Eliana Moreno dan pilot George Marciniak.

Korban ketiga berada di darat dan tewas setelah terkena dampak ketika helikopter jatuh. Identitasnya hingga kini belum diumumkan.

Beberapa jam sebelum kejadian, kecelakaan lalu lintas fatal lainnya baru saja terjadi di sekitar lokasi. Sebuah SUV bertabrakan dengan sebuah bus, menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan enam orang terluka.

Helikopter pengambil gambar tersebut jatuh ketika sedang meliput kecelakaan itu.

Penyiar senior NBC4, Colleen Williams, juga mengkonfirmasi kejadian tersebut dalam siaran langsung. Saat siaran berlangsung, pihak stasiun tiba-tiba kehilangan kontak dengan kru yang berada di dalam helikopter.

Penyiar NBC Colleen Williams: “Kami telah mengetahui bahwa kami kehilangan kontak dengan kru yang berada di lokasi. Kami baru saja menerima konfirmasi bahwa News Chopper 4 memang jatuh malam ini di Chatsworth. Kami membutuhkan beberapa menit untuk mencerna berita ini, menenangkan diri, dan kemudian menyesuaikan kembali.”

Setelah kecelakaan tersebut, Wali Kota Los Angeles Bass, Gubernur California Gavin Newsom, serta Kepolisian Los Angeles masing-masing menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan para staf NBC4 melalui unggahan di media sosial.

Seorang mantan rekan kerja kemudian membagikan rekaman komunikasi sebelum kecelakaan di platform X. Dalam rekaman tersebut terdengar reporter perempuan Eliana mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum meninggal: “Kamu tidak bisa menariknya naik?”

Diduga, Eliana sedang bertanya kepada pilot mengapa helikopter tersebut tidak dapat ditarik atau dinaikkan kembali.

Mantan rekannya juga mengatakan bahwa sebelum helikopter jatuh, tampaknya terdengar suara tidak normal dari baling-baling.

Namun, hingga saat ini penyebab jatuhnya helikopter belum diumumkan secara resmi. National Transportation Safety Board (NTSB) akan memimpin penyelidikan kecelakaan tersebut, sementara Federal Aviation Administration (FAA) juga akan turut berpartisipasi dalam investigasi.

Laporan Liu Jiajia, NTD Television, Amerika Serikat

Tiongkok Dihantam Bencana Lagi! Longsor Raksasa Sichuan hingga Hujan 921 Mm di Hainan

EtIndonesia.com  Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah wilayah di Tiongkok menghadapi rangkaian bencana hidrometeorologi dan geologi. Memasuki pertengahan September 2026, perhatian kembali tertuju pada dua wilayah berbeda: Provinsi Sichuan di barat daya Tiongkok yang dilanda longsor besar, serta Pulau Hainan di selatan yang menghadapi hujan ekstrem hingga memecahkan rekor.

Salah satu peristiwa paling dramatis terjadi pada 16 September 2026 di Provinsi Sichuan.

Menurut laporan Xinhua yang mengutip Badan Manajemen Darurat Kabupaten Mao, longsor terjadi sekitar pukul 08.40 waktu setempat di Desa Shidaguan, Kota Diexi, Kabupaten Mao, Prefektur Otonom Tibet dan Qiang Aba.

Material dalam jumlah sangat besar runtuh dari lereng gunung dan bergerak menuju kawasan di bawahnya. Longsoran tersebut menghambat aliran sungai sekaligus memutus Jalan Nasional 213 di ruas Kabupaten Mao, tepatnya di sekitar kilometer K2029+200.

Rekaman dari lokasi memperlihatkan besarnya material tanah dan batu yang bergerak menuruni lereng. Debu tebal membubung ke udara, sementara material longsoran menyebar hingga ke bagian bawah lembah.

Peristiwa ini segera menjadi perhatian karena Jalan Nasional 213 merupakan salah satu jalur penting yang melintasi kawasan pegunungan Sichuan.

Namun, di tengah besarnya skala longsoran, otoritas setempat menyatakan tidak ada korban jiwa.

Hal itu bukan semata-mata karena keberuntungan.

Wilayah tersebut ternyata sudah dipantau sejak beberapa waktu sebelumnya. Menurut laporan resmi, lereng yang tidak stabil itu telah dimasukkan ke dalam kawasan pemantauan dan pengendalian bencana geologi. Bahkan sejak Agustus, daerah tersebut telah mengalami beberapa kali longsor.

