EtIndonesia. Pengadilan Turkiye pada 23 Maret menahan Ekrem Imamoglu, Wali Kota Istanbul, bersama puluhan terdakwa lainnya dengan tuduhan korupsi.
Partai Republik Rakyat (CHP), partai oposisi terbesar di Turkiye tempat Imamoglu bernaung, mengecam penangkapan ini dan menyebutnya sebagai “kudeta politik” yang diatur oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Siapa Ekrem Imamoglu?
Imamoglu terpilih sebagai Wali Kota Istanbul pada tahun 2019 dan berhasil memenangkan pemilihan ulang tahun lalu. Politisi berusia 53 tahun ini menguasai kota terbesar dan pusat ekonomi Turki dengan populasi hampir 16 juta orang, menjadikannya saingan politik utama Erdogan.
Apa Tuduhan Terhadapnya?
Pada 19 Maret, Imamoglu ditangkap dengan tuduhan korupsi dan mendukung organisasi teroris. Tuduhan ini terkait dengan kesepakatan pemilu antara CHP dan partai pro-Kurdi, yang dituduh memiliki hubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK)—organisasi yang dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah Turkiye.
Dokumen pengadilan yang diperoleh AFP pada 23 Maret menyebutkan bahwa Imamoglu ditahan atas tuduhan mendirikan dan memimpin organisasi kriminal, suap, korupsi, pencatatan data pribadi secara ilegal, dan manipulasi tender.
Namun, pengadilan menegaskan bahwa meskipun ada dugaan kuat keterlibatan Imamoglu dalam mendukung organisasi teroris bersenjata, belum ada keputusan penahanan berdasarkan tuduhan tersebut, karena sudah ada penahanan terkait kejahatan finansial.
Imamoglu telah dicopot dari jabatannya sebagai Wali Kota Istanbul dan kini ditahan.
CHP Jadi Target Serangan Politik
Pada 19 Maret, sekitar 90 orang ditangkap, termasuk dua wali kota distrik di Istanbul, yang satu didakwa atas tuduhan korupsi dan lainnya atas tuduhan terorisme.
Keduanya merupakan anggota CHP, partai tertua di Turki yang didirikan oleh pendiri negara Mustafa Kemal Ataturk. CHP memiliki 134 kursi di parlemen, sedangkan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Erdogan memiliki 272 kursi.
Pada pemilu lokal 2024, CHP memenangkan 35 dari 81 provinsi, 11 lebih banyak dari AKP. CHP juga menguasai kota-kota besar, termasuk Ankara, Izmir, Antalya, dan Bursa.
Momen Penangkapan yang Kontroversial
Penangkapan Imamoglu terjadi tepat sebelum dia dijadwalkan diumumkan sebagai calon presiden CHP untuk pemilu 2028.
Beberapa jam sebelum penangkapannya, Universitas Istanbul mencabut gelar akademiknya, yang bisa menjadi hambatan besar dalam pencalonannya. Konstitusi Turki mensyaratkan semua calon presiden harus memiliki gelar pendidikan tinggi.
Pada 2023, Imamoglu pernah dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara karena didakwa menghina anggota Komisi Pemilihan Umum Turki. Hukuman ini membuatnya tidak bisa maju sebagai kandidat oposisi dalam pemilu presiden tahun itu. Saat ini, ia masih mengajukan banding atas vonis tersebut.
Meskipun Imamoglu ditangkap, CHP tetap melanjutkan pemilihan pendahuluan pada 23 Maret. Mereka mengundang seluruh rakyat Turki, termasuk non-anggota partai, untuk berpartisipasi dalam pemungutan suara, menjadikannya semacam referendum nasional.
Menurut Pemerintah Kota Istanbul, 15 juta orang ikut serta dalam pemilihan ini, dengan 13 juta di antaranya bukan anggota CHP.
Demonstrasi Terbesar Sejak tahun 2013
Penangkapan Imamoglu telah memicu gelombang protes terbesar di Turki sejak tahun 2013, ketika rakyat turun ke jalan menentang rencana pemerintah mengubah Taksim Square di Istanbul menjadi pusat perbelanjaan. Protes saat itu menjadi ancaman besar bagi kekuasaan Erdogan.
Pada 21 dan 22 Maret, ratusan ribu orang turun ke jalan di Istanbul. Unjuk rasa besar juga terjadi di Ankara, Izmir, dan kota-kota besar lainnya.
Menurut AFP, demonstrasi terjadi di setidaknya 55 dari 81 provinsi di Turkiye.
Para analis menilai bahwa protes ini tidak hanya berkaitan dengan Imamoglu, tetapi juga merupakan luapan kemarahan rakyat terhadap pemerintahan Erdogan.
Media sosial X melaporkan bahwa pemerintah Turkiye telah meminta mereka menutup lebih dari 700 akun yang terlibat dalam demonstrasi.
Bentrok dengan Aparat
Dalam berbagai aksi protes, demonstran bentrok dengan polisi anti-huru-hara. Aparat keamanan menggunakan semprotan merica, gas air mata, dan meriam air untuk membubarkan massa.
Di Ankara, polisi menggunakan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan pengunjuk rasa yang menuntut pembebasan Imamoglu. (hui)
Sumber: AFP, Central News Agency via NTDTV.com