Amerika Membalas: Trump Luncurkan ‘Tarif Imbal Balik’

Philip Wegmann

Richard Nixon mengakhiri Standar Emas, Bill Clinton meratifikasi NAFTA (North American Free Trade Agreement), dan Donald Trump—tak kalah ambisius dalam tujuannya—pada 2 April 2025 mengumumkan serangkaian tarif balasan besar-besaran yang dirancang untuk menata ulang sistem perdagangan global yang dibentuk pasca Perang Dunia Kedua.

Presiden memulai dengan melukiskan gambaran kehancuran Amerika di Rose Garden dan mengulang tema utama dalam satu dekade karier politiknya. Ia mengatakan bahwa negara telah “dijarah, dirampok, diperkosa, dan dijungkirbalikkan” oleh para mitra dagang, baik lawan maupun sekutu. “Wajib pajak telah dicurangi selama lebih dari 50 tahun,” katanya kepada kerumunan di Gedung Putih yang mencakup anggota kabinet dan serikat pekerja yang mengenakan helm proyek. “Tapi itu tidak akan terjadi lagi.”

Lalu, disajikanlah grafik berwarna, sebagai taruhan bahwa tarif ini akan membawa hasil—dan pada akhirnya menjadi Legacy masa jabatan keduanya.

Pemerintahan Trump akan memberlakukan tarif sebesar 10 persen untuk semua impor secara umum, namun tarif individu yang lebih tinggi akan dikenakan kepada negara-negara yang dianggap sangat tidak adil dalam praktik perdagangannya terhadap Amerika Serikat. Sebelumnya, ia sudah menjanjikan bahwa “Imbal balik” atau resiprokal adalah istilah yang digunakan secara harfiah. 

“Berapa pun mereka kenakan ke kita,” kata Trump pada Februari mengenai kebijakan perdagangan yang akan datang, “kita akan kenakan hal yang sama ke mereka.” Sebelum acara dimulai, seorang pejabat senior Gedung Putih menjelaskan perhitungan baru ini kepada wartawan, “Karena presiden baik hati terhadap dunia, kita hanya mengenakan setengahnya.”

Trump mengungkap tarif baru ini—dihitung bukan hanya berdasarkan tarif yang dikenakan negara lain atas barang AS, tetapi juga manipulasi mata uang dan hambatan perdagangan lainnya—dalam grafik biru, putih, dan kuning yang menyebabkan pasar saham Wall Street anjlok.

Tidak ada yang luput, baik lawan maupun sekutu. Karena Tiongkok mengenakan tarif sebesar 67 persen, maka AS akan mengenakan “tarif timbal balik yang didiskon” sebesar 34 persen, menurut jadwal baru yang dipegang presiden. Demikian pula, karena Uni Eropa mengenakan tarif 39 persen, pemerintahnya akan mengenakan tarif 20 persen. Pemerintah merilis daftar lengkap tarif saat Trump menandatangani perintah eksekutif berdasarkan International Emergency Economic Powers Act tahun 1977.

“Defisit perdagangan kronis tidak lagi hanya menjadi masalah ekonomi,” kata Trump. “Ini adalah keadaan darurat nasional yang mengancam keamanan dan cara hidup kita.” Mengenai tarif individu, ia menambahkan, “Sungguh mencengangkan seberapa tinggi angka yang harus dikenakan untuk menghentikan kecurangan.”

Secara umum, para ekonom berpendapat bahwa tarif pada dasarnya adalah pajak, karena produsen akan meneruskan biaya tersebut ke konsumen. “Tarif Trump akan menyebabkan harga naik dan jumlah barang yang tersedia di AS berkurang. Semakin tinggi dan luas tarifnya, semakin besar pengurangan barang dan semakin besar kenaikan harga,” kata Norbert Michel dari CATO Institute, yang memperkirakan kemungkinan inflasi, sebuah masalah yang katanya “sangat sulit untuk diatasi oleh The Fed.”

Pandangan ini secara umum dipegang oleh pemerintahan dari George H.W. Bush hingga Barack Obama. Namun Trump menolak ortodoksi itu dan memilih mengikuti instingnya sendiri.

Meskipun kebijakan perdagangan ini luas, namun seharusnya tidak mengejutkan bagi siapa pun yang telah mendengarkan dan memahami janji-janji Trump—bukan hanya sejak ia masuk politik, tetapi sepanjang kariernya. 

“Mereka datang ke sini, mereka jual mobil, VCR mereka, dan mereka menghancurkan perusahaan-perusahaan kita,” kata Trump muda mengenai defisit perdagangan yang saat itu dijalankan AS dengan Kuwait dan Jepang dalam penampilannya di acara Oprah Winfrey tahun 1988. “Mereka sedang menghabisi negara kita.” Gedung Putih kembali menampilkan dan membagikan klip tersebut pada  Rabu. “Presiden Trump telah menyuarakan hal ini selama puluhan tahun,” tulis Wakil Presiden J.D. Vance di X.