Pada 24 Agustus 2026, pemerintah setempat telah mengevakuasi seluruh 161 warga yang berada di zona berisiko dan memindahkan mereka ke tempat yang dinilai lebih aman. Sejumlah langkah pencegahan juga diterapkan, termasuk pengendalian lalu lintas dan penutupan sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kawasan terdampak.

Sehari sebelum longsor besar, yakni 15 September 2026, pihak berwenang juga telah memberlakukan pembatasan sementara terhadap lalu lintas di ruas Jalan Nasional 213 yang kemudian terdampak longsoran.

Karena langkah tersebut, ketika lereng akhirnya runtuh pada pagi 16 September, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Setelah kejadian, pemerintah daerah segera menjalankan prosedur tanggap darurat. Jalan Nasional 213 diberlakukan pembatasan dua arah dan kendaraan diarahkan menggunakan jalur alternatif.

Material longsoran juga sempat menghambat aliran Sungai Minjiang. Namun, pemerintah Prefektur Aba menyatakan aliran air dari hulu telah dialihkan melalui fasilitas pembangkit listrik sehingga, berdasarkan informasi resmi saat itu, belum muncul kondisi berbahaya akibat pembendungan sungai.

Meski demikian, kejadian tersebut kembali menunjukkan besarnya risiko bencana geologi di kawasan pegunungan Sichuan. Setelah longsor besar, pemantauan terhadap kestabilan lereng dan kondisi sungai menjadi sangat penting karena material dalam volume besar yang masuk ke sungai dapat mengganggu aliran air dan menciptakan risiko lanjutan.

Ketika Sichuan menghadapi ancaman longsor, ribuan kilometer di sebelah selatan, Provinsi Hainan juga baru saja melewati salah satu episode hujan paling ekstrem dalam sejarah pengamatan setempat.

Hujan sangat lebat terjadi selama beberapa hari akibat pengaruh gabungan depresi tropis di Laut China Selatan dan udara dingin.

Data meteorologi menunjukkan bahwa pada periode 11 September pukul 08.00 hingga 15 September pukul 08.00, hujan ekstrem mengguyur sebagian besar Pulau Hainan.

Skalanya luar biasa.

Sebanyak 116 kota kecil atau wilayah administratif tingkat kecamatan di 16 kota dan kabupaten mencatat curah hujan lebih dari 200 milimeter. Sebanyak 36 wilayah mencatat lebih dari 400 milimeter, sedangkan 14 wilayah di Baoting, Wuzhishan, Qiongzhong, dan Wanning mencatat lebih dari 600 milimeter.

Curah hujan tertinggi tercatat di Kota Xiangshui, Kabupaten Baoting, yang mencapai sekitar 921 milimeter selama periode tersebut.

Sementara itu, Wuzhishan mencatat rekor tersendiri.

Dalam periode 24 jam sejak pukul 20.00 pada 13 September hingga pukul 20.00 pada 14 September 2026, Stasiun Meteorologi Nasional Wuzhishan mencatat curah hujan 615,3 milimeter.

Angka tersebut memecahkan rekor curah hujan harian tertinggi di stasiun itu. Rekor sebelumnya tercatat sebesar 354,8 milimeter pada 13 Oktober 1989.

Dengan demikian, hujan dalam satu hari pada September 2026 hampir dua kali lipat dibandingkan rekor sebelumnya.

Dampaknya terlihat di berbagai wilayah.

Banjir dan genangan terjadi, akses jalan terganggu, sementara risiko longsor dan banjir bandang meningkat tajam. Sejumlah sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar. Pemerintah kemudian mengerahkan sumber daya untuk memperbaiki jalan, jaringan komunikasi, listrik, fasilitas pengairan, serta infrastruktur publik lainnya yang mengalami kerusakan.

Pemerintah pusat Tiongkok bahkan mengalokasikan 30 juta yuan dari anggaran investasi pusat untuk membantu pemulihan darurat pasca bencana di Hainan. Dana tersebut terutama ditujukan untuk perbaikan jalan, infrastruktur pengairan, sekolah, rumah sakit, serta berbagai fasilitas pelayanan publik.

