Tarif AS Memicu Negosiasi saat Vietnam Berjanji Akan Menurunkan Tarif ke Nol

Pemerintahan Trump memberlakukan tarif sebesar 46 persen terhadap barang-barang asal Vietnam minggu ini.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada  Jumat 3 April 2025 mengisyaratkan bahwa negosiasi telah dimulai terkait berbagai tarif yang diumumkan minggu ini, dengan menyatakan bahwa setidaknya satu negara akan menurunkan tarif atas impor dari AS menjadi “nol.”

“Saya baru saja melakukan panggilan yang sangat produktif dengan To Lam, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, yang mengatakan kepada saya bahwa Vietnam ingin menurunkan tarif mereka menjadi NOL jika mereka bisa mencapai kesepakatan dengan AS. Saya mengucapkan terima kasih atas nama negara kami dan mengatakan saya menantikan pertemuan dalam waktu dekat,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform media sosial Truth Social pada  Jumat.

Kantor Wakil Perdana Menteri Vietnam, Ho Duc Phoc, dalam sebuah pernyataan pada  Jumat mengatakan bahwa Vietnam akan terus mendorong peningkatan pembelian dari Amerika Serikat dan akan mengadakan pertemuan untuk membahas bagaimana menangani tarif baru dari AS.

Negara tersebut juga “mengusulkan agar pihak AS menunda sementara penerapan tarif timbal balik terhadap barang-barang Vietnam selama 1–3 bulan guna bernegosiasi, dalam semangat menjunjung keadilan dan manfaat bersama,” demikian bunyi pernyataan itu, menurut terjemahan dalam bahasa Inggris.

Pemerintah Vietnam juga meminta agar pelaku usaha Vietnam yang mengekspor ke AS tetap mempertahankan harga produk mereka sambil menunggu negosiasi bilateral antara AS dan Vietnam. Para pelaku usaha disarankan untuk menggunakan “solusi yang tepat dan efektif” demi mempertahankan status quo, menurut pernyataan tersebut.

Terkait komentar Trump di Truth Social, pejabat Vietnam belum memberikan tanggapan resmi. The Epoch Times telah menghubungi Kementerian Luar Negeri Vietnam untuk memberikan komentar.

Minggu ini, Trump memberlakukan tarif sebesar 46 persen terhadap impor dari Vietnam, sementara negara-negara Asia Tenggara lainnya menghadapi tarif antara 32 persen hingga 49 persen. Sebagai perbandingan, tarif terhadap Uni Eropa sebesar 20 persen, Jepang 24 persen, dan India 27 persen.

Tetangga Vietnam di utara, yaitu Tiongkok, menghadapi tarif sebesar 54 persen untuk beberapa barang. Pada  Jumat, rezim Tiongkok mengumumkan akan memberlakukan tarif balasan sebesar 34 persen terhadap impor dari AS.

Trump berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One pada Kamis dan menyatakan bahwa ia terbuka untuk bernegosiasi dengan negara-negara terkait tarif yang baru diumumkan. Ia mengatakan bahwa tarif baru ini “memberi kita kekuatan besar untuk bernegosiasi.”

“Semua negara telah menghubungi kami,” kata Trump, merujuk pada respons internasional terhadap tarif tersebut, seraya menambahkan bahwa tarif baru itu menempatkan Amerika Serikat “di kursi pengemudi.”

Saat ditanya apakah ia terbuka untuk membuat kesepakatan, Trump menjawab, “Tergantung. Jika seseorang mengatakan bahwa mereka akan memberi kita sesuatu yang luar biasa, selama mereka memberi kita sesuatu, itu bagus,” sambil menyiratkan adanya pertukaran dalam kesepakatan.

Presiden juga menyinggung TikTok sebagai contoh.

“Tiongkok mungkin akan berkata, ‘Kami akan menyetujui kesepakatan, tapi apakah kalian bisa melakukan sesuatu terkait tarif?’” ujar Trump kepada wartawan.

Pada  Kamis, penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan kepada Fox News bahwa tarif besar-besaran yang diumumkan pada  Rabu “bukan untuk negosiasi” melainkan “merupakan keadaan darurat nasional terkait defisit perdagangan kronis dan besar yang disebabkan oleh tarif dan hambatan non-tarif yang tinggi.”

Hambatan non-tarif tersebut termasuk manipulasi mata uang, distorsi pajak PPN, subsidi ekspor, praktik dumping, pemalsuan, pembajakan, serta pencurian kekayaan intelektual, kata Navarro.

Defisit perdagangan yang terjadi akibat hal tersebut pada akhirnya “mengambil pekerjaan kita, mengambil pabrik kita,” dan “mengakibatkan transfer kekayaan besar-besaran ke tangan asing yang membahayakan basis manufaktur dan industri pertahanan kita,” ujar Navarro.

Putra kedua Trump, Eric Trump, menyarankan bahwa negara-negara yang ingin bernegosiasi dengan Trump terkait tarif sebaiknya segera melakukannya.

“Saya tidak ingin menjadi negara terakhir yang mencoba bernegosiasi soal perdagangan dengan [Trump]. Negara pertama yang bernegosiasi akan menang… yang terakhir pasti akan kalah. Saya sudah melihat film ini sepanjang hidup saya,” tulisnya pada 3 April di platform media sosial X.

Di tengah berita tarif tersebut, Indeks Dow Jones Industrial mengalami penurunan sekitar 1.600 poin pada  Kamis. Hingga Jumat siang, indeks tersebut turun lebih dari 1.200 poin.

Sumber : Theepochtimes.com

FOKUS DUNIA

NEWS