Republikan di Gedung Putih saat ini sangat berbeda dari para pemimpin Partai Republik sebelumnya yang jauh lebih bersahabat dengan Wall Street. Menteri Keuangan Scott Bessent menjadi berita utama ketika ia mengatakan kepada investor bahwa “akses terhadap barang murah bukanlah esensi dari Mimpi Amerika,” begitu pula dengan Menteri Perdagangan Howard Lutnick ketika ia mengatakan bahwa naik turunnya pasar saham “setengah persen dalam sehari bukanlah faktor utama dari hasil kita.” Sebaliknya, fokus mereka adalah pada “berkembangnya” industri Amerika.

Meski terasa seperti perubahan suasana, sentimen ini tidak sepenuhnya asing di kalangan konservatif. Trump adalah yang pertama menerapkan kebijakan proteksionis dalam skala sebesar ini, namun para pendukungnya bersikeras bahwa dia hanya menggali dari sumur yang telah lama ada.

“Bagi saya, negara datang sebelum ekonomi; dan ekonomi ada untuk rakyat. Saya percaya pada pasar bebas, tetapi saya tidak menyembahnya. Dalam hierarki yang benar, pasar harus diarahkan untuk melayani manusia—bukan sebaliknya,” tulis Pat Buchanan, komentator sayap kanan, mantan penasihat presiden, dan mantan calon presiden, pada tahun 1998.

Senator Eric Schmitt bisa saja mengutip Buchanan  Rabu ketika senator dari Missouri dan sekutu dekat Trump itu mengatakan, “Amerika bukan zona ekonomi. Ini bukan pusat perbelanjaan dengan bandara. Ini adalah sebuah negara. Ini adalah rakyat. Ini adalah rumah kita.”

Trump telah lama menyuarakan argumen seperti itu, dan ia mendapat poin konsistensi dari para pendukungnya. Pertanyaannya adalah apakah kebijakan perdagangannya dapat menghadirkan ekonomi yang melesat seperti yang dijanjikan dalam kampanyenya. Sebelum pengumuman, seorang pejabat Gedung Putih menggambarkan tarif timbal balik sebagai “aturan emas untuk era emas baru.” Wall Street mungkin menganggapnya sebagai resep menuju resesi.

Analis di Goldman Sachs menaikkan peluang terjadinya perlambatan ekonomi dari 20 persen dalam proyeksi sebelumnya menjadi lebih dari sepertiga, yakni 35 persen, menjelang pengumuman tersebut, mengutip dampak tarif terhadap belanja konsumen dan pasar keuangan. Trump mengatakan bahwa para peragu tidak dapat dipercaya: “Mereka salah soal NAFTA. Mereka salah soal Tiongkok. Mereka salah soal Kemitraan Trans-Pasifik.” Bahkan, “setiap prediksi tentang perdagangan selama 30 tahun terakhir” yang dibuat oleh sekelompok “globalis” yang tidak disebutkan namanya, menurutnya, “telah terbukti salah.”

Presiden bersumpah bahwa kebijakan perdagangan baru ini akan membawa kembali lapangan kerja, menjadikan “Amerika makmur kembali,” dan Gedung Putih menyebut acara ini sebagai “Hari Pembebasan,” mengundang tamu kehormatan yang mencakup para pekerja kerah biru dan anggota Kongres.

Ini adalah, tanpa diragukan, perubahan kebijakan perdagangan paling signifikan dalam beberapa dekade, jika tidak lebih. Apakah Amerika akan jatuh ke dalam resesi atau bangkit menuju era keemasan seperti yang dijanjikan, tarif ini akan menjadi Legacynya. Selain seorang pekerja otomotif dari Detroit, presiden berdiri sendirian di panggung Gedung Putih.

“Ini akan menjadi momen besar,” prediksi presiden. “Saya pikir kalian akan mengingat hari ini. Kita akan berurusan dengan negara yang benar-benar merdeka. Kita akan punya bangsa yang sangat bebas dan indah. Ini akan menjadi Hari Pembebasan di Amerika, dan mudah-mudahan, suatu hari nanti kalian akan melihat ke belakang dan berkata, kalian tahu, dia benar.”

Dari RealClearWire

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak serta-merta mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Philip Wegmann adalah koresponden Gedung Putih untuk Real Clear Politics. Sebelumnya ia menulis untuk The Washington Examiner dan telah melakukan peliputan investigatif terkait korupsi kongres dan penyimpangan institusional.

FOKUS DUNIA

NEWS