Di tengah beredarnya berbagai informasi di media sosial mengenai kemungkinan besarnya korban, data tersebut harus dibaca secara hati-hati.

Naskah yang beredar di internet sempat mengklaim bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana di Hainan telah melampaui 600 orang. Namun, hingga laporan resmi pada 16 September 2026, angka sebesar itu belum didukung bukti yang dapat diverifikasi secara independen.

Pemerintah Hainan menyatakan data mengenai korban dan kerugian pertanian masih dalam proses pendataan. Karena itu, angka korban yang belum terkonfirmasi sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta sampai tersedia bukti yang lebih kuat.

Otoritas Hainan juga menyebut sebanyak 282 dari total 1.102 waduk kecil dan menengah mengalami limpasan normal selama periode hujan ekstrem. Tidak ada waduk yang dilaporkan menyimpan air melampaui batas pengendalian banjir, dan tidak ada kondisi darurat waduk yang dilaporkan.

Pada 15 September 2026, Badan Meteorologi Hainan menyatakan episode hujan ekstrem tersebut pada dasarnya telah berakhir. Namun, berakhirnya hujan lebat tidak berarti seluruh ancaman langsung menghilang.

Tanah yang telah menyerap air dalam jumlah sangat besar masih berada dalam kondisi jenuh. Situasi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya longsor, runtuhan lereng, dan bencana geologi lainnya beberapa hari setelah hujan berhenti.

Risiko itu sejalan dengan penilaian nasional pemerintah Tiongkok untuk September 2026.

Pada 2 September 2026, Kantor Komisi Nasional Pencegahan, Pengurangan, dan Penanggulangan Bencana bersama Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok memperkirakan sejumlah wilayah di timur laut, timur, selatan, dan barat daya Tiongkok menghadapi risiko banjir dan cuaca ekstrem yang relatif tinggi selama September.

Pemerintah juga memperkirakan sekitar lima hingga tujuh topan dapat terbentuk di wilayah Pasifik barat laut dan Laut Tiongkok Selatan sepanjang September. Dari jumlah tersebut, sekitar dua hingga tiga topan diperkirakan mendarat atau memberikan pengaruh nyata terhadap Tiongkok.

Selain ancaman topan, sejumlah wilayah juga menghadapi risiko bencana geologi akibat tingginya curah hujan.

Peristiwa di Sichuan dan Hainan menunjukkan dua bentuk ancaman yang berbeda tetapi saling berkaitan dengan kondisi cuaca dan geologi.

Di Sichuan, longsor besar pada 16 September memperlihatkan betapa cepatnya sebuah lereng tidak stabil dapat runtuh dan memutus jalur transportasi serta menghambat sungai. Namun, evakuasi 161 warga sejak 24 Agustus menjadi faktor penting yang membuat bencana tersebut tidak menimbulkan korban jiwa berdasarkan laporan resmi.

Sementara di Hainan, hujan ekstrem hingga 921 milimeter memperlihatkan bagaimana curah hujan dalam jumlah luar biasa dapat memberikan tekanan besar terhadap sistem jalan, sungai, jaringan komunikasi, listrik, dan berbagai infrastruktur publik.

Kini, perhatian tertuju pada proses pemulihan serta ancaman bencana susulan.

Dengan tanah yang masih jenuh air di sejumlah wilayah dan musim topan yang belum sepenuhnya berakhir, pemerintah setempat masih harus mempertahankan pemantauan terhadap sungai, waduk, lereng pegunungan, serta kawasan permukiman yang berada di zona rawan.

Bagi masyarakat, rangkaian kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi bencana alam, peringatan dini dan evakuasi sebelum kondisi mencapai titik kritis dapat menentukan perbedaan antara kerusakan material dan jatuhnya korban manusia . (***)

Tentara Ukraina Melancarkan Serangan Balik Besar-besaran di Wilayah Pendudukan Rusia, Menerobos 200 KM dalam Satu Gerakan

EtIndonesia.com  Pasukan Ukraina sedang melancarkan serangan balik besar di Donetsk. Selain berhasil mencapai terobosan besar, serangan ini bahkan berpotensi menggagalkan kembali rencana taktis Vladimir Putin.

Militer Ukraina mengonfirmasi bahwa Brigade Darat Independen ke-3 Ukraina telah secara resmi melancarkan operasi serangan balik berskala besar dengan nama sandi “Vivaldi.”

