Tarif dasar ini akan memengaruhi sekitar $3 triliun barang impor
EtIndonesia. Bagian pertama dari agenda tarif besar-besaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai berlaku pada pukul 00 :01 pada 5 April 2025. Tarif universal dasar sebesar 10 persen kini berlaku untuk semua impor, tanpa memandang asal negara, naik dari tarif rata-rata saat ini sekitar 2,5 persen.
Kebijakan Gedung Putih ini akan berdampak pada barang impor Amerika Serikat senilai $3 triliun setiap tahunnya.
Trump mengungkapkan rincian rencana tarifnya saat acara “Make America Wealthy Again” di Rose Garden Gedung Putih pada 2 April, dengan janji untuk membalikkan defisit perdagangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun serta praktik perdagangan global yang dianggap tidak adil.
“Selama beberapa dekade, negara kita telah dijarah dan dirampok oleh negara-negara di dekat maupun jauh, baik kawan maupun lawan,” ujar Trump dalam pidatonya di hadapan para pekerja otomotif, pengrajin, petani, buruh baja, dan anggota kabinetnya.
“Mereka menyaksikan dengan sedih ketika para pemimpin asing mencuri pekerjaan kita, para penipu asing mengacak-acak pabrik kita, dan para penghisap asing merobek impian indah Amerika kita.”
Trump menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional tahun 1977, yang memberikan wewenang kepada presiden untuk memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap negara asing. Undang-undang ini, yang upaya pencabutannya oleh Demokrat di Senat gagal dalam pemungutan suara simbolik minggu ini, sebagian besar digunakan untuk memberlakukan tarif.
Bagian kedua dari kebijakan ini meliputi tarif timbal balik yang lebih tinggi terhadap negara-negara yang memiliki defisit perdagangan yang konsisten dengan AS, serta penerapan hambatan perdagangan moneter dan non-moneter yang lebih ketat. Tarif impor ini dapat mencapai 50 persen, dan diberlakukan pada beberapa negara, termasuk Vietnam (46 persen), Tiongkok (34 persen), Taiwan (32 persen), India (26 persen), dan Jepang (24 persen).
“Negara kita dan para pembayar pajaknya telah dirugikan selama lebih dari 50 tahun, tetapi hal itu tidak akan terjadi lagi,” kata Trump.
Beberapa barang tertentu seperti mobil, aluminium, dan baja akan dikecualikan dari rezim tarif baru ini karena sudah dikenai tarif berdasarkan Pasal 232.
Kementerian Keuangan Tiongkok mengonfirmasi bahwa mereka akan memberlakukan tarif balasan sebesar 34 persen terhadap barang-barang AS yang masuk ke ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, mulai 10 April.
“Tiongkok mendesak Amerika Serikat untuk segera membatalkan langkah tarif sepihaknya dan menyelesaikan perbedaan perdagangan melalui konsultasi yang setara, saling menghormati, dan saling menguntungkan,” ujar kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Menanggapi tarif balasan dari Beijing, Trump menulis di Truth Social bahwa rezim Tiongkok “panik” dan melakukan “hal yang tidak mampu mereka tanggung.” Negara-negara lain, termasuk Uni Eropa dan Kanada, juga berjanji akan mengambil tindakan balasan.
Dua negara yang secara mencolok tidak termasuk dalam daftar tarif baru ini adalah Kanada dan Meksiko. Tetangga Amerika di Amerika Utara ini masih akan menghadapi rezim tarif 25 persen yang sebelumnya telah diberlakukan, berkaitan dengan isu perdagangan narkoba ilegal dan imigrasi gelap.
Menurut The Tax Foundation, rata-rata tarif atas seluruh barang impor bisa naik menjadi 16,5 persen, yang merupakan tingkat tertinggi sejak tahun 1937. Ekonom Goldman Sachs memperkirakan tarif efektif akan mencapai 18,3 persen, sedikit lebih tinggi dari proyeksi awal.
“Negosiasi dengan mitra dagang akan menghasilkan tarif ‘timbal balik’ yang sedikit lebih rendah dari yang diumumkan minggu ini,” tulis para ekonom Goldman dalam catatan kepada The Epoch Times.
“Namun, prospek eskalasi akibat tarif balasan dan kemungkinan tinggi adanya tarif sektoral tambahan menunjukkan bahwa tarif efektif AS bisa naik lebih dari 15 persen seperti yang sebelumnya kami perkirakan.”
Sementara Trump telah merealisasikan kebijakan tarif besar—yang sebelumnya ia singgung pada Februari—Gedung Putih memberi sinyal bahwa akan ada lagi tarif baru yang diberlakukan. Pejabat senior administrasi mengatakan bahwa Trump siap memberlakukan tarif terhadap kayu, farmasi, dan semikonduktor.
Pejabat dari Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) baru-baru ini menyatakan bahwa tarif AS akan paling merugikan kelompok rentan dan masyarakat miskin.
“Perdagangan tidak boleh menjadi sumber ketidakstabilan baru. Perdagangan seharusnya mendorong pembangunan dan pertumbuhan global,” kata Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan, seraya menambahkan bahwa iklim global saat ini memerlukan kerja sama, “bukan eskalasi.”
Wall Street Gelisah
Sejak pengumuman tarif dari presiden, pasar keuangan mengalami gejolak, dengan salah satu indeks memasuki wilayah pasar bearish.
Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 2.200 poin pada akhir minggu perdagangan yang penuh gejolak. S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun hampir 6 persen pada sesi perdagangan 4 April. Indeks Russell 2000, yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil, anjlok lebih dari 4 persen dan resmi masuk ke pasar bearish—istilah untuk penurunan harga lebih dari 20 persen dari titik tertinggi baru-baru ini.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun karena investor mencari perlindungan dalam aset aman. Imbal hasil obligasi 10-tahun turun menjadi 4 persen, terendah sejak Oktober.
“Pemberlakuan tarif baru oleh Presiden Trump telah meningkatkan ketidakpastian di pasar global, secara tajam memengaruhi sektor dan perusahaan yang sangat bergantung pada perdagangan internasional dan rantai pasok kompleks,” kata Matt Burdett, kepala ekuitas di Thornburg Investment Management, dalam catatan kepada The Epoch Times. Menurutnya, ini kemungkinan hanyalah awal dari negosiasi yang lebih luas, bukan akhir dari kebijakan yang definitif.
Saat berbicara kepada wartawan di Air Force One pada 3 April, Trump menyatakan bahwa tarif telah menempatkan Amerika Serikat di posisi tawar yang kuat.
“Tarif memberi kita kekuatan besar untuk bernegosiasi. Setiap negara sudah menelepon kita,” ujar Trump.
“Kalau mereka bilang akan memberi kita sesuatu yang luar biasa, selama itu bagus buat kita, ya kita setuju.”
Menurut Trump, ia telah berbicara dengan To Lam, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam. Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa pemerintah Vietnam ingin menurunkan tarif terhadap barang-barang AS menjadi nol jika mereka bisa mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Trump juga menyatakan bahwa korporasi besar Amerika tidak khawatir soal tarif.
“Bisnis besar tidak khawatir dengan tarif, karena mereka tahu tarif ini akan tetap ada, tapi mereka fokus pada kesepakatan besar nan indah yang akan mendorong ekonomi kita. Sangat penting. Sedang berlangsung sekarang!” katanya dalam unggahan di Truth Social pada 4 April.
Sumber : Theepochtimes.com