Brigadir Jenderal Andriy Biletskyi, komandan pasukan Ukraina, mengungkapkan bahwa operasi ini bertujuan untuk sepenuhnya mematahkan “taktik infiltrasi” yang selama ini menjadi andalan pasukan Rusia.

Sebelumnya, pasukan Rusia menggunakan taktik tersebut untuk menembus hingga puluhan kilometer ke dalam garis pertahanan Ukraina. Namun, kali ini, melalui perencanaan yang matang, pasukan Ukraina tidak hanya membersihkan sejumlah posisi Rusia dan menghantam dua kelompok pasukan utama Rusia, tetapi juga menggunakan serangan drone presisi untuk memaksa Rusia menarik jalur pasokan bahan bakarnya hingga kembali ke wilayah Rusia.

Pada tahap pertama pertempuran, Ukraina mengklaim telah menewaskan sekitar 1.500 tentara Rusia dan merebut kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya hilang.

Mengenai tujuan akhir operasi tersebut, militer Ukraina mengatakan bahwa untuk saat ini pihaknya merahasiakannya dengan ketat. Namun, mereka memberikan petunjuk: “Vivaldi memiliki ‘Empat Musim’, dan ini baru gerakan pertama.”

Selain data resmi dari militer Ukraina, penilaian dari analis intelijen sumber terbuka pihak ketiga bahkan lebih mengejutkan.

Analisis menunjukkan bahwa di sebelah utara Lyman, pasukan Ukraina telah mencabut “paku” yang ditancapkan jauh ke dalam garis pertahanan Ukraina oleh pasukan Rusia. Wilayah yang berhasil direbut kembali diperkirakan secara aktual telah mencapai lebih dari 200 kilometer persegi.

Hal ini bukan hanya menjadi salah satu kemenangan terbesar Ukraina dalam beberapa waktu terakhir, tetapi juga disebut telah menggagalkan rencana strategis Rusia untuk mengepung dari arah utara kawasan perkotaan besar Sloviansk.

Menghadapi perubahan situasi di medan perang, sejumlah blogger dan pakar militer Rusia secara terbuka mengakui—sesuatu yang jarang terjadi—bahwa posisi pasukan Rusia mengalami kemunduran.

Sebuah kanal militer terkenal bahkan secara langsung menyebut bahwa kekalahan pasukan Rusia disebabkan oleh “pelaporan situasi militer yang tidak sesuai kepada atasan” serta kesalahan penilaian taktis yang serius. Sejumlah pakar Rusia juga mengakui bahwa setelah pasukan Ukraina menerobos garis pertahanan dan masuk ke bagian belakang, pasukan Rusia di kawasan tersebut pada dasarnya telah terjebak dalam pengepungan.

Perubahan Kekuatan dalam Perundingan

Dalam hal posisi tawar dalam perundingan, Putin selama ini bersikeras untuk mencaplok seluruh wilayah Donbas. Namun, menghadapi perlawanan kuat Ukraina, pasukan Rusia dalam beberapa bulan terakhir hampir tidak mengalami kemajuan berarti.

Menurut laporan, Putin terpaksa kembali menunda tenggat waktu untuk menguasai seluruh Donetsk, dari akhir tahun ini menjadi enam bulan ke depan. Berdasarkan statistik yang dikutip, ini sudah menjadi ke-15 kalinya ia mengubah “tenggat waktu pendudukan” tersebut.

Seiring pasukan Ukraina semakin memperkuat posisi mereka dan memperluas jangkauan serangan drone, pasukan Rusia kini menghadapi krisis yang semakin berat di sepanjang garis depan.

Tanggal yang kembali diubah Putin untuk ke-15 kalinya itu, menurut laporan tersebut, kemungkinan kembali akan gagal tercapai. (***)

Terjepit Tekanan Data dan Orang Tua di ICU, Mahasiswa S3 Southern Medical University Akhiri Hidup 

EtIndonesia.com Pada 15 September, beredar kabar bahwa seorang mahasiswa kedokteran program delapan tahun yang menempuh pendidikan terintegrasi dari sarjana, magister hingga doktoral di Southern Medical University, Tiongkok meninggal dunia setelah jatuh dari gedung di dalam kampus. 

Menurut informasi yang beredar di internet, mahasiswa tersebut tiba-tiba mengalami masalah besar dalam keluarganya, sekaligus menghadapi tekanan berat dari perkuliahan, penelitian, dan pekerjaan. Setelah kejadian tersebut, sejumlah mahasiswa meletakkan bunga untuk mengenangnya, sementara mahasiswa lainnya mengungkapkan rasa duka melalui internet.

Menurut informasi yang disampaikan oleh teman-teman mahasiswa doktoral tersebut, keluarganya mengalami musibah besar. Ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas pada Juli dan sejak itu menjalani perawatan di ICU rumah sakit. Ibunya juga masuk ICU karena sakit.

Ia kemudian meminta izin kepada dosennya untuk pulang merawat kedua orang tuanya, tetapi dosen pembimbing hanya memberinya cuti selama tiga hari. Ia juga disebut diminta merekam dan mengumpulkan data setiap hari hingga dini hari. Jika data belum selesai dikumpulkan, dosen pembimbing tidak mengizinkannya melakukan presentasi proposal penelitian doktoral. Pada saat yang sama, mahasiswa doktoral tersebut juga harus bekerja di rumah sakit.

Informasi lainnya menyebutkan bahwa ayahnya meninggal dunia sehari sebelumnya, sedangkan hari itu merupakan jadwal presentasi proposal tesis/disertasi kelulusannya. Setelah mengalami penghinaan dari dosen pembimbing, ditambah kesedihan mendalam dan tekanan yang sangat berat, mahasiswa tersebut akhirnya memilih mengakhiri hidupnya.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, dosen pembimbing mahasiswa doktoral itu adalah Wang Wenjian, dari Departemen Nefrologi sebuah rumah sakit provinsi. Setelah kejadian tersebut, dosen pembimbing itu disebut hanya mendapat sanksi berupa pencabutan hak untuk menerima mahasiswa baru pada tahun depan.

Foto-foto yang beredar di internet menunjukkan bahwa di bawah gedung telah diletakkan sejumlah karangan bunga sebagai ungkapan belasungkawa.

Warganet berkomentar:

“Kedua orang tuanya sama-sama berada di ICU, tetapi izin hanya diberikan tiga hari. Setiap hari masih harus mengumpulkan data hingga dini hari, kalau tidak selesai tidak diperbolehkan mengajukan proposal, sementara dia juga bekerja di rumah sakit.”

“Adik tingkat ini benar-benar terlalu berat bebannya.”

“WJK ini benar-benar tidak menganggap manusia sebagai manusia.”

Warganet lainnya mengungkapkan keprihatinan:

“Kalau dipikir-pikir, seorang mahasiswa Universitas Kedokteran Selatan yang sudah menghadapi kehidupan begitu sulit, ditambah beban akademik yang berat dan kabar duka, akhirnya karena terlalu terpukul memilih naik ke jendela dan mengakhiri hidupnya.”

Informasi publik menunjukkan bahwa Wang Wenjian merupakan profesor, dokter kepala, serta pembimbing mahasiswa magister di Departemen Nefrologi Rumah Sakit Rakyat Provinsi Guangdong. Ia saat ini menjabat sebagai sekretaris Partai Komunis Tiongkok di Departemen Nefrologi rumah sakit tersebut dan wakil direktur Divisi Nefrologi II. Ia juga menjabat sebagai wakil ketua Komite Pemuda Perhimpunan Nefrologi Guangdong, serta sejumlah posisi lainnya.

Kabar mengenai dosen pembimbing Universitas Kedokteran Selatan yang mengeksploitasi mahasiswa serta memperlakukan mahasiswa secara tidak manusiawi sebelumnya telah memicu kontroversi di internet.

Sebuah percakapan grup yang diduga berasal dari Rumah Sakit Zhujiang, Universitas Kedokteran Selatan, tersebar di internet. Dalam grup tersebut, seorang tenaga medis menulis:

“Kecuali ada orang yang meninggal di keluarga kalian, mulai sekarang jangan meminta izin mendadak kepada saya.”

Dalam tangkapan layar lainnya, tenaga medis yang diduga sama juga menulis di grup pada Juli:

“Tolong jangan sembarangan meminta izin atau menukar jadwal kerja. Terlebih lagi, jadwal kerja tidak mungkin disusun berdasarkan kebutuhan pribadi. Kecuali ada anggota keluarga yang meninggal, pekerjaan penting, atau keadaan darurat khusus yang tidak terduga.”

Dilaporkan berdasarkan berbagai sumber oleh reporter Li Li / Lin Qing

Warga Zhenxiong, Yunnan, Tiongkok Menolak Kremasi Paksa, Puluhan Ribu Orang Mengawal Peti Jenazah ke Gunung untuk Dimakamkan

Pemerintah komunis Tiongkok secara paksa menerapkan kremasi di 14 kecamatan di Kabupaten Zhenxiong, Kota Zhaotong, Provinsi Yunnan, dengan cara-cara yang disebut warga sebagai tindakan sewenang-wenang. Kebijakan tersebut memicu penolakan masyarakat. Pada malam 14 September, lebih dari 10 ribu orang berkumpul di Kecamatan Jianshan dan berhasil mengawal peti jenazah dua lansia ke gunung untuk dimakamkan secara tradisional.

EtIndonesia.com Pada 1 September, Kabupaten Zhenxiong menetapkan 14 kecamatan sebagai wilayah kremasi dan menerapkan kebijakan tersebut secara paksa, sehingga memicu penolakan keras dari masyarakat.

Di Desa Maoba, Kecamatan Yile, seorang remaja berusia 16 tahun bernama He Guoqiang meninggal dunia karena leukemia. Menjelang pemakaman secara tradisional pada 12 September, ribuan warga dari desa-desa dan kecamatan di sekitarnya secara spontan datang untuk mengawal peti jenazah He Guoqiang ke gunung. Pemakaman secara tradisional akhirnya berhasil dilakukan.

Pada malam 14 September, lebih dari 10 ribu orang kembali berkumpul di Kecamatan Jianshan untuk menentang kremasi paksa yang diberlakukan pemerintah. Kali ini mereka mengawal jenazah seorang lansia berusia 93 tahun. Sekitar tengah malam, mereka membawa peti jenazah ke gunung untuk dimakamkan. Setelah itu, warga segera menuju Anjiapo yang berjarak beberapa kilometer untuk kembali mengawal peti jenazah seorang lansia lainnya ke gunung untuk dimakamkan.

“Kami menentang kremasi dan bersikeras melakukan pemakaman secara tradisional. Sebanyak 14 kecamatan di Zhenxiong bersatu. Malam ini kami mengantar dua lansia dari Jianshan dan Anjiapo ke tempat peristirahatan terakhir. Setidaknya ada 20 ribu orang. Banyak yang tidak bisa masuk karena terlalu penuh dan tidak bisa bergerak. Bahkan ada ratusan orang yang datang dari Guizhou,” ujar Wang, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan. 

Warga yang turut hadir dalam aksi penolakan tersebut mengatakan bahwa lokasi dipenuhi lautan manusia hingga sangat padat. Pemerintah setempat mengerahkan ratusan personel kepolisian, tetapi tidak berani mengambil tindakan secara gegabah.

Chen, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Semua orang mengatakan bahwa seseorang harus dimakamkan di dalam tanah agar dapat beristirahat dengan tenang, dan daun yang gugur harus kembali ke akarnya. Selain itu, kebijakan ini sama sekali tidak adil. Zhenxiong memiliki hampir 30 kecamatan, tetapi hanya 14 yang diberlakukan secara paksa. Warga Kabupaten Zhenxiong tidak menyetujuinya. Di lokasi Kecamatan Jianshan, ada lebih dari 10 ribu orang.”

Pada malam 14 September, dua lansia juga dimakamkan di Desa Changhe, Kecamatan Niuchang, serta Desa Zhanmaoying, Subdistrik Wufeng. Masing-masing lokasi didatangi ribuan warga yang secara spontan mengawal peti jenazah ke gunung untuk dimakamkan.

Untuk mencegah pemerintah setempat menggali kembali makam dan mengambil jenazah untuk dikremasi, banyak warga memilih tetap tinggal untuk menjaga makam.

Zhang, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Lansia itu dimakamkan dini hari tadi. Di Zhanmaoying tadi malam, ribuan orang datang untuk mengantarnya. Kami tidak tidur semalaman dan hari ini masih harus datang lagi. Pemerintah sudah keterlaluan. Setelah dimakamkan, mereka bisa menggali kembali makam dan mengkremasikannya. Kami khawatir mereka datang. Masih ada 200 hingga 300 warga setempat yang tetap berada di sini.”

Pada 15 September, seorang lagi warga yang meninggal dunia dimakamkan. Warganet yang peduli menyerukan kepada warga Zhenxiong untuk datang dan menentang penerapan kremasi paksa oleh pemerintah.

Li, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Di Desa Hengdi, Kecamatan Poji, ada seorang gadis berusia 23 tahun. Dia masih sangat muda, tetapi meninggal dunia karena sakit. Semoga kalian semua datang hari ini.”

Laporan gabungan reporter NTD TV Xiong Bin dan Zhou Tian.

Salah Diagnosis, 11 Tahun Jalani Kemoterapi: Wanita Inggris Gugat Setelah Kanker Ternyata Tak Pernah Ada 

EtIndonesia.com Seorang wanita Inggris didiagnosis menderita tumor otak stadium lanjut ketika berusia 21 tahun. Atas anjuran dokter, ia terus mengonsumsi obat kemoterapi selama 11 tahun. Kini ia mengetahui bahwa sebenarnya dirinya tidak pernah menderita kanker, dan telah mengambil langkah hukum.

Menurut laporan BBC Inggris, Becky Jones, yang kini berusia 34 tahun, di diagnosis pada 2012 menderita glioblastoma grade 4, setelah selama beberapa waktu mengalami migrain parah. Glioblastoma merupakan salah satu jenis tumor otak yang paling mematikan.

Jones mengatakan bahwa saat itu ia diberitahu bahwa dirinya hanya memiliki waktu hidup sekitar 6 hingga 12 bulan dan harus mengonsumsi obat kemoterapi bernama temozolomide. Ia diberitahu bahwa jika tidak mengkonsumsi obat tersebut, ia akan meninggal, dan harus terus menggunakannya sepanjang hidupnya.

Menurut pedoman medis nasional Inggris, temozolomide biasanya hanya direkomendasikan untuk digunakan selama sekitar 6 bulan. Namun, Jones terus mengkonsumsinya selama 11 tahun, atau sekitar 156 siklus kemoterapi.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang “sangat mengerikan”. Penggunaan obat dalam jangka panjang membuatnya mengalami berbagai efek samping, termasuk mual, sakit perut, sariawan, dan kelelahan yang ekstrem.

Karena takut terkena infeksi atau keracunan makanan, ia bahkan tidak berani menghadiri acara keluarga. Kehidupan sehari-harinya turut terdampak, termasuk keterbatasan dalam mengemudi.

Baru pada Maret 2024, Becky menerima telepon yang memberitahukan bahwa Profesor Ian Brown, konsultan medis yang sebelumnya menangani pengobatannya, telah pensiun. Setelah itu, ia menghentikan pengobatan kemoterapinya.

Pada tahun berikutnya, setelah dilakukan peninjauan oleh para ahli, Becky diberi tahu bahwa hasil biopsi menunjukkan bahwa ia tidak pernah menderita kanker. Kondisi yang sebenarnya ia alami adalah penyakit demielinisasi yang menyerupai tumor, yaitu peradangan pada otak yang dapat diobati dengan steroid.

Jones mengaku sangat terkejut: “Saya sebenarnya tidak pernah menderita tumor otak. Saya salah didiagnosis, dan menyia-nyiakan separuh hidup saya untuk menjalani pengobatan.”

Dalam wawancara dengan BBC, Becky mengatakan, “Dia pada dasarnya telah menghancurkan hidup saya.”

Lebih dari 40 pasien, termasuk Jones, telah mengajukan gugatan hukum terhadap University Hospitals Coventry and Warwickshire (UHCW) NHS Trust.

Peninjauan awal oleh Royal College of Physicians menunjukkan bahwa Rumah Sakit Coventry dalam jangka panjang membiarkan pasien terus menjalani kemoterapi obat, sementara hanya terdapat sedikit bukti yang menunjukkan bahwa pengobatan tersebut efektif.

Pihak rumah sakit mengatakan bahwa ketika Ian Brown pensiun, seluruh pasien yang sedang menjalani pengobatan temozolomide telah ditinjau oleh dokter klinis senior dan telah dibuatkan rencana perawatan yang sesuai.

Sumber : NTDTV.com